Lewat tengah hari, rombongan ini melalui sebuah bukit yang sunyi. Ketika mereka tiba di tanah datar yang diapit hutan, tiba-tiba mereka dihadang oleh beberapa orang yang berdiri di tengah jalan dan mereka mengangkat tangan ke atas memberi isyarat agar rombongan itu berhenti. Ketika para pengawal yang berada di depan mengenal seorang di antara mereka yang berdiri menghadang, mereka terkejut, menghentikan kuda dan memberi isyarat ke belakang agar rombongan berhenti. Seorang perwira pasukan pengawal segera turun dari atas kudanya dan memberi hormat kepada orang yang dikenalnya itu. Orang itu adalah Kao Cin Liong! Biarpun dia kini sudah tidak menjadi panglima lagi, sudah mengundurkan diri dan berpakaian biasa, akan tetapi para perajurit itu mengenalnya dan nama Kao Cin Liong ini amat populer di antara perajurit sebagai seorang panglima yang disegani dan dikagumi. Maka, begitu melihat bahwa yang menghadang dan menyuruh mereka berhenti itu adalah bekas jenderal itu dan beberapa orang tua yang nampak gagah, pasukan pengawal itu segera berhenti.
Ketika kereta terpaksa dihentikan oleh kusirnya karena para pengawal di depan juga menghentikan kuda, Tek Ciang merasa heran dan diapun menjenguk keluar dari jendela. Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika dia melihat orang-orang yang menghadang di depan itu. Kao Cin Liong, Suma Hui, Suma Kian Lee dan isterinya, Kao Kok Cu dan isterinya, dan seorang pemuda yang tidak dikenalnya. Pemuda itu adalah Kwee Cin Koan, murid Kong-thong-pai, kekasih Can Kui Eng.
Celaka, pikirnya. Biarpun dia sendiri memiliki kepandaian tinggi, juga dua orang gurunya she Cu yang lihai berada di situ, bersama Cu Pek In, dan masih dibantu oleh empat orang tokoh yang sakti, namun dia merasa gentar juga menghadapi para penghadang itu, terutama sekali Suma Kian Lee bersama isteri dan Si Naga Sakti Gurun Pasir bersama isteri. Maka dia lalu menoleh ke belakang, memikirkan jalan lari atau kembali ke kota raja untuk melapor dan mengerahkan balatentara menghadapi mereka itu. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat jalan mundur sudah dipotong pula. Di situ berkumpul banyak sekali pendekar, agaknya para pendekar yang lolos dari pengepungan di Hutan Cemara!
"Pemberontakan! Serbu mereka....!" Bentak Tek Ciang kepada pasukan pengawalnya. Teriakan ini mengejutkan Cu Han Bu dan Cu Seng Bu yang segera berloncatan keluar. Juga Cu Pek In meloncat keluar mencabut sulingnya, sedangkan empat orang kakek yang menyelinap di antara para pengawal sudah siap-siap pula. Akan tetapi, perwira dan para perajurit pengawal itu sendiri diam saja tidak bergerak!
"Pasukan pengawal, serbu para pemberontak yang menghadang di depan!" Tek Ciang mengulangi perintahnya.
Akan tetapi para perajurit itu tidak bergerak, dan perwiranya tidak memberi aba-aba menyerang, bahkan dia yang sudah turun dari kuda itu lari menghampiri Tek Ciang, lalu berkata. "Ciangkun, mereka itu bukan pemberontak, melainkan Kao-goanswe dan beberapa orang locianpwe yang hendak bicara dengan Louw-ciangkun!"
Dua orang she Cu itu juga sudah menghampiri Tek Ciang dan mendengar pelaporan perwira itu, Cu Han Bu berkata kepada muridnya. "Kalau mereka ada urusan, lebih baik kita temui saja dan dengarkan apa kehendak mereka menghadang perjalanan kita."
Tek Ciang merasa serba salah dan karena di situ terdapat keluarga Cu, diapun tidak dapat berbuat lain kecuali menurut, akan tetapi lebih dahulu dia membakar hati kedua orang gurunya. "Harap suhu ketahui bahwa kita sudah terkurung dari depan dan belakang. Mereka adalah pemberontak-pemberontak yang menentang pemerintah dan mereka tentu akan mengganggu teecu yang baru saja diangkat menjadi panglima."
"Jangan takut, kalau memang mereka pemberontak, kita hancurkan di sini bersama pasukan pengawal!" kata Cu Han Bu.
"Akan tetapi suhu tidak tahu siapa mereka! Mereka adalah komplotan keluarga yang hendak mencelakakan teecu. Seperti pernah teecu ceritakan kepada ji-wi suhu, isteri teecu dirampas oleh Jenderal Kao Cin Liong dan sekarang dialah yang menghadang di sana bersama bekas isteri teecu, bekas kedua mertua teecu dan juga orang tua jenderal itu. Mereka tentu akan mencelakai teecu."
Cu Han Bu mengerutkan alisnya. Memang pernah Tek Ciang bercerita bahwa dia pernah menikah akan tetapi isterinya itu dirampas oleh seorang jenderal muda. Isterinya, juga kedua orang mertuanya memilih jenderal itu yang berkedudukan tinggi. Karena Tek Ciang sebagai muridnya yang berbakat itu telah menjadi seorang duda, maka diam-diam mengharapkan agar murid ini dapat berjodoh dengan puterinya yang juga dapat dibilang sudah menjadi janda karena sudah berpisah dari suaminya. Maka, kini mendengar bahwa keluarga bekas isteri dan jenderal yang merampas isteri muridnya itu yang menghadang, tentu saja hatinya sudah diliputi rasa tidak senang.
"Jangan takut, aku akan membantumu!" katanya membesarkan hati dan mereka bertiga, diikuti pula oleh Cu Pek In, segera berjalan menuju ke depan di mana tujuh orang itu berdiri di tengah jalan. Diam-diam, empat orang pembantu Tak Ciang juga sudah mendekati tempat itu, siap untuk membantu kalau diperlukan. Di antara mereka dan Tek Ciang, sudah ada persetujuan bahwa mereka tidak akan sembarangan keluar memperlihatkan diri kalau tidak dimintai bantuan. Hal ini untuk mencegah adanya kecurigaan dari siapapun juga datangnya.
Sejak tadi, Suma Hui hanya memandang kepada Tek Ciang seorang, tidak memperdulikan lain orang yang datang bersama musuh besarnya ini. Dan begitu Tek Ciang dan rombongannya tiba di situ, Suma Hui sudah mencabut keluar sepasang pedangnya dan dengan sikap gagah wanita ini berdiri melintangkan sepasang pedang di depan dada, sambil membentak. "Louw Tek Ciang, kami datang untuk mengadu nyawa denganmu! Bersiaplah!"
Menghadapi Suma Hui, tentu saja Tek Ciang tidak merasa takut sedikitpun juga. Akan tetapi dia merasa gentar menghadapi yang lain-lain, maka dia berusaha menarik sikap angkuh dan membentak. "Keluarga pemberontak! Beranikah engkau menghadang perjalananku? Tahukah kalian bahwa aku adalah seorang pembesar pemerintah, seorang pejabat militer yang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tugas?"
"Louw Tek Ciang, tak perlu banyak cerewet. Engkau tahu bahwa urusan antara kita adalah urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan pemerintah!" Suma Hui membentak dan kelihatannya wanita ini sudah marah sekali, penuh dendam yang ditahan-tahan sejak bertahun-tahun. Diam-diam keluarga Cu merasa heran sekali. Wanita ini, kalau benar bekas isteri Tek Ciang, telah melakukan perbuatan tidak mengenal malu, lari dari suami untuk menjadi isteri Jenderal Kao Cin Liong, akan tetapi wanita itu kini kelihatannya begitu marah dan penuh dendam kepada Tek Ciang, bekas suaminya yang ditinggalkan!
Tek Ciang merasa tersudut, akan tetapi dia tersenyum mengejek dan memandang wajah Suma Hui yang belum pernah menjadi isteri yang sesungguhnya itu. "Hemm, Suma Hui, jangan dikira aku takut melawanmu. Akan tetapi apakah hanya engkau yang akan maju menandingiku, ataukah engkau hendak mengandalkan pengeroyokan orang-orang lain?"
"Keparat Louw Tek Ciang! Fitnah yang kaujatuhkan kepada diriku patut kautebus dengan nyawamu!" bentak Kao Cin Liong sambil mengepal tinjunya dan memandang marah.
"Iblis busuk, akupun sudah terlalu lama menitipkan nyawamu kepadamu, sekarang harus kucabut nyawamu untuk perbuatanmu yang terkutuk terhadap keluarga kami!" Tiba-tiba Suma Kian Lee membentak pula dan sepasang mata pendekar ini mencorong mengeluarkan sinar berkilat.
"Biarkan aku yang akan menghancur-lumatkan kepala iblis jahanam ini!" Kim Hwee Li membanting kakinya dengan marah.
Melihat betapa semua orang memusuhi dan hendak membunuh muridnya, tentu saja Cu Han Bu, Cu Seng Bu dan juga Cu Pek In menjadi penasaran dan marah. Dua orang kakek Cu sudah melangkah maju dan Cu Han Bu dengan alis berkerut lalu berkata, suaranya lantang berwibawa.
"Bagus! Sudah lama kami mendengar bahwa keluarga Pulau Es adalah orang-orang gagah dan pendekar- pendekar sejati, akan tetapi kiranya hanyalah orang-orang yang mengandalkan jumlah banyak untuk mengeroyok orang! Sungguh mengherankan sekali!"
"Siapa mau mengeroyok dan siapa mengandalkan jumlah banyak? Cih, tak tahu malu! Lihat saja, siapa yang lebih banyak membawa kawan? Boleh kalian maju satu demi satu, akan kami tandingi satu lawan satu!" Kim Hwee Li sudah membentak dan melangkah maju.
Akan tetapi Suma Kian Lee dapat menduga bahwa dua orang kakek itu tentu bukan orang sembarangan. Dia sudah mengenal kelicikan Tek Ciang dan dia khawatir kalan-kalau Tek Ciang mengelabuhi tokoh sakti untuk diadu domba dengan pihaknya, maka dengan tenang dia meraba lengan isterinya dan memberi isyarat agar isterinya bersabar, kemudian dia sendiri menjura kepada dua orang kakek itu.
"Maaf, saya Suma Kian Lee adalah keturunan Pulau Es. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya ingin tahu siapakah ji-wi dan hendaknya ji-wi ketahui bahwa antara kami dan iblis busuk Louw Tek Ciang ini terdapat urusan pribadi yang tidak mungkin dapat dicampuri orang lain."
Mendengar bahwa pria yang gagah dan bersikap tenang itu adalah Suma Kian Lee, putera Pendekar Super Sakti yang terkenal, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu memandang penuh perhatian. Mereka berdua sudah mendengar cerita murid mereka Louw Tek Ciang, bahwa Tek Ciang menjadi murid dan kemudian menjadi mantu pendekar ini, akan tetapi betapa kemudian isterinya itu, dengan persetujuan ayahnya, menyeleweng, bahkan lalu menjadi isteri jenderal Kao Cin Liong. Oleh karena itu, biarpun diam-diam mereka kagum kepada putera Pendekar Super Sakti ini, namun di dalam hati mereka sudah terkandung rasa tidak suka. Karena itu, Cu Han Bu tersenyum pahit.
"Ah, kiranya kami berhadapan dengan pendekar Suma yang terkenal? Maaf, kami berdua hanya orang-orang biasa saja, namaku Cu Han Bu dan ini adikku Cu Seng Bu. Biarpun antara kalian dan Louw Tek Ciang terdapat urusan pribadi, akan tetapi mengingat bahwa Tek Ciang telah menjadi murid kami, maka urusan pribadinya berarti juga urusan kami."
Suma Kian Lee yang tidak pernah atau jarang sekali merantau, tidak mendengar nama keluarga Cu. Akan tetapi dari sikap mereka dia dapat menduga bahwa dua orang she Cu ini tentu memiliki kepandaian tinggi dan bukan golongan orang jahat. Besar sekali kemungkinannya mereka berdua ini dikelabuhi pula oleh Tek Ciang sehingga mereka sampai mengambil murid seorang jahat macam Tek Ciang.
"Biarkan mereka membantu murid mereka yang jahat, kami tidak takut!" Kim Hwee Li sudah membentak marah, akan tetapi kembali suaminya menyentuh lengan isterinya agar isterinya bersabar.
"Pendapat ji-wi kami hormati, bahwa urusan pribadi murid berarti juga urusan pribadi gurunya. Akan tetapi kami kira para pendekar bijaksana tidak akan ada yang membela muridnya kalau mengetahui bahwa muridnya itu menyeleweng dan jahat, sebaliknya mereka tentu akan menghukum muridnya. Dan kami percaya bahwa ji-wi termasuk pendekar bijaksana, bukan golongan sesat yang saling membantu dalam kejahatan."
Dua orang kakek Cu itu saling pandang, kemudian mereka menoleh dan memandang kepada murid mereka dengan alis berkerut dan mata penuh selidik. "Tek Ciang, katakanlah, urusan pribadi apakah yang terjadi antara engkau dan keluarga Suma? Mengapa mereka menganggap engkau jahat? Hayo ceritakan semua sejujurnya. Kalau engkau benar, sampai matipun akan kami bela."
Tek Ciang memandang kepada dua orang gurunya dan jantungnya berdebar tegang. Akan tetapi wajahnya tidak memperlihatkan perobahan dan dia masih merasa yakin bahwa dua orang she Cu itu tentu akan membantu dan membelanya karena selain dia adalah murid mereka yang mereka andalkan, juga dia tahu bahwa Cu Han Bu mengharapkan dia menjadi suami puterinya yang janda itu.
"Ji-wi suhu, tentu saja mereka menjelek-jelekkan teecu, hal itu tidaklah mengherankan sama sekali. Seperti yang pernah teecu beritahukan kepada suhu berdua, teecu pernah diterima menjadi murid Suma Kian Lee, bahkan diambil mantu, dijodohkan dengan Suma Hui, yaitu wanita itu. Akan tetapi, setelah muncul Jenderal Kao Cin Liong yang kini sudah bukan jenderal lagi, tali perjodohan kami diputuskan dan isteri teecu itu dirampas oleh Kao Cin Liong dengan persetujuan isteri dan mertua teecu sendiri. Agaknya mereka hendak membunuh teecu karena tidak ingin rahasia busuk mereka tersiar dan merusak nama besar keluarga para pendekar Pulau Es!" Dengan senyum mengejek Tek Ciang memandang kepada Suma Hui, Cin Liong dan yang lain-lain, lalu disambungnya. "Coba kalian bantah kebenaran ceritaku tadi. Bukankah Suma Hui telah dijodohkan dengan aku? Bukankah ia kini malah menjadi isteri Kao Cin Liong?" Tek Ciang yang cerdik ini merasa yakin bahwa keluarga Suma itu tidak akan mempunyai alasan lagi untuk membantahnya. Alasan satu-satunya hanyalah menceritakan tentang peristiwa memalukan yang terjadi antara Suma Hui dan dia, dan dia yakin bahwa aib itu sampai mati sekalipun pasti tidak akan diceritakan mereka kepada orang lain.
Kini dua orang kakek Cu itu kembali menghadapi Suma Kian Lee. Dengan hati lega mereka melihat betapa keluarga itu nampak diam saja, seolah-olah menandakan bahwa keterangan murid mereka tadi benar. "Bagaimana sekarang, saudara Suma? Setelah mendengar keterangan murid kami, beranikah kalian menyangkal kebenarannya? Dan kalau keterangannya tadi benar, berarti kalianlah yang jahat, bukan murid kami!" demikian kata Cu Han Bu dengan sikap keren.
Suma Kian Lee sekeluarga saling pandang, juga Kao Kok Cu yang biasanya tenang sekali itupun kini kelihatan merah mukanya. Tiba-tiba Suma Hui melangkah maju dan dengan sikap gagah ia berkata lantang. "Kalian hanya mendengarkan keterangan sepihak. Dengarlah keteranganku akan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Iblis busuk ini, jahanam keji ini, telah...."
"Hui-ji....!" Suma Kian Lee berseru untuk mencegah puterinya.
"Biarlah, ayah. Tidak tahukah ayah bahwa jahanam ini sengaja menceritakan semua itu karena dia mengira bahwa kita tidak akan berani membuka rahasia itu?" Setelah berkata demikian Suma Hui melanjutkan sambil memandang dua orang kakek Cu. "Kalian orang-orang tua yang mudah dikelabuhi jahanam ini, dengarlah baik- baik.
Mula-mula jahanam ini mengelabuhi ayah, memikat hati ayah sedemikian rupa sehingga ayah percaya kepadanya, bahkan mengambilnya sebagai murid. Ayah telah mengorbankan semua ilmu dari Pulau Es untuk diberikan kepada jahanam ini. Akan tetapi tahukah kalian apa yang diperbuat jahanam ini? Ayah demikian terpikat dan tertipu sehingga ayah mengikat tali perjodahan antara aku dan dia. Ayah berniat memungut mantu kepadanya! Akan tetapi, aku tidak mencintanya karena aku sudah mencinta Kao Cin Liong. Dan pada suatu malam.... dengan bantuan tokoh sesat Jai-hwa Siauw-ok yang juga menjadi gurunya, jahanam busuk yang menjadi murid kalian ini membiusku dengan asap beracun, kemudian dia.... memperkosa diriku dan sengaja membisikkan nama Kao Cin Liong kepadaku yang berada dalam keadaan setengah sadar."
"Suhu, jangan percaya obrolan perempuan ini. Seorang isteri yang sudah menyeleweng meninggalkan suami dan menikah dengan pria lain, mana bisa dipercaya omongannya?" Tek Ciang membentak.
"Diam!" Bentak Cu Han Bu kepada muridnya. "Biarkan ia melanjutkan penuturannya, benar maupun tidak!""Kami sekeluarga terkena tipunya," Suma Hui melanjutkan. "Sehingga kami sekeluarga memusuhi Kao Cin Liong dan hampir terjadi kesalah-pahaman antara keluarga kami. Aku sendiri bertahun-tahun memusuhi dan mendendam kepada Kao Cin Liong yang merupakan satu- satunya pria yang kucinta. Baru rahasia kebusukannya terbuka ketika kami dinikahkan. Aku melihat tonjolan daging berambut di punggungnya, sama seperti yang terdapat pada punggung orang yang memperkosa diriku! Dan diapun sudah mengaku, akan tetapi dia dapat melarikan diri karena bantuan Jai-hwa Siauw-ok, gurunya...."
"Suhu, jangan percaya! Mereka ini adalah pemberontak-pemberontak, Jenderal Kao Cin Liong sudah berhenti dari jabatannya karena dia bersekongkol pula dengan pemberontak-pemberontak! Keluarga Pulau Es adalah pemberontak-pemberontak! Perajurit pengawal, tangkap mereka!"
"Para perajurit yang gagah, kalian mundurlah!" Tiba-tiba Kao Cin Liong membentak dengan suara lantang. "Kalian sudah mengenal siapa aku, sebaliknya baru sekarang mengenal manusia jahanam ini. Biarkan kami menyelesaikan urusan pribadi, karena tidak ada sangkut-pautnya dengan pemerintah!"
Mendengar bentakan Kao Cin Liong dan melihat bekas jenderal muda itu, para perajurit pengawal menjadi bimbang. Mereka tidak berani menentang bekas jenderal yang mereka kagumi itu.
"Ji-wi locianpwe," kata Kao Cin Liong kepada dua orang kakek she Cu. "Kami sekalian bukanlah pemberontak...."
"Kalau bukan pemberontak, mereka itu tentu pengkhianat-pengkhianat yang menyebabkan matinya para pendekar yang mengadakan pertemuan di Gunung Hutan Cemara!" Tek Ciang berseru lantang. "Ji-wi suhu, ketahuilah bahwa ratusan orang pendekar dan patriot yang sedang mengadakan pertemuan di Hutan Cemara, telah dikhianati oleh keluarga Pulau Es yang menentang mereka, sehingga mereka terbasmi oleh pasukan pemerintah...."
"Bohong! Ah, manusia keji, penyebar kejahatan dan kebohongan. Tuhan akan menjatuhkan hukuman kepadamu!" Tiba-tiba terdengar bentakan dan majulah seorang pemuda gagah perkasa. Pemuda ini adalah Kwee Cin Koan dan dia segera menghampiri kelompok orang yang sedang bersitegang itu. Tek Ciang mengenal pemuda ini yang bukan lain adalah Kwee Cin Koan, pemuda kekasih Can Kui Eng yang menyerahkan surat rahasia kepada mendiang gadis murid Kun-lun-pai itu. Dia mulai merasa khawatir, akan tetapi semua perbuatannya di Kun-lun-pai tidak diketahui pemuda ini, takut apa?
Kwee Cin Koan memberi homat kepada mereka semua. "Cu-wi locianpwe yang terhormat, saya adalah Kwee Cin Koan, murid Kong-thong-pai yang telah menyelidiki dengan seksama dan tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Cu-locianpwe, saya tahu bahwa ji-wi adalah tokoh-tokoh Lembah Naga Siluman di barat, dan agaknya, seperti juga Suma-locianpwe, ji-wi telah dikelabuhi oleh iblis Louw Tek Ciang ini. Diapun dapat pula mengelabuhi para tosu Kun-lun-pai sehingga dia diberi pinjam untuk mempelajari kitab Sin-liong Ho-kang. Cu-wi locianpwe, dengarlah ceritaku...."
"Engkau seorang di antara pemberontak yang dapat melarikan diri. Pengawal, tangkap dia!"
"Diam!" Bentak Cu Han Bu dengan marah, lalu memandang kepada para perajurit. "Siapa berani mengganggu dia akan berhadapan dengan aku!" Lalu katanya kepada Kwee Cin Koan. "Orang muda, teruskan ceritamu!"
"Saya berterus terang saja bahwa saya adalah seorang di antara para pendekar dan patriot yang berkumpul di Hutan Cemara. Beberapa pekan yang lalu saya membawa sepucuk surat dari kawan-kawan kami yang ditujukan kepada Gan-ciangkun di kota raja, yang maksudnya mohon petunjuk dan kerja sama dengan panglima itu untuk menentang pemerintah penjajah. Surat itu saya serahkan kepada.... kekasih saya yang bernama Can Kui Eng, murid Kun-lun-pai dengan pesan agar ia yang membawa surat itu ke kota raja dan menyampaikan kepada Gan-ciangkun setelah ia selesai menjaga Louw Tek Ciang, yang sedang mempelajari kitab Kun-lun-pai itu tanpa meninggalkan kuil." Pemuda itu berhenti sebentar karena apa yang hendak diceritakan masih amat menyakitkan hatinya. Pemuda ini sudah melakukan penyelidikan ke Kun-lun-pai dan bersama para tosu Kun-lun-pai, akhirnya dia dapat menduga apa yang telah terjadi ketika melihat betapa Louw Tek Ciang membantu pasukan yang menyergap para pendekar. Mudah saja diduga apa yang telah terjadi dan pemuda itu menjadi marah bukan main, mati-matian dan nekat dia hendak menghadang Louw Tek Ciang untuk membalas dendam. Dan kebetulan dia bertemu dan bergabung dengan rombongan keluarga Pulau Es!
"Tidak ada kabar ceritanya kekasih saya itu sampai terjadinya pertemuan di Hutan Cemara dan penyergapan pasukan pemerintah di mana saya melihat jahanam ini ikut membantu pasukan pemerintah. Saya yang ikut menyerah bersama keluarga Pulau Es lalu mengadakan penyelidikan ke Kun-lun-pai dan.... saya mendengar bahwa kekasih saya itu tewas dan diperkosa oleh paman gurunya sendiri bernama Ponw Kui Lok yang kemudian dibunuh oleh Louw Tek Ciang...."
"Apa? Kui Lok kaubunuh....?" Cu Han Bu membentak kaget bukan main mendengar ini.
Wajah Tek Ciang berobah pucat, lalu merah kembali. "Suhu, dia memperkosa gadis murid Kun-lun-pai itu, maka teecu menjadi marah dan kami berkelahi sampai dia terbunuh oleh teecu...."
"Bohong....!" bentak Cin Koan. "Jahanam ini memang pandai berbohong sehingga para tosu Kun-lun-pai sendiri juga tertipu olehnya. Setelah dia muncul dengan pasukan pemerintah, barulah kami semua tahu karena dapat menduga apa yang telah terjadi. Surat kepada Gan-ciangkun itu berada pada Kui Eng, bagaimana bisa terjatuh ke tangan jahanam ini dan dipergunakannya untuk mengkhianati para pendekar?
Dia membawa surat itu ke kota raja, menghadap kaisar dan melapor. Setelah penyergapan berhasil, dia mendapat anugerah pangkat. Dialah yang memperkosa kekasih saya, dan dia pula yang membunuhnya, merampas surat rahasia itu. Mungkin perbuatannya itu ketahuan oleh Pouw Kui Lok, maka dibunuhnya orang itu, dan kitab pelajaran Sin-liong Ho-kang juga dicurinya!"
Wajah Cu Han Bu dan Cu Seng Bu menjadi pucat, dan wajah Cu Pek In merah sekali bahkan kedua matanya menjadi basah.
"Benarkah semua itu? Louw Tek Ciang, benarkah semua yang kudengar itu? Benarkah cerita keluarga Pulau Es dan benarkah cerita pemuda Kong-thong-pai ini?"
"Tidak, orang ini pembohong besar dan harus kubunuh sekarang juga!" Tek Ciang sudah menerjang ke depan, menyerang Kwee Cin Koan dengan hebatnya. Terdengar suara mencicit karena dia telah menyerang dengan Ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) yang dahsyat, ilmu yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok. Agaknya dia ingin membunuh pemuda itu dengan sekali pukul. Serangan in dahsyat bukan main dan agaknya betapapun lihainya, Kwee Cin Koan tentu akan roboh kalau saja Cin Liong tidak cepat bergerak ke depan dan menangkis."Dukkk....!" Cin Liong merasa betapa lengannya tergetar hebat.
Dia terkejut. Dia sudah mempergunakan Sin-liong-ciang-hoat yang ampuh untuk menangkis, namun lengannya masih juga tergetar. Memang pada saat itu, kepandaian Tek Ciang sudah mencapai tingkat yang tinggi. Dia pernah digembleng oleh Suma Kian Lee, menjadi murid Jai-hwa Siauw-ok, kemudian malah digembleng oleh keluarga Cu di Lembah Naga Siluman, bahkan akhir-akhir ini dia mempelajari ilmu sakti Sin- liong Ho-kang dari Kun-lun-pai.
Melihat majunya Kao Cin Liong, hati Cu Han Bu tidak senang. Muridnya itu, bagaimanapun salahnya, tadi menyerang pemuda yang membeberkan kebusukan, dan majunya Kao Cin Liong dianggapnya sebagai pengeroyokan. "Mengandalkan jumlah banyak untuk mengeroyok sungguh tak bisa kudiamkan saja!" katanya dan kakek inipun menggerakkan tangannya menyerang ke arah Cin Liong. Angin kebutan lengan bajunya menyambar dahsyat ke depan dan tahulah Cin Liong bahwa kakek yang menyerangnya ini memiliki kepandaian hebat. Maka diapun sudah bersiap- siap. Akan tetapi pada saat itu terdengar angin menyambar pula dari belakangnya.
"Perlahan dulu!" Kiranya Kao Kok Cu sudah pula menggerakkan tangan tunggalnya ke depan. Angin pukulan yang amat kuat menyambar dan bertemu dengan angin pukulan yang dilancarkan Cu Han Bu. Akibatnya, tokoh Lembah Naga Siluman itu merasa betapa hawa pukulannya membalik sehingga dia terkejut bukan main. Dipandangnya laki-laki gagah berlengan buntung itu. Dia tahu betapa lihainya orang berlengan satu, ayah Jenderal Kao Cin Liong ini, akan tetapi dia berkata dengan suara lantang, penuh ejekan.
"Ayah membela anak tanpa melihat kebenaran lagi. Apakah itu gagah namanya?"
Dengan sebelah tangannya, Kao Kok Cu memberi hormat. "Sobat she Cu, perlahan dulu bicara dan pergunakanlah kesadaran dan kewaspadaanmu. Semua cerita tentang muridmu seperti yang kaudengar tadi adalah benar belaka. Perbuatannya atas diri Suma Hui juga benar. Kalau tidak benar, tidak mungkin, tidak mungkin puteraku mengawininya. Muridmu adalah seorang yang berhati busuk dan licik, banyak orang menjadi korban tipuannya. Apakah engkau juga membiarkan dirimu tertipu dan terbawa-bawa oleh kejahatan dan kebusukannya?"
Wajah Cu Han Bu berobah merah sekali. Memang dia sudah merasa bimbang ragu atas diri muridnya setelah mendengar cerita-cerita tadi, akan tetapi kekecewaan membuat dia masih berusaha untuk menghilangkan keraguan itu dan membela muridnya. Kini dia membalikkan tubuh, melotot memandang muridnya.
"Louw Tek Ciang, demi Tuhan, mengakulah sejujurnya! Benarkah semua cerita yang kudengar tadi?"
Tek Ciang menjadi pucat mukanya, sebentar berobah merah lalu pucat lagi. Dia merasa tersudut. Walaupun dia tidak takut karena mengandalkan pasukannya dan empat orang tokoh sakti yang berada di dalam pasukan itu, namun tentu saja dia amat mengharapkan bantuan dua orang gurunya ini untuk menghadapi keluarga Pulau Es yang demikian tangguhnya, apalagi pihak lawan dibantu oleh Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya. Selagi Tek Ciang kebingungan dan belum menjawab pertanyaan Cu Han Bu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan di antara para perajurit pengawal terjadilah perkelahian hebat. Yang berkelahi adalah Kao Cin Liong yang dikeroyok oleh empat orang pembantu Tek Ciang yang menyelundup di antara para pasukan dan menutupi pakaian mereka dengan pakaian seragam pasukan. Kiranya tadi Cin Liong mempergunakan kesempatan untuk mendekati para perwira pasukan dan minta kepada mereka agar jangan bergerak dan jangan mencampuri urusan pribadinya. Dalam kesempatan itulah sang perwira yang masih kagum dan hormat terhadap bekas jenderal muda ini, membisikkan adanya empat orang aneh yang diselundupkan pembesar baru itu di dalam pasukan. Kao Cin Liong merasa curiga lalu mencarinya.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati jenderal muda ini ketika dia melihat empat orang itu. Tentu saja dia mengenal mereka, bekas komplotan pemberontak yang pernah digagalkan pasukan pemerintah. Maka sambil berseru keras diapun maju menerjang dan disambut oleh empat orang itu. Karena empat orang itu memang lihai sekali, dikeroyok empat Cin Liong kewalahan dan mundur terus mendekati kelompok keluarga Pulau Es. Dia meloncat ke depan Cu Han Bu dan berkata. "Lihat, locianpwe. Siapa yang bersembunyi di dalam pasukan pengawal itu? Mereka adalah Thai-hong Lama, Pek-bin Tok-ong, Siwananda, dan Tai-lu-cin, empat orang yang pernah bersekongkol dengan pemberontak! Jahanam Louw Tek Ciang ini telah bersekongkol dengan pemberontak-pemberontak yang terdiri dari golongan sesat!"
Tentu saja semua orang terkejut, akan tetapi yang lebih kaget dan marah adalah Cu Han Bu dan Cu Seng Bu. Bagaimanapun juga, mereka adalah pendekar-pendekar yang tentu saja tidak suka kepada golongan hitam dan kini murid mereka, bahkan yang diharapkan menjadi suami Cu Pek In, telah bersekongkol dengan tokoh-tokoh jahat itu! Kenyataan ini melenyapkan keraguan mereka bahwa memang mereka telah tertipu, mereka telah keliru mengambil murid!
"Pesukan pengawal, maju dan serbu mereka ini....!" Tek Ciang yang sudah terpojok itu memberi aba-aba dengan keras. Akan tetapi, perwira pemimpin pasukan itu diam saja seperti patung dan para perajurit yang melihat komandan mereka diam saja, juga tidak ada yang berani bergerak. Memang hati mereka sudah condong memihak Kao Cin Liong, maka diamnya komandan mereka itu membuat mereka lega. Mereka tidak suka menentang bekas jenderal itu, segan dan takut.
"Louw Tek Ciang, berlututlah engkau di depan kami dan sebagai murid kami, mengakulah terus terang!" Cu Han Bu membentak.
Akan tetapi Tek Ciang yang sudah melihat betapa keadaannya terhimpit dan hanya mengandalkan empat orang pembantunya yang kini sudah berdiri di situ dengan sikap siap berkelahi, tentu saja tidak sudi untuk berlutut dan menyerah begitu saja.
"Ji-wi suhu, kalau tidak mau membantuku, persetan dengan kalian!"
"Louw Tek Ciang, engkau sungguh jahat!" Terdengar teriakan Cu Pek In dengan suara mengandung isak, dan wanita ini tiba-tiba saja menyerang Tek Ciang dari belakang, menggunakan sulingnya menotok ke arah tengkuk. Akan tetapi, biarpun Pek In merupakan puteri tunggal Cu Han Bu, dalam hal ilmu kepandaian ia masih jauh di bawah tingkat Tek Ciang. Serangan berupa totokan maut dengan suling ke arah tengkuk itu dihadapi Tek Ciang dengan tenang saja. Dia memutar tubuh sambil menggerakkan kedua tangannya, dengan jari-jari terpentang. Terdengar suara bercuitan dan tiba-tiba saja tubuh Cu Pek In terpelanting dan wanita ini tewas seketika karena ia telah menjadi korban serangan Kiam-ci yang amat hebat, dilakukan dengan kedua tangan dari jarak dekat sekali. Semua orang terkejut dan tidak dapat mencegah karena peristiwa ini begitu tiba-tiba dan tidak terduga-duga.
Sepasang mata Cu Han Bu terbelalak dan wajahnya pucat sekali memandang tubuh puterinya yang menggeletak tak bernyawa, dari lehernya mengucur darah, juga dari dadanya!
"Kau.... kau.... keparat.... kau membunuh puteriku?" Cu Han Bu mengeluarkan teriakan marah lalu menerjang dan menyerang muridnya itu. Cu Seng Bu yang juga sudah marah sekali sejak tadi, melihat kakaknya maju menyerang bekas murid itu, diapun lalu menyerang dengan sengit. Cu Han Bu terkenal dengan julukan Kim-kong-sian dan dia mempergunakan senjatanya yang berupa sabuk emas. Sabuk itu berubah menjadi segulungan sinar emas yang lihai sekali dan karena inilah dia dijuluki Dewa Sinar Emas. Sedangkan adiknya, Cu Seng Bu dijuluki Bu-eng-sian (Dewa Tanpa Bayangan) karena memiliki gin-kang yang hebat sehingga ketika dia menyerang maju, tubuhnya lenyap, hanya nampak berkelebatnya bayangannya saja.Akan tetapi, Tek Ciang sama sekali tidak gentar menghadapi serangan kedua orang gurunya ini. Dia mengelak cepat dari sambaran sabuk emas di tangan Cu Han Bu dan pedang lemas di tangan Cu Seng Bu. Bagaimanapun juga, dia sudah mengenal dasar-dasar gerakan ilmu silat dua orang tokoh Lembah Naga Siluman itu. Dan ketika dia membalas, dia mempergunakan ilmu- ilmu pukulan dari Pulau Es yang sama sekali tidak dikenal oleh kakak beradik she Cu itu sehingga mereka berdua terdesak! Karena maklum betapa lihainya dua orang lawan ini, Tek Ciang juga sudah mencabut pedangnya. Pedang di tangan kanan itu bergerak cepat dan lihai sekali karena dia telah menggunakan ilmu silat pedang Siang-mo Kiam-hoat yang dipelajarinya dahulu dari Suma Kian Lee. Siang-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) ini seharusnya dimainkan dengan sepasang pedang. Akan tetapi karena Tek Ciang hanya memegang sebatang pedang, dia menggunakan tangan kirinya untuk mengimbangi dengan Ilmu Kiam-ci, yaitu Jari Pedang dan tangan kirinya itupun tidak kalah lihainya daripada tangan kanan yang memegang pedang!
Tek Ciang memang amat pandai mengombinasikan ilmu- ilmu yang pernah dipelajarinya dari bermacam aliran. Maka, karena dia sudah mengenal gerakan kedua orang she Cu yang mengeroyoknya sebaliknya dua orang itu tidak mengenal gerakan-gerakannya, biarpun dikeroyok dua, Tek Ciang sebaliknya malah mendesak bekas guru-gurunya itu.
Ketika Cin Liong dan Suma Hui hendak maju, Kao Kok Cu memberi isyarat kepada putera dan mantunya itu untuk menahan diri. Dan Cin Liong mengerti akan isyarat ayahnya. Tentu ayahnya mengingat bahwa Tek Ciang telah diangkat sebagai seorang pejabat tinggi oleh kaisar dan kini ada banyak saksi, yaitu pasukan pengawal yang berada di situ. Biarkanlah pejabat baru itu kini berkelahi, melawan dua orang bekas gurunya sehingga para saksi itu akan melihat sendiri sehingga kelak keluarga Pulau Es tidak akan disalahkan sebagai pemberontak-pemberontak yang membunuh pejabat pemerintah!
Akan tetapi, Suma Hui yang menaruh dendam yang amat besar terhadap Tek Ciang, orang yang nyaris membuat hidupnya berantakan dan rusak, memandang dengan sinar mata berapi-api. Hatinya menjadi semakin panas melihat betapa Tek Ciang menghadapi kedua orang lawannya dengan menggunakan ilmu pedang dari Pulau Es.
Serang-menyerang terjadi dengan amat serunya. Melihat betapa dua orang kakek Cu itu semakin terdesak, bahkan Cu Seng Bu terluka pangkal lengan kirinya, robek bajunya dan berdarah karena sambaran Kiam-ci, hati Suma Hui menjadi semakin marah. Dua orang kakek itu biarpun lihai tidak mengenal gerakan pedang Tek Ciang. Akan tetapi ia tentu saja mengenal baik Siang-mo Kiam-hoat itu dan bahkan ia dapat melihat kelemahan-kelemahannya. Tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke udara, dan ketika tubuhnya tiba di atas Tek Ciang, ia membalikkan tubuh meluncur ke bawah dan pedangnya menyambar ke arah ubun-ubun kepala Tek Ciang! Pada saat itu, Tek Ciang sedang menghadapi serangan lawan dan memang ubun-ubun kepalanya merupakan satu-satunya daerah yang terbuka. Terkejutlah Tek Ciang. Kalau dia berusaha menangkis atau mengelak dari serangan di atas itu, tentu dia akan terancam oleh senjata dua orang she Cu. Dia teringat akan ilmu barunya dan tiba-tiba saja mulutnya mengeluarkan suara melengking yang amat hebat. Menggetarkan jantung semua orang yang hadir. Bahkan Suma Hui yang sedang menyerang itu terkejut dan serangannya menyeleweng, tidak mengenai ubun-ubun kepala melainkan mengenai pundak, itupun hanya menyerempet saja sehingga merobek baju dan melukai kulit.
Akan tetapi lengkingan suara yang mengandung Ilmu Sin-liong Ho-kang itu memang dahsyat sekali, demikian hebatnya terasa oleh dua orang kakek Cu sehingga mereka tertegun dan tubuh mereka seperti dimasuki getaran kuat yang membuat mereka lumpuh selama beberapa detik. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tek Ciang sebaik- baiknya. Dia telah dapat miringkan tubuh sehingga pedang Suma Hui hanya melukai pundaknya, dan melihat dua orang kakek itu masih tertegun, pedang di tangan kanan dan jari-jari tangan kirinya menyambar seperti kilat.
Dua orang kakek Cu mengeluarkan teriakan keras. Pedang di tangan kanan Tek Ciang telah menembus perut Cu Han Bu, sedangkan Cu Seng Bu terkena pukulan Kiam- ci tepat pada dadanya. Keduanya merupakan serangan mematikan dan kalau bukan dua orang kakek Cu itu yang terkena, tentu roboh seketika. Akan tetapi dua orang kakek itu hanya berteriak dan dengan mata melotot keduanya menubruk ke depan, dari kanan kiri Tek Ciang. Hal ini sama sekali tidak terduga oleh Tek Ciang dan dia tidak memperoleh kesempatan untuk mengelak sama sekali. Tahu-tahu dua pasang tangan dengan jari-jari yang mencengkeram telah menerkam kepalanya dan dua puluh buah jari tangan menancap ke dalam kepala! Tek Ciang mengeluarkan teriakan mengerikan dan tubuhnya terguling, membawa dua tubuh lain itu dan tubuhnya berkelojotan, dengan kaki dan tangan meregang. Akan tetapi tubuh dua orang kakek itu tidak bergerak, kaku dan kedua tangan mereka masih mencengkeram kepala, dua pasang mata itu masih melotot mengerikan! Akhirnya tubuh Tek Ciang pun diam tak bergerak lagi setelah nyawanya melayang bersama dua orang kakek yang masih terus mencengkeram kepalanya itu.
Suma Hui yang berdiri dekat suaminya berbisik. "Puas sudah hatiku....!"
Kao Cin Liong menarik napas panjang. Dia tahu akan perasaan hati isterinya. Dan dia merasa girang bahwa isterinya tadi hanya membantu saja robohnya Tek Ciang, tidak langsung menjadi pembunuh Tek Ciang. Betapapun juga, harus diakui bahwa robohnya Tek Ciang diawali dengan serangan Suma Hui tadi.
Melihat Tek Ciang roboh, empat orang pembantunya itu menjadi gentar. Mereka tadi sudah melihat betapa pasukan itu tidak taat lagi kepada Tek Ciang dan tidak berani melawan bekas Jenderal Kao Cin Liong. Kini, melihat Tek Ciang tewas, merekapun merasa tiada gunanya melawan lagi dan mereka saling pandang, lalu membalikkan tubuh hendak pergi dari situ. Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Cin Liong sudah menghadang mereka.
"Perlahan dulu, sobat. Kalian tidak boleh pergi dan harus menjadi tawanan pasukan!"
Empat orang itu terkejut dan maklum bahwa mereka takkan mungkin lolos kalau tidak menggunakan kekerasan, maka merekapun segera mencabut senjata masing-masing dan menerjang bekas jenderal itu. Akan tetapi Suma Hui, Suma Kian Lee, Kim Hwee Li, Kao Kok Cu, dan Wan Ceng sudah maju dan menghadapi keluarga yang sakti itu, empat orang tokoh sesat itu tidak dapat berbuat banyak. Dalam waktu tiga puluh jurus lebih saja, mereka berempat sudah dapat dirobohkan, dibelenggu oleh pasukan dan dibawa kembali ke kota raja. Atas permintaan Kao Cin Liong, komandan pasukan melapor kepada atasannya yang melanjutkan kepada kaisar bahwa Panglima Louw Tek Ciang di tengah jalan bertengkar dengan dua orang gurunya dan dalam perkelahian itu dia tewas, demikian pula kedua orang gurunya. Dan ditambahkan pula bahwa ternyata pembesar baru itu telah bersekongkol dengan empat orang pemberontak yang dapat ditawan.
***
Suma Ceng Liong bersama Kam Bi Eng pergi ke puncak Bukit Nelayan, menghadap Kam Hong dan Bu Ci Sian. Dengan terus terang dan berani mereka berdua menghadap suami isteri ini dan menceritakan segala hal tentang diri mereka, tentang pertemuan di Hutan Cemara, tentang tewasnya Sim Hong Bu dan juga tentang cinta kasih antara mereka dan tentang pertemuan mereka dengan Sim Houw.
Mula-mula Kam Hong dan isterinya terkejut sekali. Terutama sekali Kam Hong mengerutkan alisnya dan memandang marah. Apalagi setelah kini Sim Hong Bu gugur, dia marah harus memegang teguh perjanjiannya dengan sahabat itu.
"Bi Eng, bagaimana engkau dapat mengharapkan aku melanggar janji terhadap seorang sahabat yang telah meninggal dunia?" katanya dengan nada lebih banyak menegur daripada bertanya.
"Ayah, suhu Sim Hong Bu sendiri yang telah menyetujui seperti yang kami dengar dari Sim Houw suheng."
"Sudahlah, aku baru mau mempertimbangkannya kalau sudah mendengar sendiri penuturan Sim Houw!"
Biarpun dengan hati yang tidak enak, Suma Ceng Liong tinggal di rumah kekasihnya itu. Sikap tuan dan nyonya rumah yang pendiam membuat dia merasa canggung sekali, akan tetapi demi cintanya terhadap Bi Eng, diapun mempertahankan diri. Apalagi sikap Bi Eng amat manis dan gadis ini selalu membesarkan hatinya.
Akhirnya, saat yang dinanti-nantikanpun tiba. Sim Houw datang berkunjung. Pemuda ini menjatuhkan diri berlutut di depan guru atau juga calon mertuanya dan tak dapat menahan cucuran air matanya. Kam Hong dan isterinya merasa terharu sekali.
"Kami telah mendengar tentang kematian ayahmu, Sim Houw. Akan tetapi, usaplah air matamu. Ayahmu tewas sebagai seorang pendekar dan patriot sejati yang gugur dalam perjuangan yang patut. Tak perlu ditangisi dan bukan sikap seorang pendekar kalau mudah saja mencucurkan air matanya."
"Maaf, suhu, maafkan kelemahan teecu," jawab Sim Houw.
Seperti yang sudah direncanakan dengan isterinya, apalagi di situ tidak terdapat Bi Eng dan Ceng Liong yang sedang berburu di hutan, Kam Hong memancing. "Sim Houw, setelah ayahmu meninggal dunia, kami merasa perlu untuk mempercepat pelaksanaan pernikahanmu dengan Bi Eng...."
"Tidak, suhu....! Maafkan teecu, suhu, akan tetapi.... ikatan perjodohan antara teecu dan sumoi itu tidak mungkin dilanjutkan...."
Kam Hong pura-pura kaget dan marah. "Sim Houw! Omongan apa yang kaukeluarkan ini? Apa maksudmu?"
"Suhu, sebelum meninggal, ayah berpesan kepada teecu agar teecu menghadap suhu dan menyatakan bahwa ikatan perjodohan itu agar diputuskan."
Kam Hong mengangguk-angguk. Kalau begitu puterinya tidak berbohong. "Apa alasannya mendiang ayahmu berpesan seaneh itu?"
"Sederhana saja alasannya, suhu, yaitu bahwa sumoi tidak berjodoh dengan teecu, maksud teecu.... eh, sumoi dan teecu tidak saling mencinta...."
Inilah keterangan yang dikehendaki Kam Hong dan isterinya. "Sim Houw, katakan sekali lagi, apakah benar-benar engkau tidak mencinta Bi Eng?" tanya Bu Ci Sian.
Sim Houw merasa bingung dan takut menghadapi pertanyaan ini. Dia harus mengaku sejujurnya bahwa dia kagum sekali dan suka kepada Bi Eng. Siapa orangnya tidak akan suka dan kagum kepada gadis yang selain tinggi ilmu silatnya, juga amat manis itu? Akan tetapi dia sendiripun tidak tahu apakah dia mencinta Bi Eng, suatu perasaan yang belum pernah dirasakannya. Yang jelas, mendengar bahwa Bi Eng mencinta pemuda lain, dia tidak merasa duka atau marah.
"Subo, maafkanlah teecu. Tentu saja antara teecu dan sumoi terdapat rasa sayang sebagai saudara seperguruan, akan tetapi tentang cinta.... sumoi telah mencinta seorang pemuda lain. Bagaimana teecu dan ia dapat saling mencinta? Dan menurut ayah, jodoh tanpa cinta hanya akan berakhir dengan duka nestapa."
Mendengar ucapan pemuda ini, wajah Bu Ci Sian berobah pucat. Dahulu, dahulu sekali, ketika Sim Hong Bu, ayah pemuda ini, masih menjadi seorang pemuda, Hong Bu pernah mati-matian jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi ia tidak membalas cintanya dan ia mencinta Kam Hong. Kemudian Sim Hong Bu menikah dengan Cu Pek In. Iapun menarik napas panjang dan tenggelam dalam kenangan.
Kam Hong merasa lega sekali mendengar ucapan muridnya ini. Jadi benar semua keterangan puterinya. Puterinya saling mencinta dengan Suma Ceng Liong, cucu Pendekar Super Sakti dari Pular Es itu. Dan putusnya tali perjodohan puterinya dengan Sim Houw inipun sudah sah, karena disetujui oleh Sim Hong Bu dan oleh Sim Houw sendiri.
"Baiklah, kalau begitu kami menjadi yakin, Sim Houw. Ketahuilah bahwa sebetulnya kami telah mendengar kesemuanya itu dari Bi Eng."
"Ah, jadi sumoi sudah pulang dan menceritakan semua kepada suhu dan subo? Dan pemuda itu.... eh, maksud teecu, saudara Suma Ceng Liong...."
"Diapun sudah berada di sini. Mereka berdua sudah menceritakan semuanya kepada kami, akan tetapi kami masih merasa penasaran dan ingin mendengar dari engkau sendiri, Sim Houw."
Wajah pemuda itu berseri gembira. "Ah, kalau begitu hati teecu menjadi lega dan gembira. Mereka itu betul-betul saling mencinta dan pemuda itu amat gagah dan jujur, menjadi calon jodoh sumoi yang amat baik."
Sim Houw tidak lama berada di puncak Bukit Nelayan. Setelah bertemu dan beramah tamah dengan Bi Eng dan Ceng Liong dan makan bersama dari hidangan hasil buruan sepasang muda mudi itu, diapun berpamit dan mendapat doa restu dari suhu dan subonya yang merasa terharu dan kasihan, juga kagum terhadap murid itu.
Perjodohan antara Kam Bi Eng dan Suma Ceng Liong tidak mengalami banyak kesulitan. Suma Kian Bu dan Teng Siang In segera datang berkunjung ke puncak Bukit Nelayan setelah mendengar permintaan Ceng Liong untuk mengajukan pinangan dan diterima dengan senang hati dan gembira oleh Kam Hong dan isterinya.
Beberapa bulan kemudian, pernikahan antara kedua orang muda itupun dirayakan dengan amat meriah, dihadiri oleh orang-orang gagah dari segenap penjuru dan di dalam perayaan ini berkumpullah semua keluarga para pendekar Pulau Es dengan lengkap. Kam Hong dan isterinya merasa bangga dan berbahagia sekali dapat berbesan dengan keluarga Pulau Es apalagi setelah mereka mendengar penuturan mantu mereka tentang riwayatnya sampai dia menjadi murid Hek-i Mo-ong dan diajak menyerbu ke Bukit Nelayan. Mereka yang tadinya merasa tidak senang melihat pemuda itu menjadi murid Hek-i Mo-ong, kini berbalik menjadi kagum.
Demikianlah, cerita ini diakhiri dengan kebahagiaan yang dinikmati oleh keluarga Pulau Es. Suma Hui telah menjadi isteri Kao Cin Liong dan hidup bahagia. Suma Ceng Liong hidup berbahagia pula bersama isterinya, Kam Bi Eng. Dan biarpun Suma Ciang Bun masih merasa kehilangan Gangga, akan tetapi dia semakin matang dan semakin dapat mengenal diri sendiri, perlahan-lahan dia membiarkan dirinya berobah melalui kewaspadaan.
Sebagai akhir tulisan dalam cerita ini, pengarang mengharapkan mudah-mudahan di samping menghibur dan menemani Anda di kala senggang, juga cerita ini mengandung manfaat bagi para pembacanya. Sampai jumpa kembali di lain kisah!
Sebelum - Beranda - Suling Naga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar