01 Kisah Si Bangau Putih

Serial Bu Kek Sian Su (14)
Karya : Asmaraman S.Kho Ping Hoo
Sumber : http://goldyoceanta.wordpress.com/

Bagi mereka yang bukan pedagang keliling dan yang tidak pernah melakukan perjalanan melintasi Tembok Besar, tentu mengira bahwa kekuasaan Kerajaan Ceng yang dipegang oleh bangsa Mancu tentu berhenti sampai di Tembok Besar itu.Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian. Bangsa Mancu sendiri merupakan bangsa yang tinggal jauh di utara yang amat dingin, daerah yang keras dan kejam, dan di luar Tembok Besar masih terdapat daerah yang amat luas. Masih ada Propinsi Liaoning dan Jilin yang berbatasan dengan Korea, daerah Mancuria sendiri yang luas, kemudian terdapat daerah Mongolia Dalam atau Mongol, dan daerah Mongolia yang lebih luas.

Akan tetapi, setelah melewati Tembok Besar memang daerah yang liar dan kejam, dengan tak terhitung banyaknyabukit diantara padang pasir yang luas dan merupakan lautan pasir yang ganas.

Padang pasir seperti ini memangganas dan kadang-kadang kejam sekali. Dari tulang-tulang kuda, onta, bahkan manusia yang terdapat berserakan disana-sini dapat diketahui bahwa lautan pasir itu sudahbanyak menelan korban. Mayat manusia dan bangkai binatang yang tewas dalam perjalanan melintasi lautan pasir, dibiarkan saja berserakan, membusuk dimakan terik panas matahari, atau digerogoti anjing-anjing serigala dan binatang buas lainnya, dibiarkan tinggal tulang-tulangnya saja yang lama-lama mengering.

Lautan pasir yang kelihatan tak bertepi itu, memang kejam, juga mengandung kesunyian yang mendatangkan suasana yang menyeramkan dan penuh keajaiban. Bayangkan saja betapa mengerikan tersesat di lautan pasir seperti itu, dimana tidak dapat ditemukan setetes pun air, sebatang rumput pasir dan pasir di mana-mana, panas dan silau, tidak diketahui lagi mana utara mana selatan. Belum lagi kalau datang badai yang membuat pasir bergulung-gulung dan berombak seperti air di lautan, menelan apa saja yang menghalang di depan. Para pedagang, yang melakukan perjalanan kemudian tersesat, kehabisan air minum, kelelahan dan terjebak dalam lautan pasir tanpa mengetahui ke arah mana mereka harus menuju, saking takut dan ngerinya, banyak di antara mereka yang dapat melihat pemandangan-pemandangan khayal yang aneh-aneh. Ada yang melihat air terjun dengan air yang melimpah-limpah dan segar sejuk, akan tetapi ketika mereka menghampiri, yang ada hanya pasir belaka! Ada yang melihat anak sungai dengan airnya yang segar, atau melihat kebun dengan pohon-pohon menghijau dan buah-buah yang sudah masak, dan sebagainya. Namun, semua itu hanyalah bayangan khayal belaka, yang timbul karena besarnya keinginan hati mereka mengharapkan air, pohon dan sebagainya yang amat mereka butuhkan itu.

Di tengah-tengah satu di antara padang-padang pasir yang amat luas itu, terdapat sebuah gedung istana kuno, lengkap dengan perkebunan yang cukup luas, dengan pohon-pohon buah yang subur, dan sayur-sayuran, bahkan tumbuh pula gandum di ladang. Terdapat pula sumber air tak jauh dari istana kuno itu. Sungguh merupakan suatu keadaan yang ajaib, dan andaikata ada orang tersesat sampai ke daerah itu lalu melihat bangunan istana berikut perkebunannya yang subur itu, tentu dia akan mengira bahwa diapun hanya melihat pemandangan khayal belaka.

Akan tetapi tidaklah demikian sesungguhnya. Bangunan itu memang sebuah bangunan istana yang besar, pernah dijaman dahulu bangunan ini merupakan istana peristirahatan dari seorang raja-diraja, seorang kaisar besar yang bukan lain adalah Kaisar Jenghis Khan dari Kerajaan Mongol. Akan tetapi, puluhan tahun yang lalu, istana itu dihuni oleh seorang sakti yang aneh, yang di dunia persilatan tingkat tinggi dikenal sebagai tokoh dongeng yang bernama Dewa Bongkok. Nama Dewa Bongkok yang menjadi penghuni Istana Gurun Pasir ini tidak kalah terkenalnya dan dianggap sebagai setengah dongeng saja, seperti halnya Pendekar Super Sakti penghuni Pulau Es!. Setelah Dewa Bongkok meninggal dunia, kini yang menjadi penghuni istana GurunPasir itu adalah muridnya yang bernama Kao Kok Cu, yang di dunia persilatan dikenal sebagai Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!

Nama besar Pendekar Naga Sakti ini pernah menggemparkan dunia persilatan, dan dia tidak kalah terkenalnya dibandingkan mendiang gurunya. Kini Kao Kok Cu telah menjadi seorang kakek yang tua renta, tinggal di dalam istana kuno itu berdua saja dengan isterinya. Isterinya bukan wanita sembarangan, melainkan seorang pendekar wanita yang juga pernah menggemparkan dunia persilatan. Namanya Wan Ceng, ketika kecil pernah tinggal di Kerajaan Bhutan, jauh di barat bahkan menjadi saudara angkat Puteri Syanti Dewi dari Bhutan sehingga ia memperoleh nama julukan Candra Dewi. Wan Ceng juga memiliki kesaktian dan kini ia dalam usia tujuh puluhdua tahun tinggal bersama suaminya di Istana Gurun Pasir. Mereka berdua hidup disitu tanpa pelayan hanya berdua saja, mengerjakan ladang dankebun sendiri yang hasilnya jauh lebih daripada cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Sebagian besar dari waktu luang mereka dipergunakan untuk bersamadhi dan bertapa.

Keadaan sepasang suami isteri ini tidak dapat disamakan dengan keadaan para pertapa yang sengaja mengasingkan diri dari dunia ramai, pergi bertapa dengan suatu pamrih tertentu. Orang pergi meninggalkan dunia ramai untuk bertapadi puncak bukit yang sunyi, di dalam gua yang sederhana, hanya mengenakan cawatsaja, hanya makan seadanya, menyiksa diri menahan haus dan lapar, tentu mempunyai suatu tujuan tertentu. Tujuan inilah pamrih, dan semua pamrih, baik yang terbuka maupun terselubung, selalu tentu menjangkau suatu keadaan yang menyenangkan. Biarpun pamrih mendapatkan keadaan yang menyenangkan ini diperhalus dengan sebutan muluk tetap saja merupakan pamrih demi kesenangan diri. Mungkin dia akan mengatakan bahwadia bertapa untuk mencari kebahagiaan mencari kesempurnaan hidup, mencariTuhan, dan sebagainya lagi. Namun pencariannya itu sendiri membuktikan bahwa dia menginginkan sesuatu yang dianggapnya akan mendatangkan kesenangan dalam bentuk kedamaian, kebahagiaan, dan lain sebutan lagi.

Sepasang suami isteri itu tidak mencariapa-apa.Istana Gurun Pasir itu memang milik mereka, peninggalan dari Dewa Bongkok kepada muridnya, yaitu kakek Kao Kok Cu. Mereka berdua memang senang tinggal di tempat sunyi itu,bukan untuk mencari sesuatu atau menjadikan tempat yang sunyi itu sebagai pelarian dari dunia ramai. Sama sekali tidak. Mereka memang merasa senang tinggal di tempat yang penuh keheningan itu dan merasa berbahagia.

Akan tetapi, pada hari itu, Istana Gurun Pasir tidaklah setenang biasanya. Dari dalam gedung istana tua itu kini terdengar suara gelak tawa dan percakapan yang diselingi suara ketawa gembira. Kiranya suami isteri tua itu kedatangan seorang tamu yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka. Tamu itu bukan orang asing. Dia seorang hwesio yang bernama Tiong Khi Hwesio, usianya juga sudah tujuh puluh dua tahun dan tentu saja kunjungan hwesio ini disambut gembira oleh kakek dan nenek itu, terutama sekali nenek itu karena hwesio ini bukan lain adalah saudara tirinya sendiri, seayah berlainan ibu. Diwaktu mudanya, Tiong Khi Hwesio juga seorang pendekar sakti yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dengan julukannya yang mengerikan, yaitu Si Jari Maut! Dia menikah dengan Syanti Dewi, puteri Kerajaan Bhutan dan sampai tua dia tinggal di kerajaan kecil itu. Setelah isterinya meninggal dunia, dia hampir gila karena duka. Akan tetapi, pertemuannya dengan seorang pendeta tua menyadarkannya dan mulai saat itu, Wan Tek Hoat, demikian namanya, lalu menggundul rambut kepala dan mengenakan jubah, menjadi seorang hwesio yang berkelana.

Mereka bertiga bercakap-cakap sambil makan sederhana dengan sayur segar yang dimasak sendiri oleh nenek Wan Ceng. Kemudian mereka bertiga keluar dari istana itu dan duduk di serambi depan sambil bercakap-cakap. Kao KokCu yang dahulu berjuluk Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu, biarpun usianya sudah hampir delapan puluh tahun masih nampak gagah penuh semangat.

Lengan kirinya yang buntung itu tidak membuat dia kelihatan mengerikan, bahkan membuatnya nampak lebih berwibawa. Wajahnya yang tampan membayangkan kelembutan, sinar matanya mencorong seperti mata naga namun juga membayangkan kelembutan dan kesabaran. Melihat sepintas lalu, takkan ada orang mengira bahwa kakek tua renta yang lengan kirinya buntung ini memiliki kesaktian yang amat hebat. Dua macam ilmu simpanannya, yaitu Sin-liong Hok-te, pasangan kuda-kuda yang membuat tubuhnya seperti mendekam di atas tanah bagaikan seekor naga, kemudian dapat menimbulkan tenaga dahsyat yang mujijat, dan Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat, jarang dapat ditandingi didunia persilatan.

Isterinya, nenek Wan Ceng, biarpun usianya juga sudah tua sekali, masih nampak sehat. Mukanya tidak penuh keriput dan kulit muka itu masih halus kemerahan saking sehatnya, walaupun giginya telah ompong dan rambut di kepala telah putih semua. Nenek ini pun memiliki ilmu simpanan yang khas, yaitu Ban-tok-ciang, dan kalau ia sudah mengerahkan tenaga memainkan ilmu silat ini, kedua tangannya mengandung selaksa racun (ban-tok) yang amat dahsyat dan berbahaya bagi lawan. Juga pedangnya, Ban-tok-kiam, merupakan pusaka yang mengerikan. Adapun tamu itu Tiong Khi Hwesio, biarpun sudah setua nenek itu, namun tubuhnya masih tegap, jalannya masih tegak. Jubahnya kuning bersih, matanya tajam berkilat dan mulutnya selalu tersenyum sinis. Kakek yang pernah berjuluk Toat-beng-ci (Si Jari Maut) ini memiliki berbagai ilmu silat simpanan seperti Pat-mo Sin-kun, Pat-sian Sin-kun, dan memiliki ilmu sin-kang (tenaga sakti) yang diberi nama Tenaga Inti Bumi. Juga pedangnya, Cui-beng-kiam, merupakan sebuah pedang pusaka yang ampuh sekali.

Sebetulnya baru beberapa bulan yang lalu, Tiong Khi Hwesio berjumpa dengan kakek dan nenek itu ketika mereka semua menghadiri pernikahan Pendekar Suling Naga, yang bernama Sim Houw, dengan Can Bi Lan, gadis yang pernah mendapat bimbingan ilmu silat dalam waktu singkat dari kakek dan nenek ini sehingga dapat dibilang gadis itu murid mereka. Pernikahan itu diadakan di rumah Pendekar Kao Cin Liong, putera tunggal suami isteri dari Istana Gurun Pasir ini. Akan tetapi karena pertemuan itu terjadi dalam sebuah pesta di mana hadir banyak tamu, mereka merasa kurang leluasa bercakap-cakap. Siapa kira, tahu-tahu kini hwesio tua itu muncul di istana mereka, tentu saja kakek dan nenek itu menjadi gembira bukan main.

"Tek Hoat, sungguh aku girang bukan main bahwa engkau sudi datang berkunjung kepada kami. Pertemuan dalam usia yang amat tua ini sungguh mendatangkan kenangan ketika masih muda, dan menggembirakan sekali. Terima kasih, TekHoat."Nenek itu memang selalu menyebut saudara tirinya dengan nama kecilnya saja, tidak peduli bahwa kini saudara tirinya itu telah menjadi seorang hwesiotua, seorang pendeta!

Tiong Khi Hwesio tertawa bergelak."Ha-ha-ha, bertemu dan bercakap-cakapdenganmu membuat orang sama sekalilupa bahwa dia telah menjadi tua bangka, Wan Ceng. Sikap dan kata-katamu seolah-olah tak pernah berubah, aku melihatmu seperti melihat engkau ketikamasih gadis, ha-ha-ha!"

Kao Kok Cu, juga ikut tersenyum kemudian dia yang biasa bersikap serius, berkata dengan halus namun meyakinkan, "Memang, waktu berjalan dengan cepatnya dan tahu-tahu kita semua telah menjadi tua, sudah masak untuk meninggalkan dunia ini. Akan tetapi, pernahkah kita menyelidiki pada diri sendiri, kebaikan dan kegunaan apa saja yang pernah kita lakukan untuk mengisi kehidupan kita yang tidak berapa panjang ini?"

Ucapan ini membuat Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio termenung sampai beberapa lamanya. Mereka terbenam dalam lamunan masing-masing. Kemudian Tiong Khi Hwesio berkata. "Omitohud     Kao-taihap, ucapanmu itu menggugah semua kenangan lama dan pinceng melihat betapa selama hidup pinceng itu, jauh lebih banyak dukanya daripada sukanya dan jauh lebih banyak buruknya daripada baiknya perbuatan pinceng. Perbuatan buruk itu pinceng lakukan karena dorongan nafsu, sedangkan perbuatan baikpun menyembunyikan pamrih demi keuntungan diri pribadi. Omitohud, kalau dikaji benar, tidak ada baiknya perbuatan pinceng"   

"Aih, jangan kau berkata demikian, Tek Hoat. Aku tahu bahwa apa pun yang terjadi, engkau berjiwa pendekar yang gagah perkasa. Kalau tidak demikian, mana mungkin enci Syanti Dewi sampai tergila-gila dan jatuh cinta kepadamu? Engkau terlalu merendahkan diri sendiri," kata Wan Ceng. "Banyak sudah kegagahan kaulakukan karena memang watakmu yang gagah perkasa, seperti seorang pendekar sejati, tanpa pamrih."

"Tapi....tapi....kalau pinceng ingat sekarang, semua perbuatan itu pinceng lakukan demi cinta pinceng kepada mendiang isteriku, Syanti Dewi. Andaikata tidak ada Syanti Dewi, tidak ada cintaku terhadapnya....ah, tidak tahulah aku, apa yang akan terjadi dengan diriku...."Tiong Khi Hwesio nampak termangu.

Kao Kok Cu menarik napas panjang. "Memang demikianlah keadaannya. Kita tidak pernah bebas. Perbuatan kita tidak pernah bebas daripada pamrih. Karena ikatan-ikatan maka kita selalu berbuat dengan pamrih dibelakang perbuatan itu, membuat semua perbuatan kita palsu adanya. Betapapun baiknya suatu perbuatan itu menyembunyikan pamrih, maka perbuatan itu adalah suatu kejahatan pula, karena perbuatan itu hanya menjadi semacam cara untuk mendapatkan hasil yang kita kehendaki."

Tiong Khi Hwesio juga menarik napas panjang. "Omitohud, bijaksana sekali ucapanmu itu, Kok-taihiap. Akan tetapi, bagaimana mungkin perbuatan kita tidak menyembunyikan pamrih?"

"Bukankah pamrih itu muncul dari ikatan kepada sesuatu? Ikatan inilah yang menjadi pamrih dalam perbuatan kita. Karena itu, satu-satunya kebenaran adalah kebebasan! Sebelum bebas dari semua ikatan, tak mungkin perbuatan kita benar, dalam arti yang sedalam-dalamnya.

Kita harus berani bebas, harus berani sendirian, karena bersendirian ini merupakan kenyataan hidup. Masing-masing dari kita membawa kehidupan sendiri-sendiri dan akan mengakhiri kehidupan ini sendiri-sendiri pula. Kita takut bersendirian, melihat kenyataan betapa kita ini masing-masing kosong, lemah tak berarti,maka timbullah rasa takut dan kita lalumencari pegangan, mencariikatan sebanyaknya agar si aku tidak kehilangan pijakan. Kita memperbanyak ikatan yangkita anggap mendatangkan kekuatan dan mendatangkan hiburan, seperti orang takut terhadap setan lalu mencari banyakteman.Padahal, ikatan-ikatan inilah pangkal semua kesengsaraan."

Wan Ceng yang sejak tadi mendengarkan, mengerutkan alisnya. Sudah seringia bercakap-cakap dengan suaminya tentang hal ini, dan masih juga merasa sukaruntuk dapat menangkap maknanya yangtepat. Kini ada Tiong Khi Hwesio di situ,makaiamengajukan bantahannya lagiagar dapat lebih mudah menyelidiki danmengerti.

"Akan tetapi, kalau kita membiarkan diri bebas dari ikatan, lalu mana adacinta? Apakah kita harus bersikap tidak peduli, apakah kita harus meniadakan kewajiban-kewajiban dan hidup dengan sikap acuh dan masa bodoh?"

Suaminya tersenyum, senyum penuh kasih yang selalu ditujukan kepada isterinya. Sudah sering isterinya membantah seperti ini, dan dia tahu bahwa isterinya masih belum mengerti benar dan kini minta dukungan Tiong Khi Hwesio terhadap sanggahan atau bantahannya itu.

"Benar sekali,Kao-taihiap, seperti apa yang dikemukakan isterimu. Agaknya, kebebasan seperti ini, seperti yang kaukatakan tadi berlawanan dengan tugas-tugas dalam kehidupan ini, seperti kewajiban terhadap keluarga, terhadap masyarakat, pemerintah dan sebagainya. Bukankah kalau sudah bebas dari segalanya seperti itu, kita lalu menjadi acuh dan hidup seperti boneka saja?"

Kao Kok Cu tersenyum dengan penuh kesabaran. Dia tahu betapa sukarnya mempelajari hidup, betapa sukarnya membuka mata melihat kenyataan hidup seperti apa adanya. Dia sendiri pun baru-baru saja, dalam usia tua renta, dapat melihat kenyataan ini dengan waspada.

"Marilah kita selidiki bersama. Semua perbuatan kita merupakan pencerminan dari keadaan batin, bukan? Kalau batin tidak bebas, perbuatan pun tidak akan bebas dari pamrih. Oleh karena itu, dimaksudkan dengan kebebasan di sini bukanlah kebebasan lahiriah. Lahiriah, kita tidak mungkin bebas. Kita adalah bagian dari masyarakat, bagian dari bangsa dan negara dengan segala macam adat-istiadat dan hukumnya. Kita secara lahiriah tidak mungkin bebas dari semua itu, dari kewajiban terhadap keluarga, terhadap pemerintah, terhadap pekerjaan, terhadap teman, masyarakat dan sebagainya. Akan tetapi, haruskah batin juga terikat? Tak dapatkah secara lahiriah kita mempunyai, akan tetapi batin tidak ikut memiliki? Hanya batin yang bebas saja yang akan dapat mengenal cinta kasih, bukan cinta nafsu yang mengikat."

Tiong Khi Hwesio dan Wan Ceng mendengarkan, terdiam dan seperti terpesona karena merekapun dapat melihat kenyataan melalui petunjuk ini.

"Sekarang aku mulai dapat melihat," kata Wan Ceng mengangguk-angguk. "Bebas bukan berarti bebas semau gua, karena semau gua merupakan tindakan lahiriah, tindakan badan penuh nafsu, tindakan pikiran yang selalu ingin enak sendiri. Bebas batin mendatangkan cinta kasih, dan perbuatan yang didasari cinta kasih tentu tidak akan menyeleweng daripada kebenaran."

"Omitohud....!"Tiong Khi Hwesio memuji sambil merangkapkan kedua tangan didepan dada. "Betapa bahagianya hati pinceng, betapa beruntungnya pinceng dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih yang telah menuntun pinceng untuk datang berkunjung sehingga sempat berbincang-bincang dengan kalian berdua. Pinceng sudah mengalami sendiri akan buruknya ikatan. Pinceng terikat lahir batin dengan Syanti Dewi sehingga ketika isteriku itu meninggal dunia, pinceng seperti orang gila karena kehilangan!"

"Ikatan selalu mendatangkan duka dan kehilangan. Yang dapat kehilangan hanya mereka yang memiliki. Kalau batin tidak memiliki apa-apa, bagaimana bisa kehilangan? Itulah namanya bebas batiniah, walaupun lahiriah terikat kaki tangan dan lehernya oleh segala macam kewajiban hidup."

"Wah-wah, terimakasih!" Tiong Khi Hwesio bangkit dengan wajah cerah dan gembira sekali. "Akan tetapi, mengapa kita tenggelam ke dalam hal-hal yang begini serius? Pinceng ingin sekali melihat-lihat lautan pasir yang maha luas ini. Kabarnya di padang pasir sering terjadi keanehan-keanehan, nampak kekuasaan alam yang maha hebat. Maukah kalian mengantar pinceng melihat-lihat dan menunjukkan segala kehebatan itu kepada pinceng?"

Kao Kok Cu dan Wan Ceng juga bangkit sambil tertawa dan mereka bertigalalu meninggalkan istana itu, menuju keselatan karena istana itu menghadap ketimur, ke arah Mongol dari mana Kaisar Jenghis Khan berasal.

***

Tiong Khi Hwesio kagum bukan main ketika suami isteri itu membawanya kebagian-bagian yang luar biasa dari padang pasir itu. Ada bagian di mana pasirnya besar-besar dan agak hitam, ada pula bagian dimana pasirnya lembut sekali dengan warna putih berkilauan seperti bubuk perak. Ada yang permukaannya demikian halus seperti sutera, ada pula yang membentuk keriput-keriput seperti alun samudera. Juga terdapat bagian di mana terdapat batu-batu besar berbentuk aneh-aneh karena permainan angin dan terpukul pasir-pasir yang diterbangkan angin. Luar biasa sekali melihat betapa ada permukaan pasir yang tidak pernah diam, seperti air di lautan,selalu berubah bentuknya karena pasir-pasir halus di permukaan itu terbawaangin membentuk garis-garis yang selalu berubah. Seolah-olah ada kehidupan yang tidak nampak di tempat yang teramatsunyi itu. Berkali-kali Tiong Khi Hwesio mengeluarkan suara pujian dengan penuh kagum dan heran.

Melihat kegembiraan saudara tirinya,Wan Ceng menjadi ikut gembira dan bangga. "Engkau belum melihat yang paling hebat, Tek Hoat," katanya bangga.

"Wah? Masih ada yang lebih hebat dari ini? Bawa pinceng ke sana, pinceng ingin melihat yang paling hebat!"

"Bagian itu jauh di selatan, makan waktu perjalanan hampir satu hari, disebut sebagai Lautan Maut. Di sana engkau akan melihat badai lautan pasir, melihat pasir bagaikan air laut menderu-deru, dengan ombak yang setinggi rumah."

"Wah, hebat! Hayo kita ke sana!" ajak Tiong Khi Hwesio, tertarik sekali. Sebagai seorang bekas pendekar, tentu saja keadaan bahaya merupakan tantangan yang menggairahkan hatinya.

"Di sana berbahaya sekali," kata Kao Kok Cu. "Bahkan rombongan onta dengan orang-orang yang paling berpengalaman sekalipun menjauhi bagian itu dan lebih baik melakukan perjalanan memutar yang lebih jauh daripada harus menempuh Lautan Maut itu."

"Akan tetapi kita bukanlah orang-orang yang lemah seperti mereka!" kata Wan Ceng kepada suaminya. "Bukankah kita pernah beberapa kali ke sana dan mampu menahan serangan badai?"

Kao Kok Cu tersenyum kepada isterinya. "Ha, agaknya engkau lupa bahwa hal itu terjadi puluhan tahun yang lalu. Ketika itu usia kita belum lima puluh tahun."

"Apa bedanya? Kita masih kuat dan bahwa kita bertiga dapat menguji diri apakah masih ada kemampuan dalam tubuh yang tua ini."

"Cocok! Ha-ha-ha,Kao-taihiap, apakah engkau tidak ingin menggembirakan seorang sahabat seperti pinceng? Sebelum maut datang menjemput, pinceng ingin sekali melihat dan merasakan betapa hebatnya badai di Lautan Maut itu."

Kao Kok Cu menarik napas panjang. "Baiklah, tentu saja kita bertiga akan dapat melindungi diri sendiri dari badai. Di sana terdapat banyak batu besar yang dapat dipergunakan sebagai tempat berlindung. Akan tetapi perjalanan itu tentu akan makan waktu dua hari pulang pergi dan di sana tidak terdapat makanan atau minuman apa pun. Kita harus membawa bekal."

Mereka kembali ke istana tua dan sibuklah mereka membuat perbekalan untuk perjalanan besok. Mereka bergembira seperti tiga orang pemuda remaja yang membuat persiapan untuk perbekalan perjalanan tamasya besok.

Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah berangkat meninggalkan istana gurun pasir, menuju keselatan. Lewat tengah hari mereka tiba dibagian lautan pasir yang dimaksudkan oleh Wan Ceng. Sebelum berangkat, KaoKok Cu memperingatkan mereka agar berhati-hati.

"Sekarang musim yang paling ganas disana, di waktu badai sedang besarnya dengan adanya pemutaran angin dari utara ke timur."

Dengan buntalan perbekalan di punggung mereka, tiga orang ini memasuki daerah Lautan Maut. Nampaknya memang tidak ada apa-apa dan Tiong Khi Hwesio mulai kecewa. Akan tetapi makin keselatan, terasa angin semakin keras dan dibandingkan dengan pasir yang mereka injak, yang panas, angin itu terasa dingin sekali. Dan ketika mereka tiba di daerah yang berbatu-batu, tiba-tiba saja badai datang mengamuk. Mula-mula, dari arah barat dan utara, nampak seperti awan hitam dan debu angin tiba-tiba terhenti, akan tetapi tak lama kemudian, awan hitam dan debu yang ternyata gelombang pasir itu datang menerpa, didorong angin yang amat kuatnya.

Tiga orang gagah itu memasang kuda-kuda dan mengerahkan tenaga melawan hantaman pasir halus yang dibawa angin. Mereka seolah-olah masuk ke dalam tirai pasir yang mendorong kuat dari depan. Makin lama, semakin kuat saja hantaman pasir dan angin dan pertama-tama Wan Ceng agak terhuyung. Cepat ia berpegang tangan dengan suaminya yang membantunya, dan ketika akhirnya TiongKhi Hwesio juga terhuyung, Kao Kok Cu berteriak nyaring untuk mengatasi gemuruh suara badai pasir.

"Cepat, kita berlindung di balik batu di sana itu!" Dia menunjuk ke arah sebuah batu karang yang besar dan kokohkuat. Memilih tempat berlindung ini pun ada bahayanya, karena kalau salah pilih,ada batu yang roboh dilanda badai sehingga menindih dan membunuh orang-orang yang berlindung di bawahnya.

Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio, sejak mudanya memang memiliki hati yang pantang menyerah. Oleh karena itu, ajakan Kao Kok Cu itu diterima dengan gelengan kepala, bahkan Wan Ceng sudah melepaskan pegangan tangan suaminya, memasang kuda-kuda lagi dan mengerahkan tenaganya. Demikian pula Tiong KhiHwesio, agaknya tidak mau kalah oleh saudara tirinya! Melihat lagak kedua orang ini, mau tidak mau Kao Kok Cu tertawa geli dan gembira dan dia pun lalu memasang kuda-kuda untuk melawan badai yang semakin kuat datangnya itu. Akan tetapi beberapa menit kemudian, Wan Ceng dan Tiong Khi Hwesio terpaksa harus mengakui keunggulan badai karena mereka terdorong sampai roboh bergulingan! Terpaksa mereka membiarkan diri mereka diseret, Wan Ceng berpegangan tangan dengan Tiong Khi Hwesio dan Kao Kok Cu dengan satu tangan kanannya memegang tangan hwesio itu dan menyeretnya di atas pasir menuju kebalik batu besar dan barulah mereka dapat bernapas lega karena terjangan badai ditangkis oleh batu karang yang kokoh kuat itu.

Akan tetapi, kegembiraan mereka semakin menjadi. Setelah beristirahat dan dapat mengumpulkan tenaga kembali, melihat betapa badai masih saja membesar Tiong Khi Hwesio lalu meloncat keluar dari balik batu karang dan kini dia bersilat menentang badai. Hebat memang kakek hwesio ini.Diaternyata telah menggabungkan dua macam ilmu silat yang merupakan ilmu silat yang saling berlawanan, yaitu Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis) dan Pat-sian Sinkun (Silat Sakti Delapan Dewa)! Tidak saja dia telah mampu menggabungkan dua aliran silat yang bertentangan ini, akan tetapi juga dia mempergunakan tenaga sakti yang hebat, yaitu Tenaga Inti Bumi. Biarpun usianya sudah tujuhpuluh dua tahun, namun gerakannya demikian gesit dan pukulan-pukulannya demikian kuat sehingga angin menderu-deru dari kaki tangannya menentang badai sehingga pasir-pasir yang diterbangkan badai itu membuyar terkena hantaman angin pukulan kaki tangannya! Tiong Khi Hwesio bersilat terus sampai akhirnya dia melompat kembali ke balik batu karang dengan muka merah, keringat membasahi tubuh dan napasnya terengah-engah, akan tetapi matanya berseri dan mulutnya tertawa gembira.

Wan Ceng tidak mau kalah. Nenek yang usianya sebaya dengan saudara tirinya ini, juga meloncat keluar dan bersilat menentang badai. Ia nengeluarkanilmu silat simpanannya, yaitu Ban-tok-ciang dan nampak ada uap yang kadang-kadang berwarna hitam, lalu hijau atau biru, berubah lagi kemerahan dari kedua telapak tangannya. Melihat ini, diam-diam Tiong Khi Hwesio bergidik karena dia tahu betapa ampuhnya pukulan-pukulan adik tirinya itu. Nenek ini pun bersilat sampai ia tidak kuat bertahan lagi dan terpaksa harus meloncat ke belakang batu karang dengan tubuh basah keringatdan napasnya terengah-engah.

Melihat kegembiraan dua orang itu, Kao Kok Cu ketularan. Dia pun keluar dan menentang badai, lalu bersilat, di tonton dengan penuh rasa kagum oleh Tiong Khi Hwesio. Dia melihat betapa kakek berlengan sebelah ini bersilat secara aneh, dengan tubuh kadang-kadang meluncur ke depan, seperti seekor naga, namun gerakannya membawa angin pukulan yang bercuitan dan kini dia melihat betapa di bagian depan Kao Kok Cu seolah-olah ada dinding atau perisai yang tidak nampak, terbuat dari hawa pukulan sehingga pasir yang terbang dari depan itu terhenti dan runtuh dengan sendirinya, seperti membentur batu karang! Dan kakek berlengan buntung yang usianya sudah tujuh puluh delapan tahun ini, bersilat paling lama dibandingkan Tiong Khi Hwesio atau Wan Ceng, akan tetapi ketika akhirnya dia menghentikan gerakannya dan kembali kebelakang batukarang, napasnya tidak memburu dan wajahnya biasa saja walaupun napas agak memburu.

"Wah, usia tua menggerogoti dari dalam sehingga tenaga dan daya tahanku banyak berkurang," katanya sambil mengatur pernapasan.

"Kao-taihiap, engkau hebat!" Tiong Khi Hwesio memuji. "Engkau yang paling tua diantara kita, namun ternyata tenaga dan daya tahanmu paling kuat. Sungguh membuat aku takluk dan kagum sekali!"

Namun Kao Kok Cu tidak menjawab melainkan menuding ke arah barat. "Lihat, bukankah itu suara onta yang datang dari arah sana?"

Dua orang itu menoleh ke arah barat,akan tetapi tidak kelihatan sesuatu, hanya memang mereka mendengar ada suara onta. Suaranya merintih seperti menderita.

"Onta tidak pernah merintih kecuali menghadapi kematiannya dan di mana ada binatang onta terancam maut, disitu tentu ada pula penunggangnya yang jugaterancam malapetaka, "sambungWan Ceng. "Mari kita lihat!"

Dua orang kakek itu mengangguk setuju dan mereka bertiga segera berloncatan keluar dari balik batu karang dan berlari cepat menuju ke barat, ke arah datangnya suara tadi. Tidak terlalu lama mereka mencari karena segera merekamelihat seekor onta yang dalam keadaan sekarat, tergencet batu yang roboh menimpa dan menghimpitnya. Dan di dekatnya nampak seorang wanita yang telah tewas pula, sedangkan seorang anak laki- laki berusia kurang lebih empat belas tahun berlutut dan mengguncang-guncang tubuh wanita itu.

"Ibu....ibu....bangunlah, ibu....kuatkanlah, mari kugendong ibu pergi dari sini...."kata anak itu dengan suara piludan gemetar. Dia lalu dengan susah payah menarik tubuh ibunya yang kedua kakinya terhimpit tubuh onta, kemudian mencoba untuk menggendongnya, akan tetapi baru beberapa langkah saja anak itu berjalan, dia disambar hantaman badai dan dia pun terguling bersama mayat ibunya, bergulingan.

"Ibuuuuu....!"Anak itu berteriak, dan pada saat itu, Tiong Khi Hwesio telah menyambar tubuhnya dan dibawa meloncat ke balik sebuah batu karang untuk berlindung dari serangan badai. Wan Ceng juga sudah menyambar mayat wanita itu dan membawanya ke tempat yang sama.

"Ibuuu....!Lepaskan ibuku, janganganggu ibuku....!"Tiba-tiba anak itu meronta dan saking marah dan khawatirnya, anak itu memiliki tenaga yang demikian hebatnya sehingga dia berhasil melepaskan diri dari pegangan Tiong Khi Hwesio dan kini dia menyerang Wan Ceng yang masih memondong tubuh wanita yang telah mati itu. Anak laki-laki itu menubruk, tangan kirinya mendorong ke arah dada Wan Ceng, dan tangan kanannya mencoba untuk merampas tubuh wanita itu gerakannya cepat dan juga mengandung tenaga yang kuat.

Wan Ceng tidak melawan, hanya menarik tubuh atas untuk mengelak dari dorongan anak itu, dan ia membiarkan anak itu merampas tubuh mayat itu. Anak laki-laki itu kini memandang mayat itu, menghadapi tiga orang tua itu dengan mata terbelalak. Mata itu liar dan beringas, seperti mata seekor anak harimau tersudut. Dia siap melawan tiga orang itu mati-matian untuk mempertahankan dan melindungi ibunya.

"Jangan kalian mengganggu ibuku! Akan kulawan sampai mati! Biarpun kalian Dewa Kematian, Dewa Badai dan Dewa Padang Pasir, aku tidak takut!"

Dia menantang dan sikapnya sungguh berani, sikap seorang yang sudah nekat karena tidak melihat jalan lain.

Tiga orang tua renta itu sejenak terpesona, juga terharu. Mereka adalah orang-orang sakti yang sudah banyak makan garam, banyak pengalaman dan tahu saja artinya duka karena merekapun sudah kenyang mengalami duka dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, mereka dapat menduga bahwa anak ini menjadi demikian nekat dan berani karena terhimpit duka yang bertubi-tubi dan yang terakhir kalinya agaknya karena melihat ibunya yang tercinta tewas. Atau mungkin saking bingung, khawatir dan dukanya, dia sampai tidak sadar bahwa ibunya telah kehilangan nyawanya dan yang hendak dilindungi dan dipertahankan itu adalah sesosok mayat yang telah mulai menjadi dingin!

Dengan hati terharu penuh iba Kao Kok Cu melangkah maju. "Anak yang baik,kami bukanlah dewa atau iblis, kami adalah orang-orang biasa yang datang ingin menolongmu. Tidak ada yang akan mengganggu ibumu lagi, Nak, karena ibumu telah meninggal dunia. Lihatlah baik-baik dan jangan keliru menyangka orang."

Suara itu begitu halus, tenang dan sabar dan suara itu saja sudah cukup membuat anak itu percaya dan kini anak itu memandang wajah mayat yang dipeluknya.Wajahseorangwanitayangkurus pucat, dengan mata setengah terbuka, dengan pandang kosong tanpa cahayasamasekali, seperti mata sebuah patung yang pernah dilihatnya. Dia mengangkat mayat itu mendekat dan dia merendahkan mukanya sampai mukanya dekat sekali dengan muka mayat itu. Tidak bernapas lagi hidung dan mulut ibunya.

"Ibuuuuu....!"Dan untuk kedua kalinya dia pun terjungkal bersama mayat ibunya, dan roboh pingsan di dekat mayat itu.

"Omitohud....!"Tiong Khi Hwesio mengeluh ketika dia melihat peristiwa ini. Kao Kok Cu menarik napas dan menggeleng-geleng kepalanya sedangkan Wan Ceng lalu mendekati anak itu, ber lutut dan mengurut tengkuk dan dadanya.

Anak itu pun mengeluh, lalu membuka matanya. Dia segera mencari dengan pandang matanya dan ketika dia melihat tubuh ibunya menggeletak tak jauh dari situ, dia pun bangkit dan menubruk mayat ibunya sambil menangis. Akan tetapi, anak itu agaknya memang memiliki kekerasan dan ketabahan hati.Tidak lama dia menangis dan agaknya dia sudah teringat lagi akan tiga orangtua itu, maka dia lalu bangkit berdiri memandangnya, dia lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap mereka, agaknya sama sekali tidak peduli akan luka-luka yang diderita tubuhnya, babak belur dan lecet-lecet, juga kaki kanannya kehilangan sepatunya dan pergelangan kaki itu menggembung besar, tanda bahwa kaki itu salah urat.

"Harap Sam-wi Locianpwe (Tiga Orang Tua Perkasa) memberi ampun kepada saya yang tadi bersikap kurang ajar. Dalam keadaan seperti ini, saya menjadi bingung dan mengira Sam-wi (Kalian Bertiga) bukan manusia"

Tiga orang itu saling pandang dan sependapat bahwa anak ini ternyata memiliki pendidikan yang baik dan mengenal aturan. Juga, mata mereka yang tajam dapat mengenal bahwa anak ini memiliki nyali yang besar, sikap gagah dan juga bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang pendekar.

"Anak baik, sekarang belum waktunya banyak bicara. Apakah engkau hanya berdua dengan ibumu ini?" tanya KaoKok Cu. Anak itu mengangguk.

"Kalau begitu, yang terpenting sekarang, mari ikut bersama kami dan kami juga akan membawa jenazah ibumu agar mendapatkan penguburan yang sepatutnya di tempat kami."

"Baik,Locianpwe dan terima kasih atas perhatian Sam-wi." kata anak itu yang segera bangkit dan tanpa diperintahlagi dia menghampiri mayat ibunya, bermaksud untuk memondongnya. Hal ini saja membuat tiga orang tua itu menjadi kagum. Anak ini tidak cengeng, tahu diri, cerdik dan tabah sekali.

"Biarkan pinceng yang membawa jenazah ibumu, anakbaik," kata Tiong Khi Hwesio dan sekali kedua lengannya bergerak, mayat wanita itu telah dipondongnya. Anak itu terbelalak dan merasa seperti melihat sulapan atau sihir saja. Dia hampir tidak melihat hwesio tua itu menyentuh mayat ibunya atau mengulur kantangan, seolah-olah mayat itu yang terbang kedalam pondongan hwesio tua itu!

"Dan engkaupun tidak sehat benar, marilah engkau kugendong!" kata pula Kao Kok Cu dan anak itu menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya melayang naik dan tahu-tahu dia telah berada diatas punggung kakek yang lengan kirinya buntung! Hampir dia menjerit ketakutan dan hampir kehilangan lagi kepercayaannya bahwa tiga orang itu adalah manusia. Jangan-jangan merekaini benar-benar iblis-iblis yang hendak membawa pergi dia dan mayat ibunya!

Akan tetapi, nenek itu berkata, "Mari kita pergi!" dan kini anak itu mengalami peristiwa yang membuat dia takkan dapat melupakannya selama hidupnya. Dia merasa dibawa terbang oleh kakek lengan satu dan ketika dia melirik ke kanan, dia melihat hwesio itu pun seperti terbang membawa mayat ibunya, sedangkan nenek itu terbang paling depan. Badai masih mengamuk hebat, namun tiga orang ini dapat berlari secepat terbang menempuh badai yang menyerang dari samping. Cepat sekali gerakan merekadan berkali-kali dia harus memejamkan matanya saking ngeri. Dan ketika mereka keluar dari daerah badai, anak itu merasa betapa mereka berlari lebih cepat lagi. Kadang-kadang mereka itu melompati jurang-jurang seperti terbang, membuat dia merasa ngeri bukan main, dan akhirnya diapun hanya memejamkan mata agar tidak melihat betapa tubuhnya meluncur pesat di atas pundak kakek yang terbang di atas pasir.

Setelah mereka berhenti, barulah anak itu membuka matanya dan dia pun menahan keinginannya untuk berteriak saking herannya. Dia diturunkan, lalu digandeng masuk ke dalam sebuah istana besar yang indah dan juga menyeramkan karena istana itu berdiri megah ditengah-tengah gurun pasir, tidak mempunyai tetangga seorang pun! Jenazah ibunya juga dibawa masuk dan nenek itu lalu merawat jenazah ibunya, diberi pakaian yang utuh, kemudian diadakan upacara sembahyang sekadarnya sehingga dia sebagai putera ibunya dapat memberi hormat dan berkabung atas kematian ibunya. Dia pun menurut saja ketika tiga orang tua itu mengusulkan agar ibunya segera dikubur pada hari itu juga. Mereka lalu menggali lubang di kebun belakang dan mengubur jenazah itu tanpa peti.

Setelah penguburan selesai dan mereka semua kembali ke dalam istana, barulah anak itu yakin bahwa semua yang dialaminya bukanlah mimpi. Kemarin sore dia dibawa oleh tiga orang tua ini, bersama jenazah ibunya, dengan cara luar biasa, lari bagaikan terbang, sehingga malam-malam mereka tiba di istana ini. Hanya semalam ibunya yang telah menjadi jenazah itu dirawat dan pada keesokan harinya, penguburan ibunya telah dilakukan dengan baik dan selesai. Kini dia telah menjadi seorang anak yang kehilangan ibu, tidak tahu berada ditempat apa, merasa berada di tempatyang aneh, bukan bagian dari dunia, bersama tiga orang manusia yang juga luar biasa. Apakah dia masih hidup, ataukah sudah berada di akhirat? Akan tetapi kalau dia sudah mati, tentu dia bertemu dengan ibunya. Tidak, dia masih hidup! Ibunyalah yang telah mati, dan dia berada di tempat tiga orang sakti. Sebagai putera seorang ahli silat, tentu saja dia pernah mendengar tentang orang-orangtua yang sakti, akan tetapi biasanya mereka itu adalah pertapa-pertapa atau pendeta-pendeta di kuil. Dan kini, tiga orang tua itu, biarpun yang seorang adalah hwesio, bukan tinggal di dalam gua,melainkan di dalam sebuah istana! Demikianlah anak itu membolak-balik pikirannya sendiri ketika dia berlutut di ataslantai, di depan tiga orang yang duduk dibangku rendah sambil bersila itu. Kemudiandia teringat betapa tiga orang tua ini sudah melimpahkan kebaikan-kebaikan kepadanya. Pertama, kalau tidak ada mereka yang datang ketika dia diserang badai digurun pasir itu, tentu dia sudah tewas pula bersama ibunya dan onta mereka. Kedua, mereka pula yang membawa dia dan jenazah ibunya keistana aneh ini dan ketiga, mereka telah mengurus penguburan ibunya sampai selesai. Teringat akan semua ini, dia lalu memberi hormat kepada mereka sampai dahi nyaberkali-kali menyentuh lantai.

"Sam-wi Locianpwe telah menyelamatkan saya dan telah mengurus pemakaman ibu, sungguh budi kemuliaan ini sampai mati pun saya tidak akan melupakannya," demikian dia berkata berulang kalidan baru berhenti setelah kakek yang lengan kirinya buntung itu berkata dengan suara halus.

"Anak baik, duduklah yang benar, dan ceritakan dengan jelas bagaimana asal mulanya maka engkau bersama mendiang ibumu dapat berada di tempat berbahaya itu dan terserang badai."

"Nanti dulu!" Tiba-tiba Wan Ceng berkata. "Siapa tahu dia menderita luka berat. Mari, majulah ke dekatku ke sini, Nak, akan kuperiksa keadaanmu."

Mendengar ini, anak itu tidak berani membantah dan dia pun merangkak dan mendekati nenekitu. Wan Ceng cepat memeriksa dan ternyata anak itu hanya menderita lecet-lecet dan babak belur, luka di kulit saja, sedangkan pergelangan kakinya yang membengkak itu adalah karena salahurat. Dengan cepat Wan Ceng mengurut kaki itu dan membetulkan kembali urat yang tertarik dan salah duduk, dan mengobati lecet-lecet dengan obat luka.

Nah, engkau tidak apa-apa sekarang, ceritakanlah keadaanmu," kata Wan Ceng. Anak itu lalu berlutut kembali seperti tadi dan menceritakan riwayatnya.

"Nama saya Tan Sin Hong, tinggal bersama orang tua saya di kota Bangoan diselatan Tembok Besar. Ayah saya dikenal sebagai Tan-piauwsu (pengawal Tan) karena ayah saya membuka perusahaan piauw-kiok (perusahaan pengawalan barang kiriman) yang mengawal barang-barang daganga nyang dikirim dari dan keluar Tembok Besar." Anakitu, yang bernama Tan Sin Hong, dengan lancar lalu menceritakan semua peristiwa yang baru-baru ini menimpa keluarganya.

Pada suatu hari, Tan-piauwsu, ayah Sin Hong, menerima tugas mengawal barang-barang berharga untuk diantar kekota Tuo-lun, sebuah kota yang terletak didaerah Mongol. Barang itu berupa sebuah peti besar terisi emas permata yang amat berharga, karena itu, Tan-piauwsu tidak berani menyerahkan pengawalannya kepada anak buahnya saja. Dia berangkat sendiri mengawal barang itu dan menyerahkan urusan perusahaan kepada Tang-piauwsu, yaitu wakilnya. Sebulan kemudian, datang seorang utusan yang membawa pesan dari Tan-piauwsu agar isterinya dan puteranya menyusul kekota Tuo-lun untuk diajak nonton keramaian tradisionil yang diadakan oleh suku bangsa campuran Mancu dan Mongol yang tinggal di sana.

Biarpun perjalanan itu jauh dan memakan waktu lama, namun Nyonya Tan dan puteranya dengan girang memenuhi pesan itu. Tang-piauwsu merasa khawatir dan dia sendiri yang rnelakukan pengawalan, memimpin dua belas orang anggauta piauw-kiok. Berangkatlah rombongan ini keluar dari Tembok Besar menuju ke utara. Ketika mereka tiba di dekat kota Tuo-lun, di kaki bukit yang sunyi, tiba-tiba muncul gerombolan perampok bertopeng. yang jumlahnya dua puluh orang lebih. Gerombolan perampok ini menyerang dan tentu saja Tang-piauwsu memimpin anak buahnya melakukan perlawanan. Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi gerombolan perampok itu lihai dan dua kali lebih besar jumlahnya, maka pihak pengawal terdesak dan mulai ada yang roboh. Melihat keadaan berbahaya ini, Tang-piauwsu lalu melarikan kereta yang membawa Nyonya Tan dan Sin Hong, melarikan diri dari tempat itu. Akan tetapi, setelah merobohkan semua pengawal, gerombolan perampok bertopeng itu melakukan pengejaran.

Tang-piauwsu melarikan kereta tanpa tujuan dan akhirnya mereka tiba di padang pasir. Melihat ada orang penduduk daerah itu yang membawa garam menunggang seekor onta, Tang-piauwsu lalu membeli onta itu dan menyuruh Nyonya Tan dan Sin Hong untuk melanjutkan larinya dengan menunggang onta, sedangkan dia sendiri menanti di situ dengan pedang di tangan untuk menahan gerombolan perampok yang tadi mengancam hendak menawan Nyonya Tan yang masih kelihatan muda dan cantik.

Karena ketakutan, Nyonya Tan danSin Hong lalu menunggang onta, membawa bekal seadanya saja dan onta itupun memasuki gurun pasir! Mereka tidak lagi melihat apa yang telah terjadi selanjutnya dengan Tang-piauwsu.

"Karena takut ditawan gerombolan perampok yang kasar itu, yang agaknya, menurut perkiraan Tang-piauwsu, hendak menangkap ibu dan saya untuk membalas dendam kepada ayah, ibu lalu melarikan onta itu tanpa tujuan, terus memasuki gurun pasir yang luas. Akhirnya kami tidak tahu jalan lagi, di mana-mana pasir belaka dan kami membiarkan saja onta itu mengambil jalan sendiri. Entah berapa hari kami melakukan perjalanan seperti itu, kehabisan bekal, bahkan kantung air yang banyak itu pun telah hampir habis. Kami menderita sekali dan akhirnya kami diserang badai. Kami berlindung di balik batu karang, akan tetapi batu karang itu runtuh dan menimpa kami, dan selanjutnya....Sam-wi, telahmengetahui."

Setelah Sin Hong mengakhiri ceritanya, Tiong Khi Hwesio berseru. "Omitohud....permusuhan yang tiada hentinya antara yang untung dan yang rugi! Para perampok merasa dirugikan oleh para piauwsu, banyak bentrokan terjadi antara mereka yang hendak merampokdan mereka yang hendak melindungi barang kiriman!"

"Ada yang mencurigakan dalam urusan ini," kata Kao Kok Cu, "Bagaimana seorang piauwsu yang berpengalaman begitu sembrono untuk memanggil isteri dan puteranya menyuruh ke tempat yang demikian jauh, melalui perjalanan yang berbahaya."

"Memang mencurigakan sekali. Dan Tang-piauwsu itu membiarkan ibu dan anak itu melintasi gurun pasir dengan binatang onta tanpa pengawalan, sungguh gegabah sekali," kata pula Wan Ceng.

"Biarlah pinceng (saya) yang akan pergi ke Tuo-lun untuk mencari Tan-piauwsu dan memberi kabar kepadanya tentang isteri dan puteranya. Sin Hong, engkau tinggal dulusaja disini sampai pinceng dapat menemukan ayahmu dan dapat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi."

Tan Sin Hong mengangguk, "Baik, Locianpwe, saya akan menanti berita dari hasil penyelidikan Locianpwe." Dia merasa suka sekali ditempat yang indah itu, dan dia berhutang budi. Ingin dia membalas budi itu, walaupun hanya dengan membersihkan tempat itu, istana tua itu yang nampaknya tidak begitu terawat dengan baik. Apalagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa diistana tua itu tidak terdapat seorangpun pelayan.

Sambil menanti kembalinya Tiong Khi Hwesio, Sin Hong mendengar lebih banyak dari nenek Wan Ceng tentang istana tua itu dan kini dia tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir itu adalah kakek dan nenek she Kao ini, sedangkan Tiong Khi Hwesio yang kini pergi mencari ayahnya adalah seorang sahabat baik dan tamu kehormatan dari mereka.

Tiga hari kemudian, muncullah Tiong Khi Hwesio.Setelah minum air sejuk jernih yang dihidangkan oleh Sin Hong, kakek ini menarik napas panjang.

"Omitohud....Tan Sin Hong, pinceng sekali ini terpaksa membawa berita yang tidak menyenangkan untukmu." Dan diapun mengelus kepala anak itu yang sudah berlutut di depannya. Anak itu memang berhati tabah. Biarpun mukanya agak pucat dan matanya membayangkan kekhawatiran, namun suaranya masih tenang ketika dia berkata kepada hwesio tua itu.

"Locianpwe, apakah yang telah terjadi dengan ayah saya?"

Nenek Wan Ceng juga tidak sabar. "Tek Hoat, apa yang telah terjadi disana?"

Kakek yang masih kelihatan lelah karena habis melakukan perjalananjauh itu, mengusap peluh dari leher dan mukanya mempergunakan sehelai saputangan lebar,kemudian menghela napas dan memandang kepada Sin Hong dengan sinar mata kasihan.

"Pinceng tiba di kota Tuo-lun dan melakukan penyelidikan. Akan tetapi ternyata bahwa Tan-piauwsu tidak pernah sampai di kota itu...."

"Ayah....!" Sin Hong berseru dengan suara tertahan, matanya menatap wajah Tiong Khi Hwesio, penuh pertanyaan dan kekhawatiran.

"Di kota itu pinceng bertemu dengan beberapa orang sahabat baik Tan Piauwsu karena memang sudah beberapa kali Tanpiauwsu mengawal barang ke kota itu.Bersama mereka pinceng lalu menyelidiki sepanjang jalan menuju ke kota itu dari selatan yang biasa diambil oleh rombongan piauw-kok dan di sebuah hutan pinceng menemukan mereka," Suara kakekini menurun dan Sin Hong kembali menatap dengan muka pucat.

"Locianpwe menemukan ayah...."tanyanya, kini suaranya agak gemetar, jelas bahwa dia telah menduga buruk. Dan kakek itu mengangguk.

"Pinceng menemukan Tan-piauwsu dan sepuluh orang anak buahnya, semua telah tewas terbunuh."

"Ayah....!Ibu....!"Teriakan Sin Hongini lirih saja, seperti keluhan dan dalam keadaan berlutut dia menutupi muka dengan kedua tangannya. Tiga orang tuaitu hanya memandang dan membiarkan saja. Sampai beberapa lamanya Sin Hong menutupi mukanya, tidak mengeluarkan suara tangis, akan tetapi air mata mengalir dari celah-celah jari tangannya. Kemudian dia mengusap air matanya dengan kedua tangan, lalu dengan suara agak parau dia bertanya kepada TiongKhi Hwesio.

"Locianpwe, siapa yang membunuh ayah?"

Tiong Khi Hwesio menggeleng kepala."Tidak ada yang tahu dan tidak ada tanda-tandanya. Mereka semua tewas dan agaknya dirampok karena tidak ada barang berharga lagi disana, kecuali pakaian yang menempel ditubuh mereka."

"Ah, siapa lagi kalau bukan perampok bertopeng itu? Dan yang mengirim utusan mengundang nyonya Tan dan Sin Hong tentu juga anggauta perampok bertopeng itu yang sengaja menghadang dan menjebak," kata kakek Kao Kok Cu. "Agaknya mereka adalah gerombolan perampok yang mendendam kepada Tan-piauwsu sehingga selain merampok, juga ingin membasmi keluarganya."

"Aku lebih condong mencurigai Tang-piauwsu itu!" Tiba-tiba Wan Ceng berkata. "Mengawal barang yang amat berharga tentu amat dirahasiakan dan kukira yang mengetahui hanyalah Tan-piauwsudan pembantunya itu.Tidak akan mengherankan kalau kelak diketahui bahwa yang mengatur semua perampokan dan pembunuhan itu adalah Tang-piauwsu, oleh karena itu dia pula yang menyuruh nyonya Tan dan Sin Hong melarikan dirike gurun pasir, yang berarti sama dengan mengirim mereka ke lembah maut."

"Omitohud     kita tidak boleh sembarangan sangka. Urusan ini adalah urusan Sin Hong dan biarlah dia saja yang kelak melakukan penyelidikan. Engkau tenangkan hatimu Sin Hong. Teman-teman ayahmu telah mengurus penguburan jenazah ayahmu dan anak buahnya, dan kalau suami isteri tua penghuni Istana Gurun Pasir ini tidak berkeberatan, pinceng mengusulkan agar Sin Hong tinggal disini mempelajari ilmu dari kita bertiga."

Suami isteri itu agak terkejut dan memandang wajah hwesio itu penuh perhatian. "Apa alasanmu berkata demikian, Tek Hoat?" kata nenek Wan Ceng.

"Banyak peristiwa terjadi didunia yang aneh-aneh dan biasanya kita anggap sebagai hal yang kebetulan saja. Akan tetapi, bukankah dibalik peristiwa itu ada yang mengaturnya? Bukankah sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa maka terjadi hal-hal yang kelihatan kebetulan itu? Contohnya Tan Sin Hong ini. Keluarganya tertimpa malapetaka, ibunya tewas, ayahnya tewas dan dia pun nyaris tewas. Coba lihat segala macam kebetulan yang telah terjadi!

Pertama-tama, kebetulan sekali pinceng mengunjungi kalian dan kemudian kebetulan sekali kita bertiga bermain-main dengan badai gurun pasir! Kalau tidak kebetulan pinceng berkunjung tentu kita tidak bermain-main dengan badai dan kalau tidak kebetulan kita bermain-main dengan badai tentu kita tidak akan melihat Sin Hong! Dan kalau begitu, apa jadinya? Tentu dia telah tewas pula! Bukankah semua kebetulan itu seperti telah diatur oleh Thian (Tuhan)? Nah, kita jangan menolak kehendak Thian dan harus menerimanya sebagai perintahNya. Mari kita terima anak ini sebagai murid kita yang terakhir, untuk menampung peninggalan terakhir dari kita. Bagaimana pendapat kalian?"

Suami isteri itu saling pandang. Mereka telah mewariskan ilmu-ilmu merekakepada putera tunggal mereka yang bernama Kao Cin Liong dan kini tinggal dikota Pao-teng dekat kotaraja, juga mereka mengajarkan beberapa macam ilmuk epada Can Bi Lan yang kini menjadi nyonya Sim Houw. Apakah kini mereka harus mengambil seorang murid lagi ketika usia mereka sudah amat tua? Akan tetapi, ada benarnya juga pendapat Tiong Khi Hwesio tadi tentang peristiwa kebetulan yang merupakan tanda kekuasaan dan kehendak Thian. Mereka mengangguk setuju dan Wan Ceng berkata sambil tersenyum.

"Tek Hoat, kalau begitu engkau juga harus tinggal disini untuk mewariskan ilmumu kepadanya."

"Ha-ha-ha, tentu saja! Pinceng memangsuka sekali menghabiskan sisa usia pinceng disini, kalau kalian tidak berkeberatan."

"Kenapa keberatan? Kami suka sekali!" kata kakek Kao Kok Cu. "Akan tetapi kita tidak boleh melupakan hal yang terpenting, yaitu apakah Tan Sin Hong suka tinggal disini sebagai murid kita?"

Sin Hong sejak tadi mendengarkan saja percakapan itu. Dia sedang tenggelam dalam lamunan penuh duka. Ayah ibunya tewas secara mendadak dan dia tidak memiliki apa-apalagi. Terutama sekali, dia terkesan sekali oleh percakapan tiga orang tua itu tentang kematian ayahnya. Ayahnya dibunuh orang! Agaknya direncanakan. Tang-piauwsu mencurigakan, walaupun belum ada bukti. Dan dialah yang kelak harus menyelidiki danmembuka rahasia itu, dia perlu memiliki kepandaian yang tinggi. Ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya, tidak ada artinya. Ayahnya sendiri pun tewas melawan penjahat, apa lagi dia! Kini, mendengar percakapan tiga orang tua sakti itu yang ingin mengambilnya sebagai murid, dan mendengar kakek KaoKok Cu menyinggung apakah dia suka menjadi murid mereka atau tidak, tanpa ditanya lagi dia lalu menjatuhkan diri bertiarap di atas lantai, menyentuh lantai dengan dahinya berulang kali.

"Sam-wiLocianpwe, teecu(murid)Tan Sin Hong bersumpah untuk menjadi muridyang baik kalau Sam-wi sudi mengambil teecu sebagai murid." Berulang-ulang dia berkata demikian.

Dengan suaranya yang lantang dan tegas kakek Kao Kok Cu berkata, "Tan Sin Hong, benarkah engkau bersedia untuk mematuhi semua perintah kami kalau engkau menjadi murid kami?"

"Teecu bersumpah untuk mentaati dan mematuhi semua petunjuk dan perintah Sam-wi Locianpwe!" kata Sin Hong dengan setulus hatinya.

"Dan engkau tidak akan mengeluh menghadapi latihan yang amat berat?" sambung Tiong Khi Hwesio.

"Biar sampai mati sekalipun dalam mentaati perintah, teecu tidak akan mengeluh."

Tiga orang tua itu diam-diam menjadi girang dan mulai hari itu, Tan Sin Hong tinggal di situ, bekerja keras sebagai pelayan, membersihkan istana dan bekerja di kebun, melayani semua kebutuhan tiga orang tua itu, akan tetapi sebagai imbalannya, dia pun mulai digembleng oleh mereka bertiga! Menjadi murid seorang saja di antara tiga orang sakti ini sudah merupakan suatu keberuntungan besar, apalagi sekaligus menjadi murid mereka bertiga!

Sin Hong tidak menyia-nyiakan kesempatan yang amat baik ini dan dia pun belajar dan berlatih dengan amat tekun nya, siang malamtak pernah berhenti kecuali kalau sedang bekerja. Bahkan da lam melaksanakan pekerjaannya sekalipun, dia melatih diri sehingga dia mem peroleh kemajuan pesat, kalau malam, setelah lelah berlatih, dia mencurahkan pikirannya untuk mengingat semua pelajaran yang diterimanya dari tiga oranggurunya.

Tiga orang tua renta itu maklum bahwa bagi seorang murid seperti Sin Hong, tak mungkin dapat mempelajari semua ilmu mereka bertiga, akan memakan waktu terlalu lama. Mereka sudah tua sekali selain sudah merasa malas untuk banyak bergerak melatih ilmu silat, juga maklum bahwa akan sayang kalau sampai mereka mati sebelum ilmu mereka dapat diterima dengan baik oleh murid terakhir itu. Oleh karena itulah, mereka masing-masing sengaja memilihkan ilmu-ilmu simpanan mereka saja untuk diajarkan kepada Sin Hong, setelah menggembleng pemuda itu untuk menguasai langkah-langkah dan gerakan-gerakan dasar dari ilmu mereka bertiga. Kao Kok Cu menurunkan Ilmu Sin-liong Ciang-hoat dan biarpun muridnya tidak berlengan buntung, dia mengajarkan juga cara menghimpun tenaga sakti melalui Ilmu Sin-liong Hok-te. Nenek Wan Ceng juga mengajarkan Ilmu Ban-tok-ciang dan melatih pemuda itu untuk menghimpun tenagab eracun agar dapat melakukan Ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) dengan baik. Sementara itu Tiong Khi Hwesio menurunkan gabungan Ilmu Pat-moSin-kundan Pat-sian Sin-kun, juga melatih menghimpun tenaga sakti lewat ilmu sinkang Tenaga Inti Bumi!

Tentu saja untuk dapat menguasai ilmu-ilmu yang sakti itu, Sin Hong harus berlatih mati-matian, menggembleng diri sehingga dia tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa yang kurus saking bekerja keras setiap hari dan malam untuk menguasai ilmu-ilmu itu! Dan sejak tinggaldi situ, dia hanya mau memakai pakaian serba putih untuk mengabungi ayah ibunya yang tewas secara menyedihkan.

Tiga tahun kemudian ketika dia berada di situ mempelajari ilmu, pada suatuhari datang berkunjung seorang laki-lakigagah perkasa yang berusia lima puluh tiga tahun. Dia ini bukan lain adalahKao Cin Liong, putera tunggal dari KaoKok Cu dan Wan Ceng, yang datang berkunjung dan membujuk ayah ibunya yangtelah tua itu untuk tinggal bersama dia di Pao-teng.

"Ayah dan ibu telah berusia lanjut,dansaya sekeluarga tinggal jauh di Pao-teng, sungguh tidak enak bagi saya kalaumengingat keadaan ayah dan ibu. Sebaiknya kalau ayah berdua tinggal bersamakami di Pao-teng agar kami dapat mengurus semua keperluan ayah berdua," demikian antara lain Kao Cin Liong membujuk orang tuanya.

Akan tetapi ayah ibunya tetap tidak mau menuruti permintaan puteranya. "Ketahuilah bahwa aku lebih suka tinggal di tempat yang sunyi ini bersama ayahmu,Cin Liong.Kami dapat mengurus diri sendiri dan andaikata kelak kami meninggal dunia, kami dapat saling mengurus atau merawat dan ada satu diantara kami yang mengabarimu di Pao-teng," demikian nenek Wan Ceng berkata. Puteranya tidak merasa heran mendengar ibunya sedemikian enaknya bicara tentang kematian. Dia sudah mengenal watak ibu dan ayahnya yang menganggap kematian sebagai hal yang biasa saja.

"Pula, kami sekarang mempunyai seorang murid yang juga melayani semua keperluan kami. Inilah dia, namanya Tan Sin Hong." kata Kao Kok Cu. "Juga di sini tinggal pula Tiong Khi Hwesio yang menambah kegembiraan kami. Tidak perlu engkau memusingkan kami tiga orang-orang tua dan biarkan kami dalam kegembiraan kami sendiri." Dia lalu menceritakan tentang Sin Hong yang segera memberi hormat kepada Kao Cin Liong yang disebutnya "suheng" (kakak seperguruan). Diam-diam Cin Liong merasa heran dan kagum akan baiknya nasib anak itu yang secara tak terduga telah menjadi murid ayah ibunya dan juga Tiong Khi Hwesio!

Kao Cin Liong tinggal selama satu minggu di istana Gurun Pasir dan setelah dia meninggalkan tempat itu, pulang ke Pao-teng, kehidupan di situ menjadi seperti biasa lagi. Sin Hong tekun berlatih silat, dan tiga orang tua renta itu kadang-kadang masih suka berkeliaran di padang pasir, bahkan beberapa kali masih suka bermain-main dengan badai!

***

Sang waktu berjalan dengan amat cepatnya. Kalau kita masing-masing menengok ke belakang, kepada kehidupan kita di masa lalu di masa kanak-kanak, di masa muda dan selanjutnya, akan nampak betapa cepatnya waktu berjalan. Bagi seorang dewasa, masa kanak-kanak yang lewat belasan tahun yang lalu, hanya seolah-olah baru kemarin saja. Semua peristiwa di masa kanak-kanak nampak seperti baru terjadi kemarin dan kenangan pada masa lalu ini akan membuat setiap orang menyadari bahwa tahu-tahu dia telah menjadi tua! Demikian pendeknya kehidupan ini, mengapa waktu yang pendek itu tidak kita isi dengan langkah-langkah yang berguna, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain? Apa yang telah kita lakukan bagi manusia, bagi dunia, bagi Tuhan? Pertanyaan seperti ini sudah sepatutnya kita pertanyakan kepada diri sendiri masing-masing, dan bagi mereka yang belum pernah melakukan hal yang berguna atau merasa belum pernah, marilah mulai dari saat ini juga. Langkah hidup apakah yang berguna? Tentu bukan langkah hidup atau perbuatan yang mengandung pamrih bagi kepentingan diri sendiri, karena langkah seperti itu hanya akan menimbulkan konflik atau pertentangan. Langkah hidup yang benar dan berguna hanyalah langkah atau perbuatan yang didasari oleh cinta kasih. Karena itu, mengapa tidak membiarkan cinta kasih bersinar menerangi batin? Bukan dengan cara memupuk cinta kasih, karena hal ini tidak mungkin. Bukan dengan jalan mempraktekkan cinta kasih atau mengusahakan agar kita menjadi baik dan menjadi seorang pengasih. Sama sekali tidak mungkin. Kita hanya dapat menyingkirkan hal-hal yang memenuhi batin kita, hal-hal yang bukan cinta kasih, bahkan yang membuat batin tertutup bagi masuknya sinar cinta kasih. Kita harus menyingkirkan kebencian, iri hati, permusuhan, dendam, ambisi pribadi, pementingan diri dan segala macam keinginan yang didorong oleh nafsu. Kalau batin sudah bersih dari semua itu, tanpa kita panggil, tanpa kita cari, sinar cinta kasih akan menerangi batin, dan dalam keadaan demikian, semua perbuatan kita akan didasari cinta kasih, berarti hidup kita berguna, baik bagi manusia maupun bagi Tuhan!

Tanpa terasa lagi, sudah tujuh tahun Tan Sin Hong tinggal di Istana Gurun Pasir! Dan berkat ketekunannya, kerajinannya yang tak mengenal lelah, dalam usia dua puluh satu tahun, berhasillah dia menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh tiga orang gurunya kepadanya.

Sementara itu, tiga orang tua yang tinggal di Istana Gurun Pasir, kini menjadi semakin tua! Tiong Khi Hwesio sudah berusia hampir delapan puluh tahun, demikian pula nenek Wan Ceng, sedangkan suaminya Kao Kok Cu, telah berusia delapan puluh lima tahun! Mereka merasa betapa tenaga mereka digerogoti usia dari dalam, daya tahan mereka berkurang, hanya penggunaan otak mereka yang belum mundur, bahkan mereka menjadi semakin waspada dan pandai. Karena merasa bahwa mereka bertiga sudah mendekati akhir usia, mereka bertiga ketika habis melakukan latihan samadhi bersama, mendapat kesempatan untuk bersama-sama menciptakan suatu ilmu yang khas untuk diwariskan kepada murid mereka yang baik itu. Selama tujuh tahun mereka melihat betapa Sin Hong adalah seorang yang selain tekun, tabah dan juga berkemauan keras, memiliki kesetiaan dan kebaktian terhadap mereka. Hal ini membuat mereka merasa suka dan sayang kepada Sin Hong. Mereka pun mulai menciptakan suatu ilmu bersama dan setelah mereka berhasil, mereka mengajarkan ilmu ini kepada Sin Hong. Ilmu ini diilhami oleh gerakan seekor burung bangau, walaupun intinya mengandung sari dari ilmu ketiga orang tua itu. Karena gerakannya, mereka memberi nama Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih) dan mengajarkannya kepada Sin Hong.

Akan tetapi, bukan mudah mempelajari ilmu silat yang didasari ilmu batin yang kuat ini. Sin Hong sendiri tertegun karena kaget mendengar pesan Kao Kok Cu yang mewakili mereka bertiga. "Sin Hong, ketahuilah bahwa ilmu yang akan kami berikan kepadamu ini bukan ilmu sembarangan, melainkan ilmu perahan dari kepandaian kami bertiga. Sin-kang yang dikandung ilmu silat ini merupakan sin-kang gabungan dari kami bertiga yang akan kami salurkan kepadamu pula. Untuk itu, sebelumnya engkau harus tahu bahwa setelah engkau menerima saluran sin-kang dari kami lalu mempelajari Pek-ho Sin-kun sampai tamat, engkau harus menghindarkan dirimu dari semua gerakan ilmu silat selama satu tahun penuh. Sanggupkah engkau?"

Sambil berlutut Sin Hong bertanya. "Sebelum teecu menyatakan kesanggupan teecu, ingin teecu mengerti apa yang Suhu maksudkan dengan menghindarkan diri dari semua gerakan silat itu?"

"Engkau tidak boleh bersilat walaupun menghadapi ancaman apa pun juga, dan sama sekali tidak boleh mengerahkan sin-kang. Setiap kali ada kesempatan, engkau harus bersamadhi dengan mengendurkan seluruh otot dan syaraf, meniadakan segala kemauan dan pikiran, agar tenaga yang kami salurkan kepadamu dapat mengendap dan menyesuaikan diri dengan tubuhmu. Kalau engkau melanggarnya, engkau akan celaka oleh tenagamu itu sendiri. Nah, syaratnya amat berat. Sanggupkah engkau?"

Sin Hong berpikir dengan keras. Sungguh berat syarat itu. Bagaimana dia dapat membiarkan diri kosong seperti itu selama setahun? Berlatih silat pun tidak boleh! Akan tetapi, makin sukar syaratnya, tentu makin hebat ilmunya dan dia pun segera mengangguk.

"Teecu menerima syarat itu, Suhu. Akan tetapi teecu mohon keterangan lagi untuk dapat teecu mengerti benar dan agar tidak sampai teecu melakukan pelanggaran kelak. Bagaimana kalau ada orang yang mengancam dan menyerang teecu?"

"Omitohud     mengapa engkau dihantui rasa khawatir, Sin Hong?" kata Tiong Khi Hwesio. "Biarpun ada yang menyerangmu, hendak membunuhmu sekalipun engkau tidak boleh menggerakkan ilmu silat yang akan menggerakkan pula tenaga sin-kang di tubuhmu."

"Jadi teecu sama sekali tidak boleh membela diri walaupun teecu tidak akan menentang?"

"Tentu saja boleh berusaha menyelamatkan diri. Akan tetapi engkau hanya boleh menggunakan akal atau kalau terpaksa menggunakan tenaga juga, hanya tenaga otot biasa saja, bukan tenaga sin-kang. Sudah tentu engkau dapat terancam bahaya maut dengan syarat ini, akan tetapi itu sudah menjadi resikonya mempelajari ilmu yang dahsyat." kata Wan Ceng.

"Baik, teecu menerima syarat itu!" kata Sin Hong dengan suara tegas dan penuh semangat.

Mulailah dia mempelajari Ilmu Pek-ho Sin-kun. Karena dia sudah menguasai ilmu-ilmu simpanan dari tiga orang gurunya, maka ilmu gabungan ini dapat dikuasainya dalam waktu pendek saja. Kemudian, dia disuruh duduk bersila. Ketiga orang gurunya duduk bersila pula di belakangnya. Tiong Khi Hwesio lalu menempelkan telapak tangan kanan ke pundak kanannya, Kao Kok Cu menempelkan telapak tangan di punggungnya, dan Wan Ceng menempelkan tangan di pundak kirinya. Perlahan-lahan, setelah dia disuruh membuka dirinya tanpa melakukan perlawanan sedikit pun, Sin Hong merasa betapa hawa yang hangat mengalir ke dalam tubuhnya melalui tiga bagian tubuh yang ditempel telapak tangan itu. Makin lama hawa itu menjadi semakin banyak mengalir dan menjadi semakin panas, berputar di seluruh tubuhnya, kemudian perlahan-lahan berkumpul di pusarnya. Dia tahu betapa ada hawa sakti yang luar biasa kuatnya memasuki tubuhnya, maka dia pun hanya menerima saja tanpa melawan sedikit pun. Setelah tiga orang itu menghentikan penyaluran hawa sakti itu dan ketiganya menggeser duduk mereka ke belakang, Sin Hong merasa betapa ada hawa yang kuat sekali berpusing di dalam pusarnya. Dia membalik dan berlutut menghadap ketiga orang gurunya. Mereka itu agak pucat dan terengah, namun mereka tersenyum memandang kepadanya dengan pandang mata penuh kasih sayang. Hal ini membuat Sin Hong terharu bukan main dan dia pun bertiarap, menyentuh lantai di depan kaki mereka dengan dahinya berulang kali sambil menghaturkan terima kasih.

"Sekarang, sebaiknya engkau segera melakukan siu-lian (samadhi) di dalam kamarmu, Sin Hong. Boleh engkau melaksanakan pekerjaanmu, akan tetapi yang penting saja dan selebihnya dari waktumu, pergunakan untuk samadhi. Dan ingat pesan kami bertiga."

Sin Hong kembali menghaturkan terima kasih dan dia pun keluar dari ruangan itu, memasuki kamarnya dan cepat duduk bersila dan bersamadhi mengendurkan seluruh tubuhnya luar dalam dan membiarkan tenaga sakti yang berpusingan di dalam pusarnya itu bergerak-gerak seperti benda hidup di dalam tubuhnya!

Seperti biasa, dengan amat tekun Sin Hong kini mempergunakan kesempatan untuk bersamadhi. Dengan girang dia mendapat kenyataan betapa keliaran tenaga sakti yang dia terima dari tiga orang gurunya itu, semakin teratur dan bergerak mengelilingi semua bagian tubuhnya dengan lembut, tidak lagi liar seperti pada hari-hari pertama. Makin lama tenaga itu mengendap di pusarnya dan dia mendapat kenyataan betapa sedikit ketegangan saja sudah cukup untuk membuat tenaga itu bangkit dan berputaran di seluruh tubuhnya. Tahulah dia akan maksud guru-gurunya yang melarang dia mengerahkan sin-kang selama satu tahun. Kalau dia mengerahkan tenaga, maka tenaga sakti yang amat besar itu akan bangkit dan mengamuk, dan tentu tubuhnya bagian dalam tidak akan mampu menahannya karena tenaga sakti itu masih setengah liar dan belum dapat dikendalikannya.

Keadaan seperti itu berlangsung terus selama sepuluh bulan. Kini, semenjak mereka mengajarkan ilmu gabungan terakhir kepada Sin Hong, tiga orang tua itu banyak menganggur dan mereka lebih banyak bersamadhi. Mereka merasa betapa tenaga mereka semakin berkurang, bukan karena disalurkan kepada Sin Hong, melainkan karena dimakan usia tua.

Pada suatu pagi yang cerah, istana itu nampak sunyi sekali. Empat orang penghuninya semua masih duduk bersila, melakukan samadhi pagi yang amat baik karena pada saat itu, sinar matahari pagi merupakan sesuatu yang amat baik, mengandung kekuatan yang dahsyat dan dengan bersamadhi, mereka dapat menampung kekuatan ini, kekuatan yang menghidupkan.

Akan tetapi, tidak seperti biasanya, di tempat yang sunyi itu kini didatangi serombongan orang aneh-aneh. Tidak kurang dari tujuh belas orang yang perlahan-lahan menghampiri Istana Gurun Pasir. Mereka datang dari arah selatan dan sikap mereka amat berhati-hati, bahkan seperti orang-orang yang takut-takut, agaknya gentar karena mereka sudah mendengar akan kehebatan nama Istana Gurun Pasir ini. Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw kenamaan, tentu saja mereka tahu bahwa penghuni Istana Gurun Pasir ini adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir yang sakti, bahkan isterinya juga seorang nenek yang sakti.

Di halaman depan istana itu, mereka berhenti. Enam orang di antara mereka, yang agaknya menjadi pemimpin, berbisik-bisik seperti merundingkan sesuatu dan sikap mereka jelas membayangkan perasaan gentar. Bagi orang yang biasa menjelajahi dunia kang-ouw, akan mengenal enam orang ini karena mereka, adalah tokoh-tokoh besar yang terkenal di dunia persilatan. Orang pertama adalah seorang wanita yang usianya sudah enam puluh tujuh tahun, akan tetapi masih nampak cantik karena ia pesolek, dan pakaiannya juga serba indah, sikapnya lemah lembut dan gerak-geriknya yang halus tidak menunjukkan bahwa ia sebenarnya adalah seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan namanya ditakuti banyak orang di dunia persilatan. Tubuhnya tinggi ramping dengan pinggang yang lemas seperti batang pohon yang-liu. Inilah Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti), seorang yang tidak saja memiliki ilmu pedang yang dahsyat, akan tetapi bahkan pandai pula ilmu sihir! Kini ia berdiri dengan tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri memegang kebutan bergagang emas.

Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia lima puluh dua tahun, tubuhnya tinggi besar dan brewok. Dia juga bukan orang sembarangan karena dia terkenal sebagai seorang pencuri yang amat lihai, berjuluk Sai-cu Sin-touw (Maling Sakti Muka Singa), memiliki sepasang tangan yang bergerak cepat sekali sehingga dengan kedua tangan kosong saja dia berani menghadapi lawan tangguh yang bersenjata. Sai-cu Sin-touw ini merupakan seorang tangan kanan dan pembantu yang dipercaya oleh Sin-kiam Mo-li.

Orang ke tiga seorang kakek berusia tujuh puluh dua tahun, juga bertubuh tinggi besar dengan perut gendut sekali seperti karung beras, mengenakan jubah kuning yang di bagian dadanya bergambar pat-kwa. Dari jubahnya ini mudah dikenal bahwa dia adalah seorang tokoh Pat-kwa-kauw (Agama Segi Delapan) yang tinggi kedudukannya. Rambutnya yang sudah putih semua itu menutupi sebagian mukanya karena riap-riapan, muka pucat kekuningan seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi Ok Cin Cu, kakek pendeta ini, lihai bukan main dengan tongkatnya yang berbentuk ular dan berwarna hitam.

Orang ke empat adalah suhengnya, bernama Thian Kong Cin-jin dan dia adalah wakil ketua Pat-kwa-kauw cabang utara. Usianya sudah tua sekali, tujuh puluh delapan tahun, rambut dan jenggotnya sudah putih, tubuhnya tinggi kurus namun berwibawa. Sikapnya halus lemah lembut dan dia membawa sebatang tongkat yang setinggi tubuhnya. Dibandingkan para pendeta lainnya, Thian Kong Cin-jin ini paling lihai dan tingkat kepandaiannya bahkan seimbang dengan Sin-kiam Mo-li yang dianggap pimpinan rombongan ini.

Orang ke lima juga sudah tua, tujuh puluh lima tahun usianya. Dia adalah Thian Kek Seng-jin dan melihat jubahnya yang bergambar bunga teratai di dadanya, dapat diketahui bahwa dia adalah seorang tokoh besar perkumpulan Pek-lian-kauw. Biarpun usianya sudah tua namun mukanya merah seperti darah, tubuhnya kurus kering dan dia memiliki sepasang mata seperti mata kucing. Dia juga membawa sebatang tongkat yang berbentuk ular berwarna hitam.

Orang ke enam dari kelompok pimpinan ini bernama Coa-ong Seng-jin, usianya tujuh puluh dua tahun dan dia juga tokoh Pek-lian-kauw, sute (adik seperguruan) dari Thian Kek Seng-jin. Tubuhnya kecil bongkok, mukanya buruk mirip muka monyet. Akan tetapi jangan dipandang rendah kakek kecil buruk ini, karena selain ilmu silat yang cukup lihai dengan tongkat ular hidup sepanjang lima kaki, dia juga ahli atau pawang ular yang dapat memanggil ular-ular berbisa untuk membantunya menghadapi lawan!

Enam orang ini bersatu dibawah pimpinan Sin-kiam Mo-li yang dianggap paling lihai. Hanya Sin-kiam Mo-li seorang yang tidak menjadi tokoh dari suatu perkumpulan agama sedangkan lima orang itu, yang seorang adalah pembantunya, sedangkan empat yang lain adalah para pendeta Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw. Bahkan sebelas orang yang menjadi anak buah mereka adalah para anggauta Pek-lian-kauw yang pilihan dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.

Apakah maksud kedatangan tujuh belas orang itu ke Istana Gurun Pasir? Para pendeta itu terkena hasutan Sin-kiam Mo-li yang menganggap dua keluarga dari Pulau Es dan Istana Gurun Pasir sebagai musuh-musuh besarnya. Dan karena dua perkumpulan itu, Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw juga merupakan perkumpulan pemberontak yang banyak melakukan penyelewengan dan kejahatan, maka sudah seringkali, mereka bentrok dengan anggauta keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Maka, ketika dihasut dan diajak oleh Sin-kiam Mo-li untuk menyerbu Istana Gurun Pasir, mereka pun menyambut dengan baik walaupun mereka masih ragu-ragu dan takut-takut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar