Seketika wajah gadis itu menjadi pucat dan di lain saat dara itu sudah mencabut pedang dari punggungnya. Akan tetapi, baru saja pedang tercabut, tubuhnya sudah terkulai lemas karena secepat kilat Tek Ciang sudah mendahuluinya, menotok jalan darahnya membuat Kui Eng roboh lemas tak mampu berkutik lagi. Tek Ciang menyambut pedangnya sebelum senjata itu jatuh ke atas lantai dan diapun menotok jalan darah di leher gadis itu untuk mencegah gadis itu mengeluarkan suara. Lalu direbahkannya tubuh gadis itu ke atas lantai. Kui Eng tidak pingsan, hanya tidak mampu bergerak, tidak mampu bersuara. Gadis itu hanya memandang saja ketika jari- jari tangan yang nakal itu membukai kancing bajunya dan nampaklah sampul surat panjang itu di atas buah dadanya yang tidak tertutup lagi. Tek Ciang mengambil sampul surat itu sambil tersenyum lebar dan cepat memasukkan sampul surat itu ke dalam saku jubahnya.
"Hemm, nona manis, engkau dapat bicara apa lagi sekarang? Engkau pemberontak hina, ya?" Dan secara kurang ajar sekali, bukan karena tertarik melainkan karena ingin menggoda dan menghina gadis itu, tangannya menggerayangi tubuh orang.
Pada saat itu berkelebat bayangan orang dan Kui Lok telah berdiri di situ dengan mata terbelalak melihat Tek Ciang jongkok di dekat tubuh Kui Eng yang bajunya sudah terbuka sehingga nampak dadanya.
"Louw-suheng, apa.... apa artinya ini....?" Dia begitu kaget dan heran sehingga sukar mengeluarkan kata-kata.
"Sute, nanti saja kuceritakan. Ia terluka, yang penting sekarang kita harus mengobatinya lebih dulu. Penjahat datang melukainya dan aku hanya berhasil mengusir penjahat itu. Lekas kauperiksa nona Kui Eng, sute...."
Pouw Kui Lok terkejut mendengar itu dan kecurigaannya terhadap suhengnya itu lenyap. Dengan penuh khawatir dia berjongkok dan memeriksa tubuh keponakan muridnya dengan teliti. Akan tetapi hatinya lega mendapat kenyataan bahwa Kui Eng tidak terluka, hanya merasa heran bukan main karena ternyata gadis itu lumpuh dan gagu karena tertotok. Kui Lok mengerahkan tenaganya dan hendak menotok dan mengurut leher dan punggung gadis itu agar totokannya terbebas. Akan tetapi pada saat itu ada angin menyambar dahsyat dari belakang kepalanya.
"Wuuuttt.... crettt....!" Jari tangan yang amat kuat itu memyambar dan menusuk ke arah tengkuk Kui Lok.
Kui Lok terkejut sekali dan berusaha mengelak, akan tetapi karena pada saat itu dia sedang mencurahkan seluruh perhatian kepada murid keponakannya yang sedang dia coba untuk membebasan totokannya, dan karena serangan itu dilakukan secara tiba-tiba dari jarak sangat dekat, biarpun ia sudah mengelak, tetap saja jari tangan yang amat kuat itu menyambar dan mengenai bawah tengkuknya. Kui Lok terpelanting dan hanya dapat mengeluarkan suara "Oughhh....?" dan iapun tak sadarkan diri. Demikian hebatnya ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) yang di pergunakan Tek Ciang untuk memukul sutenya sendiri. Biarpun pukulan itu tidak mengenai sasaran dengan tepat, namun pukulan pada pangkal tengkuk itu mengguncangkan isi kepala dan pendekar Kun-lun-pai itupun roboh pingsan.
Tek Ciang terpaksa memukul sutenya karena dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat mengelak lagi dari kenyataan tentang surat yang dirampasnya. Kini ia menghadapi keadaan yang amat gawat. Dia harus bertindak cerdik, pikirnya dan sepasang matanya bergerak liar ketika otaknya diperas untuk mencari akal agar dia dapat mengatasi kegawatan ini dengan selamat. Lalu nampak dia menyeringai kejam, kemudian diapun mengayunkan lagi jari tangannya, dengan ilmu pukulan keji Kiam-ci dia menotok ke arah pelipis kepala Pouw Kui Lok. Kelihatannya hanya perlahan saja totokannya itu, akan tetapi tubuh Kui Lok terkulai karena pada saat itu juga dia telah tewas! Sungguh menyedihkan sekali bahwa seorang pendekar demikian gagahnya seperti Kui Lok terpaksa harus mati konyol, mati secara mengecewakan sekali di bawah tangan suhengnya sendiri yang keji dan curang. Setelah mendapat kenyataan bahwa sutenya telah tewas, Tek Ciang menyeringai, kini membalik kepada Kui Eng yang biarpun dalam keadaan tidak berdaya, tidak mampu bergerak maupun bersuara, dapat menyaksikan semua peristiwa itu dengan muka pucat sekali. Kini manusia yan sudah seperti kemasukan iblis jahat itu menubruk.
Hati Kui Eng menjerit, namun tidak ada suara keluar dari mulutnya dan biarpun ia ingin meronta dan melawan, namun kaki tangannya lemas dan hanya mampu bergerak-gerak sedikit saja.
Terjadilah perbuatan yang amat terkutuk, perbuatan yang bagi Tek Ciang biasa saja karena diapun sudah amat terlatih untuk melakukan perkosaan terhadan wanita- wanita semenjak dia menjadi murid Jai-hwa Siauw-ok!
Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan hati Can Kui Eng yang dalam keadaan sadar namun tidak mampu bergerak ini menghadapi malapetaka yang menimpa dirinya. Ia diperkosa tanpa dapat bergerak maupun berteriak. Malapetaka yang lebih mengerikan daripada maut. Gadis itu tidak kuat menahan kehancuran hatinya dan iapun pingsan dan hal ini baik baginya karena ia tidak tahu atau merasakan lagi apa yang diperbuat manusia iblis itu terhadap dirinya.
Setelah selesai dengan perbuatannya yang amat terkutuk itu, Tek Ciang melanjutkannya dengan kekejaman yang lebih hebat lagi. Dia mencabut pedang gadis itu, menaruh gagang pedang dalam kepalan tangan kanan Kui Eng, kemudian dia memaksa tangan yang mengepal gagang pedang itu untuk menusukkan pedang ke dada sendiri. Sungguh amat kasihan nasib gadis itu. Baru saja ia mengalami perkosaan yang menghancurkan hati dan kini ia dipaksa untuk membunuh diri! Pedangnya sendiri, didorong oleh Tek Ciang, menusuk dan menembus dada sendiri. Darah bercucuran dan tubuh itu berkelojot sedikit lalu rebah dan tewas. Baiknya gadis itu mengalami semua itu dalam keadaan pingsan sehingga mengurangi penderitaannya.
Tek Ciang menyeringai puas. Dia lalu membuka-buka pakaian yang menempel di tubuh jenazah Kui Lok, mengawut-awut rambut mayat itu sehingga keadaan pemuda itu seperti orang yang baru saja melakukan perkosaan. Tek Ciang sendiri sudah merapikan pakaian dan rambutnya, dan setelah memeriksa lagi dengan teliti keadaan dua mayat itu, dia lalu berteriak-teriak sambil meloncat keluar ruangan perpustakaan.
"Tolong....! Pembunuhan....! Tolonggg....!" Dia melakukan ini setelah menyambar kitab pelajaran Sin- liong Ho-kang dan bersama surat dalam sampul untuk Panglima Gan di kota raja dia menyembunyikan di tempat aman, yaitu di balik baju dalamnya.
Teriakan-teriakannya itu mengejutkan semua penghuni kuil dan berserabutanlah para tosu berlari keluar dari kamar masing-masing. Juga Hong Tan Tosu sendiri nampak berlari-lari datang ke tempat itu. Dengan muka pucat Tek Ciang menutupi muka sendiri dan membiarkan para tosu itu melihat sendiri dua tubuh yang sudah menjadi mayat menggeletak di lantai kamar penpustakaan.
Tentu saja kematian Pouw Kui Lok dan Can Kui Eng amat mengejutkan mereka semua, terutama sekali Hong Tan Tosu. Kakek ini memandang dengan muka pucat sekali. Sutenya telah tewas dan nampaknya tidak mengalami luka, sedangkan muridnya yang terkasih menggeletak mandi darah, dadanya tertembus pedang sendiri dan tangan kanannya masih memegang gagang pedang itu. Dilihat sepintas lalu saja jelaslah bahwa gadis itu telah membunuh diri dengan pedang sendiri. Dan melihat keadaan pakaian Kui Eng yang hampir telanjang bulat, dan pakaian Kui Lok yang setengah telanjang, tidak sukar diduga apa yang terjadi antara kedua orang itu. Inilah yang membuat Hong Tan Tosu pucat dan penasaran. Sutenya berjina dengan muridnya? Ah, dia tidak percaya akan hal itu. Sutenya adalah seorang pendekar sejati, dan muridnya juga seorang murid yang patuh. Akan tetapi, agaknya kenyataan menunjukkan demikian.
"Louw-sicu, apakah yang telah terjadi? Apakah yang terjadi dalam kamar ini?" Akhirnya dia menghampiri Tek Ciang dan mengguncang pundak pemuda yang masih menangis itu.
Dengan mata merah karena tangis, atau lebih tepat karena dia gosok-gosok dengan punggung tangan, Tek Ciang memandang tosu itu dengan muka sedih sekali. "Ah, totiang, bagaimana aku harus bercerita? Aihhh.... mengapa hal ini menimpa diri kami? Aku.... aku telah membunuh Pouw-sute yang kusayang.... ah, totiang, kalau aku berdosa, silahkan totiang menjatuhkan hukuman kepadaku...." Diapun terisak menangis.
Tosu tua itu mengerutkan alisnya. "Siancai.... segala hal telah terjadi. Sebelum tahu apa yang terjadi dan apa sebabnya, pinto tidak dapat menghakimi. Ceritakanlah, apa yang telah terjadi di sini dan mengapa pula engkau membunuh Pouw-sute?"
"Totiang, sungguh aku masih merasa bingung dan tidak tahu mengapa sute tiba-tiba saja dapat melakukan semua itu seperti orang kemasukan setan! Karena aku merasa telah setelah membaca kitab sejak pagi, aku pergi keluar untuk mencari hawa sejuk. Kitab kutinggalkan di atas meja dan akupun berjalan-jalan di luar kuil, bahkan sampai ke luar dusun, sampai tubuh terasa segar kembali. Kurang lebih satu setengah jam aku pergi meninggalkan kuil. Ketika aku kembali, aku terkejut sekali melihat sute.... sute...." Dia berhenti dan menutupi muka dengan kedua tangannya.
"Siancai....! Lanjutkanlah, sicu dan kuatkan hatimu," kata tosu tua itu hampir tidak sabar.
"Dia.... dia telah memperkosa nona Kui Eng! Begitu saja, di atas lantai kamar perpustakaan ini. Entah sebelum itu apa yang terjadi aku tidak tahu. Setahuku hanya bahwa mereka melakukan penjagaan seperti yang totiang perintahkan. Ah, masih ngeri dan bingung aku mengenang semua itu...."
"Lanjutkan, sicu. Lanjutkan....!" Hong Tan Tosu mendesak sedangkan para tosu lain yang menjadi pengurus kuil juga ikut mendengarkan dengan muka pucat. Mereka tidak pernah menyangka bahwa peristiwa memalukan seperti ini akan dapat terjadi di kuil mereka. Suatu aib yang amat mencemarkan.
"Ketika aku datang, Pouw-sute sudah mengakhiri perbuatannya yang biadab itu. Tentu saja aku langsung menegurnya, akan tetapi dia malah marah dan menyerangku seperti orang gila. Totiang maklum betapa lihainya sute, maka akupun terpaksa melayaninya dan pada saat itu, aku melihat nona Kui Eng mengeluarkan pedang dan membunuh diri. Melihat ini, aku menjadi marah sekali kepada sute yang masih menyerangku, maka akupun lalu membalas serangannya dan akhirnya aku berhasil memukulnya roboh. Bukan niatku membunuhnya, akan tetapi.... ah, dia terlalu kuat untuk dapat dirobohkan begitu saja...."
Hong Tan Tosu menunduk dan memandang kepada dua mayat yang masih menggeletak di situ. Di dalam hatinya dia meragukan kebenaran cerita Tek Ciang. Ingin dia berteriak untuk menyangkal, tidak percaya akan apa yang diceritakan mengenai perbuatan Kui Lok. Akan tetapi, apa yang dilihatnya di dalam kamar itu, keadaan dua mayat itu, jelas merupakan kenyataan akan kebenaran cerita Tek Ciang. Melihat keadaan pakaian mereka, dan melihat pedang yang menusuk dada Kui Eng sendiri sedangkan tangan gadis itu menggenggam gagangnya, merupakan bukti yang sukar untuk disangkal.
"Dan yang lebih mengejutkan hatiku, totiang, kitab Sin-liong Ho-kang yang tadinya kutinggalkan di atas meja telah lenyap...." "Apa....?" Kini tosu tua itu benar-benar terkejut dan pandang matanya kepada Tek Ciang penuh keraguan dan kecurigaan. "Sicu, harap jangan main-main. Engkaulah yang selama ini membaca kitab itu! Mengenai muridku dan suteku, katakanlah ada buktinya sehingga ceritamu dapat pinto percaya. Akan tetapi hilangnya kitab Sin-liong Ho-kang, bagaimana cara membuktikannya bahwa benar-benar kitab itu hilang? Dan siapa yang akan dapat mengambilnya?"
Wajah Tek Ciang menjadi merah dan dia bangkit berdiri. "Totiang, aku bukanlah orang yang tidak mau bertanggung jawab. Aku yakin bahwa kitab itu tentu ada yang mengambilnya, tentu sebelum aku kembali ke dalam kamar ini. Bahkan aku mempunyai dugaan yang amat menyakitkan hati."
"Hemm, dugaan apakah?"
"Mau tidak mau aku harus menduga bahwa memang Pouw-sute telah kemasukan iblis, telah berobah sama sekali. Agaknya dia sendiri yang menyembunyikan kitab itu, kemudian dia melakukan perbuatan terkutuk terhadap nona Kui Eng di kamar ini. Agaknya memang dia sengaja melakukan semua itu dengan maksud untuk menjatuhkan fitnah atas diriku kemudian, dengan menuduh aku menyembunyikan kitab dan memperkosa nona Kui Eng. Untung aku datang lebih dulu sehingga memergoki perbuatannya yang laknat itu...."
"Louw-sicu! Jangan menuduh yang bukan-bukan terhadap sute yang sudah tidak ada! Apa buktinya bahwa dia yang menyembunyikan kitab?"
"Memang tidak ada buktinya, totiang. Akan tetapi aku akan mencarinya, dan aku bersumpah bahwa aku akan menemukan kitab itu dan mengembalikannya kepadamu. Nah, selamat tinggal!" Tek Ciang lalu meloncat ke luar dan dalam sekejap mata saja diapun lenyap dari situ. Hong Tan Tosu ingin mencegah, akan tetapi dia maklum bahwa tidak ada di antara mereka yang akan mampu menyusul pemuda itu, apalagi menandinginya. Pula, apa alasannya untuk menahan Tek Ciang yang sudah bersumpah untuk mencari dan mengembalikan kitab? Diapun hanya dapat menyesal dan berduka, lalu menyuruh anak buahnya untuk mengurus kedua jenazah.
***
Apa yang disampaikan pemuda tinggi besar yang menjadi pacar Kui Eng kepada gadis itu memang benar dan sudah menjadi rahasia para patriot yang hendak mengadakan pertemuan untuk mulai mengatur pergerakan mereka dan mengangkat seorang bengcu (pemimpin rakyat) agar perjuangan mereka dapat teratur dan tidak simpang siur. Pemuda tinggi besar itu adalah seorang pendekar muda she Kwee dari perguruan Kong-thong-pai yang bertemu dan berkenalan dengan Kui Eng dalam perantauan, di mana keduanya secara kebetulan menghadapi dan menentang gerombolan perampok yang mengganas di sebuah dusun. Perkenalan itu disusul dengan rasa cinta kedua pihak. Sebagai seorang pendekar muda yang penuh semangat mendukung gerakan para patriot yang hendak menumbangkan kekuasaan penjajah, sebentar saja Kwee Cin Koan, demikian nama murid Kong-thong-pai itu, memperoleh kepercayaan di antara para tokoh patriot dan karena itu, tidak mengherankan kalau dia menerima tugas menghubungi Gan-ciangkun melalui sepucuk surat. Dan tidak aneh pula kalau Cin Koan mengoperkan tugas itu kepada Kui Eng, kekasihnya yang agaknya tidak mempunyai kesempatan hadir dalam pertemuan para pendekar dan patriot. Tentu saja sama sekali pendekar ini tidak pernah membayangkan bahwa kekasihnya akan tertimpa malapetaka demikian hebatnya sampai menewaskannya.
Di sebelah selatan kota raja terdapat hutan-hutan yang cukup lebat, yang berkelompok-kelompok di sepanjang kaki Pegunungan Tai-hang-san, berbaris seperti benteng sebelah barat. Dan di antara hutan- hutan ini terdapatlah sebuah hutan yang berada di atas bukit, penuh dengan pohon cemara dan karena itu maka hutan ini dinamakan Hutan Cemara. Hutan Cemara tidak begitu disuka oleh binatang-binatang hutan, karena selain kurang rimbun, juga cemara tidak menghasilkan sesuatu yang dapat dimakan, buahnya tidak, daun maupun batangnyapun tidak. Karena itu hutan ini sunyi dari binatang, bahkan jarang terdapat burung-burung di situ, kecuali burung yang terbang lewat. Hutan-hutan lain yang mempunyai tumbuh-tumbuhan liar dan lebat, dengan semak-semak belukar dan rimbun, penuh dengan binatang- binatang dan para pemburu juga lebih suka berkeliaran di dalam hutan-hutan liar ini untuk berburu binatang. Pencari-pencari kayupun jarang memasuki hutan pohon cemara yang dibiarkan sunyi dan kering, jarang sekali nampak ada orang memasuki hutan ini.
Akan tetapi justeru kesunyian hutan inilah yang membuat para patriot yang hendak mengadakan pertemuan memilih tempat ini. Tempat itu selain sunyi, juga jauh dari kota maupun dusun. Dan di sekitar pegunungan itu terdapat banyak hutan liar di mana para pemburu suka berkeliaran sehingga kedatangan para pendekar di tempat seperti itu tidak akan menimbulkan perhatian.
Pada hari itu, tempat yang amat sunyi itu nampak ramai dengan hilir mudiknya orang-orang yang datang dari segala jurusan. Dan mereka ini adalah pendekar- pendekar dan orang-orang gagah, dapat dikenal dari pakaian dan sikap mereka. Ada pula yang berpakaian aneh-aneh dan nyentrik, berpakaian pertapa, sasterawan, bahkan ada yang berpakaian pengemis! Biarpun di antara mereka belum terbentuk suatu perkumpulan dan belum teratur, akan tetapi mereka semua sudah maklum sendiri dan mereka datang ke tempat itu tidak secara berkelompok sehingga tidak menyolok mata dan tidak menarik perhatian. Dan rata-rata mereka berwajah gembira karena selain menghadiri suatu pertemuan antara patriot yang sehaluan, juga mereka itu mendapatkan kesempatan untuk saling berkenalan dan bertemu dengan tokoh-tokoh yang namanya sudah lama mereka kagumi.Di antara banyak pendekar tua muda laki perempuan yang berdatangan ke tempat itu, kelihatan seorang pemuda berusia paling banyak dua puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah perkasa. Wajahnya selalu tersenyum, sepasang matanya bersinar-sinar dan dia kelihatan periang dan lincah jenaka. Tidak ada seorangpun di antara para pendekar yang mengenal pemuda ini dan memang tidak aneh karena pemuda ini adalah seorang tokoh baru yang belum lama berkecimpung di dunia kang-ouw dan namanya masih belum dikenal orang banyak. Akan tetapi kalau orang mengetahui siapa dia, tentu dia akan menjadi pusat perhatian karena pemuda ini adalah seorang keturunan Para Pendekar Pulau Es. Dia adalah Suma Ceng Liong, yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah bundanya, ilmu-ilmu dari Pulau Es, bahkan telah pula digembleng oleh raja iblis Hek-i Mo-ong selama bertahun-tahun!
Para pendekar yang berdatangan ke hutan itu, ada yang bertemu dengan Ceng Liong dalam perjalanan, akan tetapi mereka tidak saling mengenal dan mereka hanya memandang kepada pemuda itu dengan kagum, menduga-duga siapa adanya pemuda yang wajahnya cerah akan tetapi memiliki pandang mata yang mencorong seperti mata naga itu. Dan Ceng Liong yang selalu rendah hati, tidak mau mendekati mereka, segan kalau harus memperkenalkan diri karena dia tahu bahwa setiap orang pendekar setelah mendengar bahwa dia she Suma, tentu lalu mengaitkannya dengan keluarga Pulau Es. Apalagi kalau mereka tahu bahwa dia benar-benar cucu aseli dari Pendekar Super Sakti di Pulau Es, tentu pandang mata mereka berobah, penuh kagum, juga mengandung iri!
Semuda itu, karena memiliki kesadaran yang tinggi dan selalu waspada membuka matanya, Ceng Liong sudah dapat melihat kepalsuan-kepalsuan yang menguasai hati dan tindakan manusia tanpa disadari lagi oleh manusia. Manusia telah semenjak dahulu mempunyai kebiasaan turun-temurun untuk membentuk gambar-gambar dari diri sendiri atau dari diri orang-orang lain. Penilaian-penilaian muncul dalam hati setiap orang terhadap orang lain, dan penilaian ini biasanya amat kuat dipengaruhi oleh keadaan orang yang dinilainya itu, kedudukannya, kekayaannya, kepintarannya, nama keluarganya atau namanya sendiri. Bahkan ada pula yang menilai seseorang dari tindakannya pada suatu saat, tindakan yang langsung dirasakan akibatnya oleh yang menilai! Tentu saja hal ini menimbulkan penilaian-penilaian palsu, menimbulkan sikap menjilat-jilat kepada yang dinilainya tinggi dan ada sikap memandang sebelah mata atau menghina kepada yang dinilainya rendah. Juga terdapat penilaian palsu terhadap seseorang yang melakukann satu perbuatan saja yang akibatnya langsung dirasakan si penilai. Kalau akibat perbuatan orang itu menguntungkan si penilai, maka orang itu dicap sebagai orang baik, dan kalau sebaliknya merugikan, dicap sebagai orang jahat. Dan penilaian ini biasanya membentuk gambar orang itu, gambar orang baik atau gambar orang jahat.
Tentu saja penilaian seperti ini palsu adanya. Baik buruknya seseorang tidak mungkin dinilai dari satu perbuatannya saja. Bahkan tidak mungkin dapat dinilai melihat perbuatannya itu saja tanpa melihat latar belakang dan sebab perbuatan itu sendiri. Sudah lajim bahwa pengaruh Im-yang menguasai hampir seluruh manusia di dunia ini, pengaruh ganda yang disebut baik dan buruk. Perbuatan yang dianggap baik dan buruk itu silih berganti dilakukan manusia, mungkin hari ini baik, mungkin besok buruk, mungkin hari ini pemarah dan besok menjadi ramah. Mungkin hari ini penuh kecurangan dan besok amat jujur atau sebaliknya. Karena kita sudah biasa menilai berdasarkan untung rugi kita, berdasarkan rasa senang tidak senang kita, maka akibatnya tidak ada sesuatupun benda di dunia ini, yang mati atau yang hidup, yang hanya mempunyai satu sifat saja. Kesemuanya itu mempunyai sifat ganda, baik dan buruk, berguna dan tidak berguna.
Mengapa kita tidak berhenti saja menilai dan menghadapi segala sesuatu seperti apa adanya? Kalau batin kita bersih dari pada penilaian, maka kita baru dapat menghadapi siapapun dengan hati dan pikiran bebas, kita tidak akan membeda-bedakan antara orang kaya atau miskin, pintar atau bodoh, berkedudukan tinggi atau rendah, menguntungkan atau merugikan lagi. Dan tidak ada pula sikap menjilat-jilat dan menghormat di samping sikap meremehkan dan memandang rendah. Kalau kita sudah bebas dari pada penilaian, maka kita berhadapan dengan MANUSIA saja, tanpa embel-embel yang mengotori diri manusia itu dengan sebutan kedudukan, kekayaan, kehormatan, bangsa, agama dan sebagainya. Dan tanpa penilaian kita tidak akan menciptakan gambaran- gambaran tentang diri sendiri maupun manusia lain. Lenyaplah gambaran AKU yang selalu benar atau dia dan kamu yang selalu salah. Mengapa kita tidak berhenti saja menilai orang lain dan menujukan seluruh kewaspadaan ke arah diri sendiri, mengamati diri sendiri setiap saat sehingga nampak jelas oleh kita betapa pikiran menciptakan AKU yang selalu ingin senang, ingin menang, ingin benar. Dan melihat betapa pikiran yang penuh keinginan inilah yang menjerumuskan kita sendiri, yang meniadakan dan merusak ketenangan hidup, yang meniadakan kebahagiaan, yang menimbulkan permusuhan dan kebencian antara manusia, menciptakan iri hati, cemburu, dengki dan dendam?
Karena hari pertemuan seperti yang ditentukan masih kurang dua hari lagi, Ceng Liong berjalan-jalan di sekitar tempat itu dan melihat-lihat keadaan. Selama ini timbul keraguan dalam hatinya. Walaupun dia sudah mendengar penjelasan ayahnya, juga penjelasan orang gagah Sim Hong Bu tentang perjuangan para patriot, tentang penjajahan negara dan bangsa oleh Bangsa Mancu, namun dia masih ragu-ragu apakah itu merupakan jalan yang benar kalau melakukan pemberontakan terhadap Kaisar Kian Liong. Dia teringat betapa tadinya para pendekar mendukung Kian Liong sebelum menjadi kaisar. Dan kini, sikap dan keinginan hendak memberontak terhadap kaisar ini sungguh masih agak sukar untuk diterima begitu saja. Katakanlah memang benar bahwa kaisar itu suka berenang dalam kesenangan dengan wanita-wanita cantik. Katakanlah bahwa dia memiliki isteri dan selir yang banyak jumlahnya. Akan tetapi apa hubungannya kelemahan pribadi ini dengan roda pemerintahan? Bagaimanapun juga, dia dapat mengerti bahwa pemberontakan yang benar adalah satu perjuangan yang mencakup seluruh nasib bangsa, menentang pemerintahannya, bukan karena kebencian pribadi. Jadi, bukan kelemahan pribadi kaisar itulah yang mendorong pemberontakan, melainkan karena pemerintahannya, yaitu pemerintah penjajah! Betapapun baiknya Kaisar Kian Liong, tetap saja dia seorang penjajah, seorang asing, seorang berbangsa Mancu yang menjajah Bangsa Han. Dan nampak olehnya kini betapa semua pejabat tinggi adalah orang-orang Mancu belaka. Memang ada pula orang-orang Han yang menduduki pangkat, namun kekuasaannya terbatas. Bahkan ada peraturan-peraturan dari pemerintah Mancu yang dianggap menghina bangsa pribumi, seperti keharusan mengenakan kuncir dan sebagainya. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk ikut menghadiri pertemuan itu, walaupun tetap saja hatinya diliputi keraguan.Karena masih ada waktu dua hari, malam itu Ceng Liong berjalan seorang diri menjauhi Hutan Cemara yang dijadikan tempat pertemuan, menuju ke sebuah bukit kecil tak jauh dari situ. Malam itu terang bulan dan tempat yang sunyi dan indah itu menarik perhatiannya. Bagaimanapun juga keraguan hatinya, ingatan bahwa keluarga Pulau Es masih ada hubungan darah dengan keluarga kaisar Mancu, membuat hatinya terasa agak nelangsa dan dia ingin menyendiri. Untung bahwa neneknya sudah meninggal, pikir Ceng Liong sambil berjalan menuju ke bukit kecil yang nampak dari jauh seperti diliputi cahaya emas dari sinar bulan purnama. Nenek Nirahai adalah seorang puteri Mancu, pikirnya. Andaikata neneknya itu masih hidup dan melihat dia, cucunya, kini ikut menghadiri pertemuan orang-orang yang hendak memberontak terhadap kerajaan, apa akan dikata oleh neneknya itu? Ada perasaan malu terhadap neneknya itu ketika Ceng Liong teringat akan hal ini. Mengapa manusia terpecah-pecah dan terpisah-pisah menjadi bangsa ini dan bangsa itu, beragama ini dan beragama itu, kelompok ini dan kelompok itu? Perpecahan dan pemisahan-pemisahan ini selalu menimbulkan pertentangan.
Setelah tiba di dekat puncak bukit itu, berjalan perlahan mendaki sambil menikmati pemandangan yang mentakjubkan di bawah bukit, tiba-tiba Ceng Liong mendengar sayup-sayup suara orang laki-laki bernyanyi. Dia mencurahkan perhatiannya kepada suara yang datang melayang dari puncak bukit itu dan dapat menangkap kata-kata nyanyian itu dengan jelas. Suara itu cukup merdu, akan tetapi di dalam suara nyanyian terkandung getaran orang yang sedang dirundung kedukaan atau kegetiran hati.
"Masa bodoh bulan tak bersinar
Masa bodoh bintang tak berpijar
Asal kau cinta padaku!
Tak perduli burung tak menembang
Tak perduli bunga tak berkembang
Asal kau cinta padaku!
Masa bodoh bumi tak berputar
Tak perduli dunia akan kiamat
Masa bodoh matahari tak bercahaya
Tak perduli langit tiada awan
Asal kau cinta padaku, sayang
Asal kau cinta padaku!"
Ceng Liong tertegun dan hatinya tersentuh keharuan. Ada sesuatu dalam nyanyian itu yang membuat hatinya terharu. Dia seperti dapat ikut merasakan betapa mendalam perasaan cinta menguasai hati penyanyi itu. Dan betapa suara itu mengandung getaran-getaran duka atau kekecewaan.
Hati Ceng Liong merasa terharu dan tertarik, maka diapun menggerakkan kakinya, dengan hati-hati dia mendaki bukit kecil itu mencari penyanyi itu. Akhirnya dia melihatnya. Seorang laki-laki yang duduk sendirian di puncak bukit, laki-laki yang sedang menatap bulan purnama seolah-olah kepada bulanlah dia tadi bernyanyi.
"Kak Ciang Bun....!" Ceng Liong berseru memanggil dengan gembira sekali ketika dia menghampiri orang yang sedang bersunyi sendiri itu dan mengenalnya. Biarpun laki-laki itu kini bukan pemuda remaja lagi, tidak seperti keadaannya sembilan tahun yang lalu, akan tetapi Ceng Liong masih ingat akan bentuk wajahnya yang tampan.
Laki-laki itu menoleh dengan kaget, akan tetapi ketika dia melihat Ceng Liong, sejenak dia terbelalak, lalu meloncat berdiri, membalikkan tubuh menatap wajah Ceng Liong dengan ragu-ragu. Memang orang itu adalah Ciang Bun dan kini dia memandang kepada Ceng Liong dengan hati bimbang. Dia mengenal wajah Ceng Liong, akan tetapi perobahan yang terjadi atas diri Ceng Liong memang amat besar. Ketika dia bertemu dengan adik misannya ini untuk yang terakhir kalinya, yaitu semenjak mereka berdua meninggalkan Pulau Es, Ceng Liong adalah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Dan sekarang, Ceng Liong telah menjadi seorang pemuda gagah perkasa, bertubuh tinggi tegap, berusia hampir dua puluh tahun!
"Kau.... kau...." Dia berkata ragu.
Ceng Liong melangkah lebar menghampiri sampai berada di depan Ciang Bun, tersenyum lebar dan memandang dengan mata bersinar dan wajah berseri. "Bun- ko, apakah engkau lupa kepadaku, adikmu Ceng Liong?"
"Ceng Liong....? Ah, Ceng Liong ....!" Ciang Bun maju dan merangkul. Keduanya berangkulan dengan hati gembira bukan main dan Ciang Bun menjadi demikian terharu sampai kedua matanya menjadi basah. Melihat ini, diam-diam Ceng Liong merasa heran. Kakak misannya ini sampai sekarang masih saja memperlihatkan kehalusan perasaannya.
Ciang Bun meraba pundak dan dada Ceng Liong, memandang kepada adiknya itu penuh kagum.
"Liong-te.... aihh, siapa bisa mengenalnya kalau engkau sekarang sudah begini besar? Lihat, engkau tidak hanya lebih besar daripada aku, bahkan lebih tinggi. Engkau begini gagah perkasa, ahhh, adikku, aku bangga sekali melihatmu!"
"Bun-toako, sudah hampir sepuluh tahun kita tidak pernah saling jumpa. Tak kusangka akan bertemu dengranmu ketika tadi aku mendaki bukit ini, mencari penyanyi yang suaranya begitu menarik hatiku. Kiranya engkau yang bernyanyi tadi. Toako, kenapa hatimu begitu berduka?"
Ciang Bun menarik napas panjang. Pertanyaan itu tentu saja membuat dia teringat akan keadaan dirinya, teringat akan Gangga. Dan begitu teringat kepada gadis yang meninggalkannya itu, diapun teringat bahwa Gangga pernah menyebut nama Ceng Liong dan diapun memandang dengan penuh perhatian dau alisnya berkerut.
"Liong-te, sebelum kita bicara lebih banyak, jawablah dulu pertanyaanku ini. Benarkah bahwa engkau telah menjadi murid iblis tua Hek-i Mo-ong....?"
Tentu saja Ceng Liong terkejut mendengar ini, akan tetapi dia tersenyum dan mengangguk-angguk. "Bun- toako, itu merupakan cerita yang panjang sekali. Tanpa mendengar seluruh keadaan pada waktu itu, hanya mendengar bahwa aku menjadi muridnya, tentu akan menimbulkan rasa penasaran...."
"Jadi benarkah berita itu? Liong-te, benarkah itu? Tentu saja aku merasa penasaran setengah mati! Liong-te, engkau sendiri juga mengetahui bahwa kakek iblis itu bersama kawan-kawannya telah melakukan penyerbuan ke Pulau Es yang mengakibatkan tewasnya kakek dan kedua orang nenek kita, bahkan telah mengakibatkan tenggelamnya Pulau Es dan kau.... kau.... bahkan lalu menjadi muridnya?"
"Sabar dan tenanglah, toako dan mari dengarkan dulu keteranganku tentang itu. Dengarlah ceritaku semenjak kita saling berpisah di tengah lautan itu. Aku melihat enci Hui dilarikan penjahat, dan melihat engkau dan juga Cin Liong terlempar ke dalam lautan dan aku sendiri lalu dibawa oleh Hek-i Mo-ong sebagai seorang tawanan." Kemudian Ceng Liong menceritakan semua pengalamannya dan sebab-sebabnya mengapa dia sampai mejadi murid Hek-i Mo-ong, musuh besar yang mencelakakan kakek dan kedua neneknya di Pulau Es. Dia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya sampai pada saat Hek-i Mo-ong tewas di tangan kakek itu sendiri yang seolah-olah membunuh diri karena dalam keadaan terluka parah kakek itu nekat menyerang pendekar Kam Hong. Diceritakannya betapa kakek iblis itu telah melimpahkan budi kepadanya sehingga sukarlah baginya untuk menganggap kakek itu sebagai musuh.
Setelah mendengar semua cerita adik misannya, Ciang Bun yang sejak tadi mendengarkan dengan hati amat tertarik itu mengangguk-angguk dan beberapa kali menarik napas panjang. Memang, dia sendiripun tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau dia dilimpahi budi pertolongan dan kasih sayang oleh kakek iblis itu.
"Bun-toako, dari manakah engkau mendengar bahwa aku telah diambil murid Hek-i Mo-ong?" kini Ceng Liong bertanya.
Ciang Bun baru sadar dari lamunannya. Kini dia teringat bahwa Ceng Liong belum bercerita kepadanya tentang pertemuan adiknya itu dengan Gangga Dewi seperti yang pernah dikatakan gadis Bhutan itu kepadanya walaupun tadi Ceng Liong juga menceritakan bahwa adiknya itu diajak merantau oleh Hek-i Mo-ong sampai jauh ke barat, ke Pegunungan Himalaya bahkan sampai ke negara Bhutan."Liong-te, aku mendengarnya dari seorang gadis bernama Gangga Dewi...." katanya memandang tajam. Wajah adik misannya ini di bawah sinar bulan purnama sungguh nampak gagah sekali.
"Gangga Dewi....?" Ceng Liong berseru kaget dan girang. "Ahh, Gangga Dewi gadis Bhutan itu...."
"Liong-te, engkau kenal padanya?"
"Kenal! Tentu saja!" Ceng Liong tertawa ketika dia teringat kepada anak perempuan bernama Gangga Dewi yang galak itu. "Ha-ha, tentu saja aku kenal, toako. Bukankah ia bernama juga Wan Hong Bwee, puteri Bhutan itu? Bukankah ia masih ada hubungan keluarga pula dengan kita?"
Kini Ciang Bun benar-benar terkejut bukan main. "Puteri Bhutan? Wan Hong Bwee dan masih ada hubungan keluarga dengan kita? Bagaimana ini, Liong-te, aku tidak tahu sama sekali. Ceritakanlah kepadaku siapa sesungguhnya gadis itu."
"Ha-ha, ia tidak pernah bercerita kepadamu? Wah, memang bengal anak itu! Ketahuilah, toako, Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee itu adalah puteri tunggal dari Wan Tek Hoat dan Puteri Syanti Dewi."
"Ahh.... ahhh.... maksudmu Wan Tek Hoat cucu mendiang nenek Lulu, jadi.... masih kakak tiriku sendiri?" Ciang Bun benar-benar terkejut karena tidak pernah menyangka sama sekali. Kenapa gadis Bhutan itu tidak pernah menceritakan tentang keadaan dirinya? Ayah gadis itu, Wan Tek Hoat, sudah amat dikenal namanya oleh para cucu Pulau Es, dan diapun sudah mendengar bahwa pendekar yang masih terhitung kakak tirinya itu menikah dengan Puteri Syanti Dewi, puteri istana Bhutan dan kini tinggal di Bhutan. Jadi kalau begitu, Gangga adalah keponakannya sendiri, walaupun keponakan yang jauh. Dan tentu saja Gangga sudah tahu akan semua ini. Bukankah Gangga mengatakan bahwa ia sudah mengenal Ceng Liong dan tahu pula bahwa dia sendiri adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Akan tetapi gadis itu tak pernah menyinggung keadaan dirinya, dan kini gadis itu telah pergi!
"Dan bagaimana dengan engkau sendiri, toako? Apa yang telah kaualami sejak engkau terlempar ke dalam lautan dari perahu kita yang diserang penjahat itu? Dan mengapa pula engkau tidak hadir dalam pesta pernikahan enci Hui?"
Kembali Ciang Bun menarik napas panjang dan termenung, kelihatan berduka sekali sehingga Ceng Liong memandang khawatir, tidak berani mendesak melainkan menunggu saja kakak misannya itu bicara. Akhirnya Ciang Bun berkata dengan nada suara yang lesu, "Tidak ada apa-apa yang menarik dalam hidupku, Liong-te, kecuali kemuraman dan kekecewaan. Seperti kaulihat aku masih hidup sekarang karena ketika aku terlempar ke lautan dari perahu kita yang diserbu penjahat sepuluh tahun yang lalu itu, aku berhasil meloloskan diri dari cengkeraman maut. Dan selanjutnya, aku hanya terombang- ambing antara kedukaan dan malapetaka yang menimpa keluargaku...." Pemuda itu menarik napas panjang.
Ceng Liong mengangguk-angguk. "Bun-toako, aku juga menghadiri perayaan pernikahan enci Hui dan aku mendengar bahwa engkau belum lama pergi meninggalkan kota raja, dan aku sudah mendengar dari keluargamu tentang segala yang telah terjadi, yang menimpa diri enci Hui. Akan tetapi untunglah bahwa enci Hui telah menjadi isteri Jenderal Cin Liong yang gagah perkasa dan baik hati."
"Engkau benar, Liong-te. Aku menyesal sekali bahwa aku tidak dapat hadir di waktu pernikahan enci Hui dirayakan, karena aku.... pada waktu itu aku sedang gila mengejar bayangan kosong.... dan sampai sekarang aku belum pulang, biarlah, adikku, biarlah nasib membawa diriku seperti sebuah layang-layang putus talinya dan tertiup angin badai ke angkasa raya tanpa tujuan...."
Melihat betapa pemuda itu kembali tenggelam ke dalam kedukaan, Ceng Liong merasa kasihan sekali. Dia dapat menduga bahwa tentu kakak misannya ini menderita tekanan batin yang hebat dan seperti orang kebingungan. Maka diapun berusaha menggembirakan hati kakaknya itu. Suaranya meninggi gembira ketika dia bertanya, "Toako, bagaimana engkau dapat berkenalan dengan Hong Bwee?"
"Hong Bwee....?"
"Ya, atau yang bernama Gangga Dewi itu! Ia tinggal di Bhutan, apakah engkau pernah merantau sampai ke Bhutan pula?"
Ciang Bun menggeleng kepala dan menjawab lesu. "Tidak di Bhutan, aku bertemu dengannya ketika ia merantau sampai ke kota raja...."
"Aihhh....! Anak itu memang luar biasa! Pemberani dan juga tentu saja lihai," kata Ceng Liong, masih belum puas melihat kakak misannya demikian murung dan berusaha untuk menggembirakan hatinya. "Waah, toako, tak kusangka engkau sekarang gemar bernyanyi dan suaramu hebat pula! Dan nyanyianmu tadi, wah, romantis sekali, toako. Ehmm, siapa sih gadis yang begitu kaucinta sehingga untuk memperoleh cintanya, engkau tidak perduli segala hal lain yang terjadi?"
Akan tetapi, mendengar ucapan yang nadanya bergurau itu, Ciang Bun malah menarik napas panjang. Pertanyaan itu seperti menyeretnya kembali ke alam kenangan yang penuh dengan bayangan Gangga yang meninggalkannya. Dan bertemu dengan Ceng Liong dia merasa bertemu dengar saudara sendiri, dengan orang yang dapat dipercaya sepenuhnya, bahkan orang yang dapat dijadikan tempat penumpahan segala rasa dukanya.
"Liong-te, semua keadaan diriku ini, yang seperti orang gila ini.... bukan lain adalah karena dia pula.... orang Bhutan itu...."
"Hong Bwee....?" Kata Ceng Liong terbelalak memandang wajah kakaknya.
"Gangga.... dialah yang membuatku merana.... ah, tidak, Liong-te, bukan dia sebabnya, melainkan diriku sendiri, keadaanku sendiri. Dia tidak bisa disalahkan, dan sudah sepatutnya kalau dia meninggalkan aku, penuh kemuakan dan kebencian...." Ciang Bun menutupi muka dengan kedua tangannya karena teringat sepenuhnya akan semua itu membuat dia berduka sekali. Dan Ceng Liong memandang dengan penuh keheranan, apalagi melihat betapa diam-diam kakak misannya itu telah menangis di balik kedua tangan yang menutupi muka! Kakak misannya ini bukan anak kecil lagi, sudah dewasa, gagah perkasa dan dia tahu bahwa kakaknya ini memiliki kepandaian tinggi akan tetapi kini menangis, karena seorang gadis! Menangis seperti anak kecil, atau seperti seorang wanita. Dia tidak tahu harus berbuat apa, harus berkata apa untuk menghibur hati Ciang Bun karena dia sendiri terlalu kaget dan heran mendengar pengakuan kakak misannya yang tak disangka-sangkanya itu. Agaknya kakaknya ini telah jatuh cinta kepada Hong Bwee atau Gangga Dewi, dan agaknya gadis Bhutan itu menolaknya dan meninggalkannya."Bun-toako, apakah yang telah terjadi antara engkau dan Gangga Dewi? Maukah engkau menceritakannya kepadaku?"
Sampai lama Ciang Bun menundukan mukanya, lalu dia melangkah menjauh dan duduk di atas akar pohon, tetap menunduk dan seperti orang melamun jauh. Rahasia dirinya hanya pernah dia buka kepada kakaknya saja, yaitu Suma Hui. Akan tetapi Suma Hui adalah seorang wanita, belum tentu dapat ikut merasakan penderitaan batinnya secara tepat. Dan Ceng Liong adalah saudara misan yang tiada bedanya dengan saudara sendiri karena dia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. Apa salahnya kalau dia berterus terang kepada Ceng Liong? Siapa tahu, adik misan yang sejak kecil banyak akalnya ini akan mampu membantuannya mencari jalan yang terbaik untuknya.
"Liong-te, ke sinilah, duduk di sini dan marilah kaudengarkan ceritaku, mudah-mudahan engkau akan dapat membantuku memikirkan bagaimana aku harus melanjutkan hidup ini," akhirnya dia berkata.
Mendengar kata-kata itu, Ceng Liong terkejut bukan main. Suara kakak misannya demikian serius. Tentu telah terjadi hal yang amat hebat kepada diri kakaknya ini dan dia merasa gelisah juga dan cepat dia menghampiri, lalu duduk di atas batu berhadapan dengan Ciang Bun yang duduk di atas akar pohon yang menonjol dari permukaan tanah. Untuk beberapa lamanya mereka saling pandang dan keadaan amatlah sunyinya. Langit bersih tiada awan sehingga sinar bulan purnama menerangi tempat itu seperti pagi yang cerah. Hawa udara sejuk dan bahkan dingin, akan tetapi dua orang pemuda perkasa itu tidak menderita karena hawa dingin. Ketika mereka berdiam diri, yang terdengar hanyalah suana jengkerik dan belalang mengurung diri mereka dari segenap penjuru.
Kemudian terdengar suara Suma Ciang Bun, berbisik- bisik menceritakan keadaan dirinya, kelainan yang terdapat dalam batinnya. Betapa dia amat suka, bahkan tergila-gila dan mudah sekali bangkit gairahnya terhadap pria lain, sedangkan terhadap wanita dia tidak mempunyai perasaan suka itu, kecuali rasa suka seperti seorang sahabat, sama sekali tidak ada gairah terhadap wanita.
Biarpun Ceng Liong adalah seorang pemuda gemblengan yang tidak mudah terguncang perasaannya, mendengar penuturan kakak misannya ini dia terkejut dan juga prihatin sekali, disamping perasaan heran yang tidak terbayang pada wajahnya.
Ciang Bun lalu melanjutkan ceritanya tentang diri sendiri, betapa dia berjumpa dengan seorang pemuda bernama Ganggananda yang membuatnya jatuh cinta, bahkan tergila-gila. "Ah, betapapun aku menyadari bahwa perasaanku terhadap Ganggananda itu adalah tidak wajar, adikku. Aku sadar sepenuhnya bahwa aku adalah seorang pria, dan aku jatuh hati, benar-benar aku tergila-gila kepada seorang pemuda lain, seorang pria lain. Namun aku tidak mampu melawan gejolak hatiku, kesadaranku seolah-olah membutakan diri, tidak mau perduli lagi karena gairah dan hasrat hatiku terhadap Ganggananda tak mungkin dapat dibendung lagi." Pemuda itu diam dan berulang kali menarik napas panjang, beberapa kali membuka mulut seperti hendak melanjutkan namun tidak ada suara keluar dari mulutnya, seolah-olah dia tidak kuasa untuk melanjutkan.
Suma Ceng Liong merasa kasihan sekali melihat keadaan kakak misannya itu dan diapun menyentuh tangan Ciang Bun sambil berkata. "Sudahlah, Bun-toako, kalau engkau merasa berat untuk melanjutkan, tidak perlu kau bicara lagi. Aku sudah mengerti, atau setidaknya aku akan berusaha untuk mengerti."
"Tidak, aku harus menceritakan seluruhnya. Aku sudah kuat, Liong-te, dengarlah baik-baik." Suma Ciang Bun lalu melanjutkan, betapa dia bertahan diri untuk tidak membuka cintanya terhadap Ganggananda karena khawatir kalau-kalau pemuda Bhutan itu akan merasa muak dan jijik kepadanya, lalu membencinya karena keadaannya yang tidak wajar itu. Akan tetapi betapa akhirnya dia tidak kuat bertahan dan mengakui cintanya, siap menerima segala akibatnya andaikata Ganggananda menjadi jijik dan membencinya. Akan tetapi, sebaliknya dialah yang terpukul.
"Betapa kaget dan hancurnya perasaanku, Liong-te. Betapa bingung dan malu rasa hatiku ketika Ganggananda membuka rahasia bahwa dia adalah seorang wanita bernama Gangga Dewi dan sama sekali bukan pemuda seperti yang selama itu kuduga! Dan aku sudah terlanjur mengatakan kepadanya bahwa aku tidak suka wanita! Ah, ia menjadi marah-marah, tentu ia amat benci kepadaku dan ia lalu meninggalkan aku, Liong-te....! Dan aku.... aku merasa malu, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, dan aku merana, aku bahkan tidak mau pulang walaupun aku tahu bahwa enci Hui merayakan pernikahannya. Aku adalah seorang manusia sampah.... membikin malu saja...."
"Bun-toako!" Terdengar suara Ceng Liong seperti membentak, menggeledek sehingga mengejutkan Ciang Bun. "Begitukah sikap seorang pendekar yang gagah perkasa? Begitu cengeng penuh dengan iba diri, merasa seolah-olah diri sendiri menjadi orang yang paling sengsara di permukaan bumi ini?"
Ciang Bun terkejut sekali. Baru sekarang dia mendengar orang bicara seperti itu kepadanya dan sepasang mata adik misannya itu mencorong menakutkan! Dan sikap Ceng Liong itu seketika menggugah semangatnya, seperti mengguncangnya dari tidur pulas dan mimpi buruk. Dia melihat Ceng Liong bangkit berdiri dan memandang kepadanya dengan sepasang mata bersinar.
"Bun-toako, bagaimanapnn juga, apapun juga yang terjadi atas dirimu, engkau harus berani menghadapi kenyataan! Katakanlah bahwa engkau mengalami atau menderita kelainan, yang berbeda dengan pria pada umumnya, namun bagaimanapun juga keadaanmu itu adalah suatu kenyataan dan segala kenyataan adalah benar dan tidak dapat diubah hanya dengan tangisan dan keluhan belaka!"
Kata-kata itu seperti tusukan-tusukan pedang yang terasa benar di hatinya, membuat Ciang Bun perlahan- lahan bangkit berdiri. Hiburan-hiburan baginya tidak ada artinya lagi, akan tetapi kata-kata yang keluar dari mulut Ceng Liong ini sama sekali bukan hiburan, melainkan pisau-pisau yang melakukan operasi membuka segalanya sehingga nampak olehnya, nampak olehnya kenyataan yang ada pada dirinya.
"Ceng Liong.... adikku.... engkau benar. Lalu.... lalu apa yang harus kulakukan, adikku?"
"Toako, aku bukan guru dan engkau bukan muridku. Kalau engkau hanya mengekor saja pendapat orang lain, termasuk pendapatku, engkau akan terlibat pula dalam pertentangan batin, akan diputar-putar antara rasa benar dan salah. Keadaan itu adalah keadaanmu sendiri, badanmu sendiri, dan hanya engkaulah sendiri yang dapat merasakan, maka engkau sendiri pula yang dapat menentukan baik buruknya, engkau sendiri yang dapat mengambil ketentuan, akan melanjutkan atau menghentikan. Mengertikah, toako?"
Ciang Bun mengangguk-angguk dan mulai memandang adik misannya itu dengan penuh kagum. Baru sekarang dia merasa semangatnya tergugah, tidak tenggelam di dalam kemurungan dan kekecewaan, tenggelam dalam perasaan yang nelangsa dan putus asa. Kini matanya seperti dibuka dan dia dipaksa berhadapan dengan kenyataan yang sesungguhnya tidaklah begitu mengerikan atau menakutkan seperti kalau dibayangkan. Keadaan dirinya bukanlah suatu keadaan yang sudah rusak sama sekali. Tidak! Benar Ceng Liong. Badan ini adalah badannya, berikut baik buruknya, cacat celanya dan dialah yang berkuasa atas badan ini. Tidak sepatutnya kalau batinnya terseret dan tenggelam oleh keadaan badannya!
"Terima kasih, Liong-te, terima kasih. Kata-katamu merupakan minuman pahit akan tetapi sungguh bermanfaat sekali bagiku, seperti cambuk akan tetapi dapat menggugahku dari tidur nyenyak! Aku bersikap terlalu lemah selama ini dan baru nampak olehku sekarang!"
"Toako, keadaanmu itu sebenarnya tidaklah perlu diributkan benar. Kelainan pada dirimu itu tidak lebih dari kelainan dalam nafsu berahi atau nafsu kelamin belaka. Dan nafsu itu bukanlah satu-satunya urusan dalam hidup ini bukan? Lebih baik kita melupakan hal yang sudah lalu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan setiap saat. Hanya kenangan lama saja yang menimbulkan gelisah dan duka. Mari kita bergembira, toako!"
Ciang Bun merangkul adik misannya itu dan memandang wajahnya dari dekat, memandang penuh kagum. "Ah, tak kusangka adikku yang dahulunya seorang anak yang bengal itu kini menjadi seorang pemuda yang batinnya jauh lebih dewasa daripada aku, dan baru sekarang aku melihat betapa diriku selama ini tersiksa oleh batinku sendiri. Batinku selalu tenggelam dalam keluhan dan kesengsaraan yang kubuat sendiri. Engkau memang benar. Hidup ini bukan hanya urusan nafsu berahi semata dan cintaku yang sudah-sudah itu hanyalah nafsu berahi belaka karena akupun menyadari bahwa cinta kasih yang murni tidak membeda-bedakan dan tidak memilih- milih. Tapi terus terang saja, adikku. Setelah aku mengetahui bahwa Gangga seorang gadis, dan aku mengamati perasaanku, aku hampir merasa yakin bahwa aku memang cinta padanya, tak perduli ia itu pria atau wanita. Akan tetapi.... ah, sudahlah. Ia tentu sudah benci kepadaku dengan perasaan muak dan jijik, pula, kalau kupikir-pikir lagi, seorang gadis sehebat ia itu memang tidak layak kalau menjadi sisihan seorang laki- laki sinting macam aku yang tidak lumrah pemuda biasa ini."
Ceng Liong tersenyum. Ucapan itu nadanya bukan keluhan lagi dan wajah Ciang Bun tidaklah muram seperti tadi lagi.
"Toako, kalau ia membencimu, kalau ia merasa jijik dan muak, itu tandanya ia tidak cinta padamu. Dan dalam urusan jodoh, cinta haruslah ada di kedua pahak, bukan? Kalau hanya kita yang mencinta setengah mati akan tetapi sang gadis tidak, untuk apa dilanjutkan? Berarti hanya penyiksaan batin sendiri, bukan?"
"Cocok! Dan aku tidak begitu tolol membiarkan diriku tersiksa sendirian. Ha-ha, engkau seperti dewa penolong yang menyingkirkan batu yang tadinya menindih hatiku, Liong-te." Ciang Bun tertawa dan mungkin baru sekali inilah dia dapat tertawa dengan sepenuh hatinya semenjak dia ditinggalkan Gangga Dewi.
"Yang menyingkirkan adalah engkau sendiri. Orang lain atau aku tidak mungkin dapat menyingkirkannya, paling banyak hanya membantu menunjukkannya saja. Nah, sekarang ceritakanlah, toako. Bagaimana engkau dapat berada di sini? Apakah engkau juga ingin menghadiri pertemuan antara para pendekar di tempat ini?"
Ciang Bun mengangguk-angguk dan kini dia bercerita dengan suara yang wajar dan bebas.
"Aku merantau tidak ada tujuan dan aku membatalkan niatku menyusul ke Bhutan. Dalam perantauan itu aku mendengar berita angin bahwa para pendekar akan mengadakan pertemuan di Hutan Cemara ini, maka akupun segera pergi ke sini."
"Tahukah engkau, toako, apa yang akan dilakukan atau dibicarakan para pendekar dalam pertemuan di Hutan Cemara ini?"
Ciang Bun menggeleng kepada dan memandang wajah adiknya dengan alis berkerut. "Aku tidak tahu, hanya mendengar bahwa para pendekar akan mengadakan pemilihan seorang bengcu (pemimpin rakyat)."
"Para pendekar mengadakan pertemuan di sini untuk membicarakan urusan tanah air yang dijajah Bangsa Mancu, toako. Membicarakan tentang rencana perjuangan memberontak dan membebaskan negara dan bangsa dari penjajah Mancu dan untuk itu agaknya memang akan diadakan pemilihan seorang bengcu yang akan memimpin gerakan itu."
Sepasang mata Ciang Bun terbelalak. "Pemberontakan....? Para pendekar hendak melakukan pemberontakan....?"
"Kenapa kau terkejut, toako?" tanya Ceng Liong, teringat akan kekagetan hatinya sendiri ketika untuk pertama kalinya dia mendengar dari pendekar Sim Hong Bu. Dia ingin tahu akan isi hati dan perasaan kakak misannya tentang pemberontakan menentang pemerintah Mancu ini.
"Kenapa tidak terkejut?" Ciang Bun balas bertanya. "Kita sama sekali tidak boleh mencampurinya kalau seperti itu maksud pertemuan para pendekar itu!"
"Kenapa, toako?"
"Engkau masih bertanya lagi kenapa, Liong-te? Jelas bahwa kita tidak mungkin dapat mencampuri urusan pemberontakan, apalagi ikut-ikut memberontak! Ingat saja kepada mendiang nenek Nirahai! Ingat saja kepada bibi Milana dan sekarang lebih lagi kalau aku mengingat bahwa enci Hui telah menjadi isteri Jenderal Kao Cin Liong!"
Suma Ceng Liong menghela napas. Persis benar perasaan kakak misannya ini dengan perasaan hatinya sendiri ketika untuk pertama kali dia membantah ayahnya dan pendekar Sim Hong Bu.
"Mula-mula akupun berpendapat begitu, toako. Akan tetapi ayahku sendiri menyetujui rencana para pendekar itu dan setelah bercakap-cakap, akupun dapat melihat kebenaran pendapat mereka yang hendak menentang pemerintah Mancu." Ceng Liong lalu menerangkan kepada kakak misannya tentang para patriot yang hendak membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah Mancu dan dalam perjuangan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan tidak dikenal kepentingan pribadi.
"Boleh jadi kaisar sekarang, biarpun seorang Bangsa Mancu, merupakan seorang kaisar yang baik, akan tetapi bagaimanapun juga baiknya, dia termasuk ke dalam alat dari bangsa asing yang menjajah bangsa kita. Dalam perjuangan ini kita tidak memusuhi pribadi-pribadi, dan juga kita bukan berjuang untuk kepentingan pribadi, melainkan perjuangan rakyat terhadap penjajah."
"Hemm, kalau begitu, engkau datang untuk ikut dalam pertemuan itu, ikut merencanakan.... pemberontakan?" Ciang Bun bertanya, wajahnya menjadi agak pucat mendengar urusan yang amat gawat itu.
Ceng Liong tersenyum. "Toako, seperti juga engkau, dan kuharapkan juga seperti semua orang muda, akupun tidak mudah puas menerima suatu pendapat begitu saja. Aku datang untuk melakukan penyelidikan, meneliti keadaan dan mengenal orang-orang yang hendak memimpin perjuangan itu, apakah benar-benar mereka itu adalah pendekar-pendekar dan patriot-patriot sejati yang hendak menyumbangkan jiwa raga demi kepentingan bangsa, ataukah hanya segerombolan orang yang suka bertualang mencari keuntungan diri pribadi belaka."
Ciang Bun menggeleng-geleng kepalanya perlahan. "Aku bingung, Liong-te. Aku tidak tahu apakah aku dapat mencampuri urusan pemberontakan. Semua terjadi demikian tiba-tiba. Sebelum mendengar keteranganmu ini, aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan adanya rencana pemberontakan. Akan tetapi, engkau benar. Sebelum mengambil keputusan, sebaiknya kalau akupun melihat dan mendengar lebih dulu, menyelidiki dahulu dengan teliti."
"Bagus, begitulah seyogianya, toako. Dan mengingat bahwa kita berdua adalah anggauta keluarga Pulau Es, dan karena kita berdua masih ragu-ragu dan bermaksud menyelidik, lebih baik kalau kita berpencar. Sebaiknya kalau kita menyembunyikan nama keluarga kita agar tidak mudah dikenal orang. Bagaimanapun juga, semua pendekar tahu belaka bahwa keluarga para pendekar Pulau Es masih mempunyai hubungan, bahkan mempunyai darah keluarga kaisar Mancu! Hal ini, tentu akan menimbulkan kecurigaan dan mendatangkan hal-hal yang mungkin tidak baik."
Ciang Bun mengangguk, "Baik, adikku. Dan tempat ini kita jadikan tempat pertemuan kita. Kita berpencar dan melakukan penyelidikan sendiri-sendiri secara terpisah, kemudian pada malam harinya kita bertemu di sini dan membanding-bandingkan hasil penyelidikan kita."
Dua orang kakak beradik misan ini lalu saling berpisah meninggalkan bukit itu, mengambil jalan yang bertentangan.
***
"Huh, tikus-tikus macam kalian ini tidak patut menyebut diri pendekar-pendekar!"
Bentakan itu dikeluarkan oleh seorang gadis yang berdiri sambil bertolak pinggang, menghadapi tiga orang laki-laki yang menyeringai gembira. Pagi itu masih agak gelap, matahari masih terlampau rendah untuk dapat mengusir kegelapan yang ditimbulkan oleh pohon-pohon yang lebat dalam hutan itu.
Seorang gadis yang usianya antara delapan belas atau sembilan belas tahun. Tubuhnya padat ramping dan tingginya sedang. Pakaiannya sederhana, bukan hanya potongannya melainkan juga terbuat dari kain kasar, akan tetapi justeru pakaian sederhana ini bahkan menonjolkan kecantikannya dan keindahan bentuk tubuhnya. Rambutnya yang hitam panjang itu dikuncir dua dan digelung ke atas, tanpa perhiasan, hanya ditusuk dengan dua potong bambu sebesar sumpit. Sepatunya dari kulit, menutupi seluruh kaki sampai ke betis. Melihat sikap dan dandanannya, mudah diduga bahwa ia adalah seorang gadis yang biasa melakukan perjalanan jauh, biasa menempuh dan menghadapi bahaya, seorang gadis kang-ouw. Akan tetapi, tidak nampak sebuahpun senjata menempel di tubuhnya. Sepasang matanya tajam bersinar-sinar, apalagi pada saat ia sedang marah seperti itu. Hidungnya yang kecil mancung itu dapat bergerak-gerak sedikit cupingnya, dan mulutnya yang cemberut itu berbibir merah basah, tanda bahwa ia sehat dan segar. Kedua pipinya, pada tonjolan pipi di tepi bawah mata nampak merah sekali seperti diberi pemerah muka, padahal pipi itu merah aseli seperti juga bibirnya.
Tiga orang laki-laki itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun dan biarpun dimaki oleh gadis itu, mereka tetap bergembira dan tersenyum-senyum genit. Dari pandang mata mereka, sikap dan bau mulut mereka, mudah diketahui bahwa mereka sedang mabok atau kebanyakan minum arak di pagi itu. Sepagi itu sudah mabok, ini merupakan tanda orang-orang yang sudah menjadi hamba minuman keras dan dalam keadaan mabok seperti itu, biasanya orang tidak lagi sadar akan apa yang mereka lakukan, meniadakan sopan santun dan watak- watak aseli mereka akan nampak keluar tanpa hambatan.
"Heh-heh, nona manis. Apa salahnya kalau kami mengajak engkau bersenang-senang di pagi hari yang sunyi dan sedingin ini? Ha-ha!" seorang di antara mereka yang matanya sipit sekali berkata.
"Bercumbu sedikit tiada salahnya, nona. Kami para pendekarpun suka bermain cinta, hi-hik!" kata orang ke dua yang hidungnya bengkok seperti hidung burung kakatua.
"Ha-ha-ha, benar, benar! Pendekarpun laki-laki biasa yang suka bercanda dengan gadis cantik seperti engkau, nona. Dan tahulah engkau? Kedua pipimu begitu merah dan apa artinya kalau seorang gadis manis merah pipinya?" Orang ke tiga yang jenggotnya lebat berkata.
"Artinya?" sambung yang pertama. "Artinya gadis itu minta dicium pipinya, ha-ha!"
Mereka bertiga tertawa bergelak, terbahak-bahak sambil memegangi perut.
"Ha-ha, akan tetapi jangan engkau yang mencium. Mukamu penuh brewok, kasihan ia akan mati kegelian," kata pula yang sipit dan kembali mereka tertawa-tawa.
Gadis itu membanting-banting kakinya. "Keparat! Kalian bertiga ini pantasnya anggauta gerombolan penjahat, sama sekali tidak pantas berada di tempat ini, di antara para pendekar yang mengadakan pertemuan. Kalau tidak ingat bahwa mungkin sekali kalian ini pendekar-pendekar yang tersesat dan bahwa sekarang akan diadakan pertemuan antara para orang gagah, tentu sudah kuhancurkan mulut kalian yang busuk itu!" Sambil berkata demikian, gadis yang menahan kemarahannya itu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.
Akan tetapi, tiga orang itu menggerakkan tubuh mereka dan tahu-tahu mereka sudah berlompatan menghadang di depan gadis itu. Dari cara mereka bergerak melompat, dapat diketahui bahwa tiga orang pria ini adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang lumayan.
"Wah, wah, nanti dulu, nona!" kata yang bermata sipit, yang paling tua dan agaknya menjadi pimpinan di antara mereka.
"Kalian mau apa!" bentak gadis itu dengan kemarahan yang hampir tak dapat dipertahankannya lagi.
"Nona manis, engkau sungguh tidak adil. Kami bertiga bertemu denganmu, menjamahpun tidak, mengganggupun tidak, hanya memuji-muji kecantikanmu. Untuk pujian itu, sudah sepatutnya kalau kami menerima hadiah. Sebaliknya, engkau memaki-maki dan menghina kami. Karena itu, tidak boleh engkau pergi sebelum kami menerima ganti rugi atas perlakuanmu yang tidak adil kepada kami."
"Hemm, apa yang kalian kehendaki?"
"Tidak banyak, hanya masing-masing dari kami menerima satu ciuman saja darimu." Si mata sipit menyeringai dan dua orang temannya mengangguk-angguk dengan jakun turun naik karena mereka sudah membayangkan betapa akan sedapnya menerima sebuah ciuman dari dara yang manis dan jelita ini.
Kini kemarahan dara itu tidak dapat ditahannya lagi. Mukanya menjadi merah dan matanya mencorong seolah-olah mengeluarkan api. "Keparat jahanam bermulut busuk! Sekali lagi, pergilah sebelum aku terpaksa menghajar kalian!"
"He-he-he, ia mau menghajar kita!" si mata sipit tertawa.
Dua orang kawannya tertawa pula. "Biarlah, dihajar oleh tangan yang halus itu aku siap! Sudah lama aku tidak diusap tangan halus."
"Dan akupun ingin dipijiti jari-jari mungil itu, heh-heh!""Pergilah....!" Gadis itu menggerakkan tubuhnya dan kaki tangannya bergerak cepat sekali. Terdengar suara plak-plak beberapa kali dan tubuh tiga orang itu terpelanting, dibarengi keluhan mereka. Mereka terbelalak, masing-masing meraba pipi mereka yang menjadi bengkak oleh tamparan nona tadi. Yang membuat mereka terkejut adalah cepatnya tangan itu bergerak, sehingga berturut-turut mereka kena ditampar tanpa mereka dapat mengelak atau menangkis sama sekali. Dan karena tamparan itu memang membuat pipi bengkak dan muka panas, nyeri rasanya, ditambah lagi rasa malu karena sudah ditampar oleh seorang gadis muda, tiga orarg itupun menjadi marah.
"Berani kau memukul kami?" Mereka bangkit berdiri dan mengepung gadis itu. Kemudian, sambil berteriak marah mereka mulai maju dan dari serangan mereka, dapat dilihat bahwa mereka masih mempunyai niat kotor karena serangan mereka itu bukan pukulan melainkan cengkeraman-cengkeraman. Agaknya mereka itu ingin membalas tamparan si nona dengan cengkeraman untuk menangkap tubuh yang denok itu atau merobek pakaiannya! Akan tetapi, mereka kecelik kalau mengira bahwa mereka berhadapan dengan seekor domba betina muda. Nona itu ternyata memiliki gerakan yang amat gesit dan dengan lincahnya tubuh yang ramping itu berloncatan ke sana- sini dan semua terkaman itu hanya mengenai angin belaka. Kemudian, kaki yang kecil itu bergerak tiga kali berturut-turut dan untuk ke dua kalinya, tiga orang setengah mabok itu terpelanting dan mengaduh- aduh! Si dara itu sama sekali bukan seekor domba betina muda yang lunak dagingnya, melainkan seekor macan betina yang galak dan kuat.
Baru sekarang tiga orang itu sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang dara yang lihai. Akan tetapi, dasar mereka memang memiliki watak yang buruk, mereka tidak menyadari kesalahan mereka, sebaliknya dengan penuh kemarahan tiga orang itu bangkit lagi dan mereka mencabut senjata mereka yaitu sebatang golok tipis dan dengan senjata di tangan mereka kini mengurung si dara dengan wajah bengis.
Akan tetapi, gadis itu sama sekali tidak nampak gentar menghadapi ancaman tiga orang laki-laki yang memegang golok itu. Bahkan ia berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang dan memandang dengan senyum simpul mengejek, akan tetapi matanya bersinar-sinar penuh kemarahan. Agaknya ia sama sekali tidak khawatir karena dalam dua gebrakan tadi saja gadis ini sudah yakin benar bahwa tiga orang lawannya hanya galak aksinya saja akan tetapi sesungguhnya merupakan gentong-gentong kosong yang nyaring suaranya.
"Hemm, kalian memang perlu dihajar lebih keras lagi agar bertobat!" katanya dengan senyum tak pernah meninggalkan wajah yang manis.
Tiga orang itu kini sudah kehilangan selera mereka untuk menggoda dan berbuat kurang ajar. Kini yang ada dalam benak mereka hanyalah membalas dan kalau perlu membunuh gadis yang telah membikin malu mereka dengan tamparan dan tendangan yang membuat mereka terpelanting roboh tadi.
"Haiiiittt....!" Si mata sipit sudah menerjang dengan gerakan goloknya yang membentuk gulungan sinar terang. Dua orang temannya agaknya tidak mau ketinggalan dan dari kanan kiri merekapun menyerang dengan golok mereka. Sungguh tiga orang ini tak tahu malu, menyerang seorang gadis bertangan kosong dengan golok mereka secara keroyokan seperti itu. Namun, gadis itu sungguh luar biasa sekali. Tubuhnya berkelebatan di antara sinar golok. Tiga orang itu menjadi semakin bernafsu ketika golok mereka membabat udara hampa saja dalam penyerangan pertama mereka, maka mereka menyusulkan serangan-serangan berikutnya yang datang dengan bertubi-tubi. Gadis itu tetap mengelak ke sana-sini mencari kesempatan untuk membalas dan kurang lebih sepuluh jurus kemudian, tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking nyaring sekali. Tiga orang pengeroyoknya terkejut, sejenak seperti menjadi lumpuh oleh suara yang menusuk telinga dan menyayat perasaan hati mereka itu. Dan pada saat itulah si gadis lihai menurunkan tangan membalas. Tiga kali ia memukul dan tiga orang itu roboh berpelantingan sambil mengaduh-aduh dan golok mereka terlepas dari tangan kanan karena lengan kanan itu seketika lumpuh dan pundak mereka nyeri. Kiranya gadis itu tadi memukul ke arah pundak kanan dan membuat tulang pundak mereka remuk dan lengan itu tentu saja menjadi lumpuh seketika.
"Hemm, aku masih mengampuni nyawa kalian, dan mudah-mudahan pelajaran ini membuat kalian bertobat!" kata si gadis dengan kata-kata yang tegas.
Akan tetapi, pada saat itu bermunculan belasan orang dikepalai oleh dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu dan yang memegang sebatang tongkat baja. Melihat tiga orang yang mengaduh-aduh itu, belasan orang ini lalu mengurung si gadis yang memandang dengan sikap tenang namun waspada. Dua orang kakek itu menghampiri tiga orang yang terluka, lalu menggunakan jari tangan mereka menotok beberapa jalan darah dekat pundak untuk mengurangi rasa nyeri. Kemudian mereka bangkit lagi dan menghadapi si gadis yang berdiri dengan sikap tenang itu.
"Nona, siapakah engkau yang begitu berani melukai tiga orang murid kami?" seorang di antara mereka bertanya, sikapnya tenang dan angkuh seolah-olah sikap seorang locianpwe kepada seorang yang tingkatanya lebih muda dan rendah.
Melihat jubah putih dari dua orang tosu itu dan gambar bunga teratai putih di atas dasar biru bundar di dada, gadis itu mengerutkan alisnya, lalu berkata dengan suara halus akan tetapi mengandung nada mengejek. "Siapa adanya aku tidak perlu dibicarakan, akan tetapi kalau tidak salah, ji-wi adalah orang- orang Pek-lian-pai yang sangat terkenal, bukan? Dan tiga orang yang menjadi murid ji-wi itu adalah anggauta-anggauta Pek-lian-pai. Akan tetapi mengapa mereka bersikap seperti penjahat-penjahat rendah yang suka mengganggu wanita? Apakah memang para murid Pek-lian-pai diajar untuk kurang ajar terhadap wanita?"
Wajah dua orang kakek itu berobah merah dan tosu ke dua yang bertubuh gemuk pendek menghentakkan tongkatnya di atas tanah. "Siancai, nona muda yang bermulut lancang! Mana mungkin murid-murid kami melakukan hal yang rendah? Akan kutanya mereka!" Dia lalu menoleh kepada tiga orang yang masih menyeringai itu. "Coba katakan, apakah benar kalian mengganggu wanita? Hayo jawab sebenarnya!"
Si mata sipit yang mewakili dua orang kawannya cepat menjawab. "Sama sekali tidak, susiok! Kami mana berani mengganggu wanita? Kami bertemu dengan nona ini dan karena merasa bahwa di antara kami dan nona ini terdapat persamaan paham, kami menganggapnya sebagai seorang sahahat dan kami menyapanya. Akan tetapi ia marah-marah dan memaki-maki kami, bahkan lalu menyerang dan melukai kami."
Tosu pendek gendut itu kembali memandang gadis itu dengan alis berkerut. Akan tetapi gadis itu telah mendahuluinya dan berkata sambil tersenyum mengejek. "Aku mendengar bahwa Pek-lian-pai mempunyai dasar Agama Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih) yang menjadi cabang dari Agama To-kauw. Mengambil gambar teratai putih untuk menunjukkan bahwa Pek-lian-pai putih bersih. Akan tetapi siapa kira, murid-muridnya selain pemabok-pemabok dan pengganggu wanita, juga pembohong-pembohong besar dan pengecut, tidak berani mengakui kesalahan dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatan mereka!" Si tosu gendut marah. Matanya terbelalak dan tongkatnya digerakkan, melintang di depan dadanya. "Hemm, engkau ini bocah perempuan lancang mulut dan sombong, agaknya mengandalkan sedikit kepandaian untuk menghina Pek-lian-pai!
Majulah, hendak pinto melihat sampai di mana kelihaianmu." Setelah berkata demikian, kakek gendut itu menancapkan tongkatnya di atas tanah dan dia menerjang maju, mengirim tamparan ke arah pundak gadis itu. Bagaimanapun juga, sebagai seorang tokoh besar Pek-lian-pai, dia merasa malu kalau harus menghadapi seorang gadis remaja dengan senjatanya, dan ketika menyerangpun dia hanya menampar pundak karena tidak bermaksud mencelakai, melainkan hanya memberi hajaran saja kepada gadis muda yang dianggapnya sombong dan keterlaluan telah berani melukai tiga orang murid Pek-lian-pai itu. Agaknya kakek ini merasa yakin bahwa tamparannya itu tentu akan berhasil, karena bukan tamparan biasa, melainkan jurus ilmu silat Pek-lian- pai yang lihai, tamparan yang dilanjutkan dengan cengkeraman dan dilakukan dengan amat cepat, juga mengandung tenaga sin-kang yang cukup kuat.
Akan tetapi kakek gendut itu kecelik. Dengan gerakan indah namun cepat sekali, juga dilakukan seenaknya, dengan merendahkan tubuh dan miring lalu menggeser kaki ke belakang, gadis itu sudah mampu menghindarkan serangannya itu dengan amat baiknya. Hal ini membuat si tosu penasaran. Kakinya melangkah ke depan dan dia mengirim serangan ke dua, kaki menendang ke arah lutut dilanjutkan cengkeraman ke arah pundak dengan tangan kiri dan totokan jari tangan kanan ke arah leher. Sungguh merupakan serangkaian serangan yang amat berbahaya!
Kembali kakek itu kecelik. Dengan gerakan tubuh yang amat lincah, gadis itu dapat menghindarkan diri pula dengan amat baiknya dan tiga serangan beruntun itupun semua hanya mengenai tempat kosong belaka. Setelah lewat belasan jurus serangan yang semua dapat dihindarkan gadis itu dengan elakan yang lincah, tiba-tiba ketika kakek itu menghantamkan tangan kanannya dari atas ke arah gadis itu karena diapun sudah mulai penasaran dan kini menyerang sungguh-sungguh, gadis itu mengangkat tangan kirinya menangkis. Melihat ini, kakek Pek-lian-pai menjadi girang. Inilah yang diharapkan sejak tadi. Gadis itu terlalu lincah gerakannya sehingga sukarlah mengenai tubuhnya, seperti menyerang seekor kupu-kupu yang lincah saja. Akan tetapi kalau gadis itu menangkis, dia akan dapat menghajar gadis itu dengan beradunya kedua lengan. Biarlah gadis itu akan menerima hukuman dan tulang lengannya akan patah. Maka, melihat gadis itu mengangkat tangan menangkis, diapun segera mengerahkan tenaga sin-kang ke dalam lengan kanan yang ditangkis.
"Dukkk....!" Dua lengan bertemu dan kakek itu terkejut bukan main karena pertemuan lengan yang diharapkan akan dapat mematahkan tulang lengan lawan atau setidaknya menbuat gadis itu roboh, sebaliknya malah membuat dia terhuyung ke belakang dengan lengan terasa nyeri sekali. Ada semacam tenaga aneh yang amat kuat menangkis tenaganya dan tenaga itu bahkan mendorongnya sehingga tanpa dapat dipertahankannya dia terhuyung ke belakang.
"Totiang, apakah engkau masih hendak melanjutkan kesesatanmu?" Gadis itu membentak, kelihatan marah. Dalam pertemuan tenaga yang membuat kakek itu terhuyung tadi, ia sama sekali tidak bergoyah, hal ini saja sudah menunjukkan bahwa dalam hal sin-kangpun gadis itu lebih lihai. Namun tosu gendut itu memang tidak tahu diri atau memang sudah nekat karena merasa malu untuk mengaku kalah. Dia meloncat ke belakang, mencari tongkat yang tadi menancap di tanah dan dengan tongkat melintang dia menerjang maju lagi. Tongkat itu membentuk gulungan sinar dan mengeluarkan suara angin mendesir ketika bergerak memyambar ke arah kepala gadis itu!
"Wuuuuttt....!" Tongkat menyambar luput dan kini kakek ke dua yang tinggi kurus sudah ikut pula menyerang dengan tongkatnya, menusuk ke arah belakang lutut gadis itu dengan maksud merobohkannya. Gadis itu terkejut. Nyaris belakang lututnya tertotok, maka iapun meloncat jauh ke belakang dan tangan kanannya bergerak ke arah pinggangnya. Nampak sinar keemasan menyilaukan mata dan gadis itu ternyata telah memegang sebatang suling terbuat dari emas yang indah sekali!
"Hemm, kalian tidak bisa diberi hati, harus dihajar. Majulah!" Gadis itu kini menantang. Dua orang kakek itupun merasa penasaran sekali. Mereka adalah tokoh-tokoh besar Pek-lian-pai, masa menghadapi seorang gadis remaja saja tidak mampu menang? Keduanya tidak tahu malu lagi karena terdorong rasa penasaran untuk dapat mengalahkan gadis itu.
Akan tetapi sebelum bergerak, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda remaja berusia dua puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah perkasa, berwajah ramah penuh senyum cerah. Pemuda ini segera menyelinap di antara mereka dan menghadapi dua orang kakek itu sambil mengangkat kedua tangan ke atas, lalu menjura dengan hormat.
"Ji-wi totiang harap sabar dulu. Harap ji-wi pikirkan baik-baik, apakah sudah cukup pantas kalau ji- wi melanjutkan perkelahian ini?" pemuda itu bertanya dengan suara lantang.
Melihat sikap pemuda ini yang mudah diduga tentu seorang pendekar, dua orang tosu itu merasa ragu-ragu dan si tinggi kurus bertanya. "Orang muda, mengapa engkan mencampuri urusan kami dan apa yang kaumaksudkan dengan kata-katamu tadi?"
"Ji-wi totiang adalah tokoh-tokoh Pek-lian-pai dan kedatangan ji-wi di tempat ini bersama anak buah ji-wi tentu ada hubungannya dengan pertemuan para pendekar dan patriot yang akan diadakan di tempat ini, bukan?"
"Benar, lalu apa hubungannya dengan urusan kami menghadapi gadis jahat itu?"
"Totiang, harap jangan keliru menilai orang. Nona ini sama sekali bukan orang jahat, melainkan puteri pendekar sakti Suling Emas, Kam -locianpwe. Ia adalah seorang pendekar wanita yang lihai, dan tentu kehadirannya juga ada hubungannya dengan pertemuan para pendekar patriot. Totiang, kalau pertemuan para pendekar dan patriot diawali dengan perkelahian antara kita sendiri, mana mungkin kita bersatu menghadapi pemerintah penjajah?"
Dua orang tosu itu kelihatan terkejut. Biarpun mereka belum pernah berkenalan atau berjumpa namun nama besar pendekar sakti Suling Emas sudah pernah mereka dengar. Pantas saja gadis itu lihai bukan main.
"Tapi, nona ini telah melukai tiga orang murid kami," bantah si gendut untuk menempatkan pihak sendiri di sudut yang menguntungkan.
"Tentu saja aku melukai dan menghajar tiga orang itu yang berani bersikap kurang ajar menggangguku!" bantah gadis itu. "Kalau bukan tiga orang mabok itu menggangguku, perlu apa aku mengotorkan tangan terhadap mereka?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar