16 Suling Emas Naga Siluman

"Tidak, Suhu! Paman Kam Hong orangnya terlalu baik hati, terlalu mengalah, maka perlu aku harus menemaninya untuk menjadi saksi apakah benar-benar mereka ini tidak hendak menjebaknya. Kulihat mereka tidak berniat baik, mungkin hendak merampas senjata keramat dari Paman Kam Hong. Biar aku ikut untuk menjadi saksi di dalam lembah, dan Suhu tinggal menanti di sini, sebagai saksi di luar lembah. Kalau Paman Kam Hong dan teecu tidak keluar lagi dari lembah, berarti kami berdua masuk perangkap dan dicelakai mereka, dan Suhu boleh siarkan kepada seluruh dunia bahwa para penghuni lembah ini adalah orang-orang yang curang dan jahat."

"Heiii! Darimana datangnya perempuan liar yang membuka mulut seenaknya memburuk-burukkan keluarga Lembah Suling Emas?" Tiba-tiba Pek In berseru marah dan memandang kepada Ci Sian dengan mata berapi-api. "Kami adalah keluarga baik-baik, tidak seperti engkau ini perempuan siluman yang menggunakan kata-kata buruk untuk memaki orang!"

Ci Sian bersungut-sungut dan memandang kepada Cu Pek In, kemudian tersenyum mengejek. "Memang keluarga Lembah Suling Emas tidak bisa dipercaya. Ada Isteri yang menyeleweng dengan pendekar yang menjadi tamunya! Ada perempuan yang sudah bertunangan melarikan diri dan ditampung di lembah! Ada hubungan gelap antara paman guru dan murid keponakannya sendiri. Dan sekarang muncul lagi seorang.... banci! Phuh, sungguh tidak layak dipercaya!"

Wajah Pek In yang putih halus itu seketika berobah merah. Baru sekarang ini selama hidupnya ada orang berani memakinya seperti itu. Dia dinamakan banci! Kalau saja dia memakai pakaian wanita seperti umumnya, kiranya makian ini tidak akan mendatangkan kemarahan di hatinya. Akan tetapi karena memang sejak kecil dia mengenakan pakaian pria, yang mulanya dilakukan oleh ayah bundanya yang menginginkan anak laki-laki sehingga dia menjadi terbiasa dan lebih suka mengenakan pakaian pria setelah dia remaja dan dewasa, maka makian itu sungguh menyentuh dan menyinggung perasaan dan membuat dia marah bukan main!

"Aku bukan banci! Kau perempuan siluman!" Dan dara ini sudah mencabut pula sulingnya yang tadi ditancapkan di ikat pinggang dan dia sudah meloncat dan menyerang Ci Sian.

"Huh, siapa takut padamu?" Ci Sian mengelak dan balas menyerang.

"Tahan!" Cu Han Bu berseru keras. "Pek In, kau mundurlah. Mereka ini adalah tamu-tamu kita, bukan musuh."

"Tapi mulutnya busuk, Ayah. Dia memakiku!"

"Dan kau pun memakiku. Siapa memaki aku perempuan liar dan perempuan siluman? Huh, tak tahu diri!" Ci Sian juga berteriak.

"Ci Sian, harap kau bersabar dan mari kita mengunjungi mereka dan bicara dengan baik-baik." kata Kam Hong kepada Ci Sian.

Seketika lenyaplah kemarahan Ci Sian. Dia tadi sudah merasa khawatir kalau-kalau tidak akan diperbolehkan mengunjungi lembah menemani Kam Hong, akan tetapi kini Kam Hong mengajaknya! Kegirangan hatinya mengusir semua kemarahan.

"Aku boleh pergi menemanimu, Paman? Baiklah, mari kita pergi dan aku tidak akan banyak cakap lagi."

"Sobat Kam Hong, silakan!" kata Cu Han Bu. Kam Hong mengangguk dan balas memberi hormat, lalu melangkah bersama pihak tuan rumah meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata See-thian Coa-ong yang kelihatan tegang dan girang bukan main. Dia merasa gembira dan bangga sekali menjadi satu-satunya orang yang menyaksikan pertemuan antara orang-orang sakti yang hebat itu, apalagi karena kini Ci Sian, muridnya, menemani pendekar keturunan Pendekar Suling Emas memasuki lembah itu bersama keluarga Lembah Suling Emas! Betapa hebatnya peristiwa ini dan tentu akan menggemparkan dunia kang-ouw kalau dia menceritakan di luar.

Melihat Ci Sian berjalan di samping Kam Hong, Yu Hwi dan juga Pek In memandang kepada dara itu dengan sinar mata tidak senang. Apalagi Pek In yang sedang jengkel itu. Seperti diketahui, kurang lebih empat lima tahun yang lalu, Sim Hong Bu diterima di lembah itu sebagai murid keluarga Cu, atau sebagai ahli waris dari Ouwyang Kwan yang berobah menjadi Yeti, mewarisi pedang Koai-liong-po-kiam dan Ilmu Koai-liong Kiam-sut yang hanya boleh dipelajari oleh pemuda itu. Semenjak itu, Sim Hong Bu digembleng oleh tiga orang saudara Cu itu secara bergantian sehingga dia memperoleh kemajuan yang amat pesat, apalagi karena memang pada dasarnya Hong Bu mempunyai bakat yang amat baik sekali. Dan di antara pemuda itu dan Pek In pun terjalin hubungan persahabatan yang amat akrab. Melihat ini, dan melihat betapa baiknya bakat dalam diri Sim Hong Bu dan melihat pula bahwa pemuda itu memiliki dasar watak yang gagah perkasa, jujur dan bernyali besar, diam-diam tiga orang saudara Cu itu merasa kagum. Apalagi melihat hubungan yang akrab antara pemuda itu dan puteri tunggalnya, diam-diam timbul dalam hati Cu Han Bu untuk menjodohkan puterinya dengan murid itu.

Dalam waktu hampir empat tahun, berkat ketekunan dan kesungguhan hati tiga orang saudara Cu itu, Sim Hong Bu telah menguasai ilmu-ilmu silat tinggi dan sudah memiliki dasar yang cukup kuat untuk mulai dengan pelajaran ilmu peninggalan Ouwyang Kwan! Pada waktu itu, tingkat kepandaian Sim Hong Bu bahkan jauh melampaui tingkat kepandaian Pek In karena memang selain Hong Bu memiliki dasar atau bakat yang lebih besar, juga tiga orang she Cu itu mencurahkan seluruh perhatian dan harapan mereka kepada pemuda ini untuk kelak mengangkat tinggi nama Lembah Suling Emas! Setelah memiliki dasar yang cukup kuat, ketiga orang gurunya itu lalu menyuruh Hong Bu untuk memulai mempelajari ilmu-ilmu yang ditinggalkan oleh Ouwyang Kwan dalam kulit Yeti-nya, dan untuk keperluan ini, Hong Bu tidak boleh diganggu siapapun juga karena hanya dia seorang yang diperbolehkan mempelajari ilmu-ilmu itu. Maka, dia diharuskan oleh guru-gurunya untuk belajar sendiri di dalam guha di mana terdapat mayat suami isteri Kam Lok dan Loan Si yang tewas oleh pedang Koai-liong-kiam itu! Di tempat sunyi inilah dia harus mempelajari catatan ilmu-ilmu peninggalan Ouwyang Kwan, terutama Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut. Hanya beberapa pekan sekali ketiga orang gurunya datang menjenguknya dan melihat muridnya berlatih.

Sementara itu, Cu Pek In memang diam-diam cinta kepada suhengnya itu, kepada Sim Hong Bu dan walaupun dia tidak pernah menyatakannya dengan kata-kata, namun dalam hubungan mereka yang akrab itu nampak jelas bahwa dara ini memang jatuh cinta. Maka, dapat dibayangkan betapa dara itu merasa kesepian setelah pemuda yang dicintanya itu "bertapa" di luar lembah dan tak pernah dapat dijumpainya. Bahkan ketika dia minta kepada ayahnya untuk menjenguk suhengnya, ayahnya melarangnya dan mengatakan bahwa Sim Hong Bu tidak boleh diganggu untuk waktu sedikitnya satu tahun! Inilah yang membuat dara itu menjadi kesepian dan gelisah, juga jengkel sehingga kejengkelannya itu nampak ketika dia bertemu dengan Ci Sian.

Ketika mereka tiba di tepi jurang lebar yang dijadikan tempat penyeberangan ke lembah, Cu Kang Bu mengeluarkan pekik melengking nyaring untuk memberi tanda kepada para penjaga di seberang sana untuk menarik tambang yang kalau tidak akan dipergunakan lalu diturunkan sehingga lenyap di dalam kabut tebal yang memenuhi jurang. Tak lama kemudian, nampaklah tambang itu dari bawah, makin lama makin naik dan akhirnya menegang, merupakan jembatan yang aneh dan mengerikan.

"Maaf, hanya inilah jembatan yang akan membawa kita ke Lembah Gunung Suling Emas!" kata Cu Kang Bu kepada Kam Hong. "Harap saja Saudara Kam Hong dan Nona tidak merasa sungkan untuk menyeberang dengan menggunakan tambang ini."

Di dalam hatinya, Ci Sian merasa ngeri. Kalau hanya berjalan di atas tambang, tentu saja bukan hal sukar baginya. Disuruh lari pun dia sanggup. Akan tetapi, kalau tambang itu menyeberang di atas jurang yang tak nampak dasarnya seperti itu, penuh kabut, tak dapat diukur betapa dalamnya, tentu saja hatinya terasa ngeri bukan main dan dia merasa mulutnya kering!

"Tidak mengapa, jembatan ini cukup baik." kata Kam Hong dengan tenang. Mendengar ucapan ini, Ci Sian lalu menarik napas panjang dan menenteramkan jantungnya yang berdebar penuh ketegangan dan kengerian itu.

"Cukup baik.... cukup baik...." katanya dan dia tidak berani bicara banyak-banyak, takut kalau-kalau suaranya terdengar menggigil! Akan tetapi tetap saja dia khawatir. Bagaimana kalau dia dan Kam Hong menyeberang tambang itu dan tiba di tengah-tengah lalu pihak tuan rumah membikin putus tambang itu? Ngeri dan membayangkan peristiwa ini, membayangkan dia dan Kam Hong meluncur turun ke bawah jurang! Teringat dia akan pengalamannya ketika terjatuh ke dalam jurang dan nyaris nyawanya melayang kalau saja tidak ada See-thian Coa-ong yang menyelamatkannya. Dara itu merasa jantungnya berdebar, tengkuknya dingin dan rasa takut mencekam hatinya.

Rasa takut memang selalu menguasai kehidupan manusia dari masa kanak-kanak sampai sudah tua sekalipun. Darimanakah timbulnya rasa takut ini? Mengapakah hidup ini penuh dengan rasa takut atau khawatir, cemas dan tidak menentu sehingga kebanyakan dari kita lalu hendak melarikan diri dari rasa takut ini, mencari perlindungan, mencari keamanan, mencari hiburan agar rasa takut atau khawatir terlupa? Takut akan setan, takut tidak lulus ujian sekolah, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan orang-orang yang dicinta, takut menderita, takut sengsara, takut sakit, takut mati dan selanjutnya. Mengapa kita selalu dikelilingi oleh rasa takut ini? Dapatkah kita hidup bebas dari rasa takut yang seolah-olah menjadi bayangan kita ini? Dapatkan kita menghentikan sumber dari mana timbul rasa takut yang terus-menerus ini? Mengalahkan, rasa takut satu demi satu tidaklah mungkin, karena selama sumber itu masih terus menciptakan rasa takut, maka tidak akan ada habisnya selama kita hidup dan kita akan harus bergulat mengatasi rasa takut itu satu demi satu. Akan tetapi kalau sumbernya sudah diketahui sehingga sumber itu tidak lagi menciptakan rasa takut, maka kita tidak perlu lagi mengalahkan rasa takut satu demi satu.

Apakah rasa takut itu dan bagaimana timbulnya? Rasa takut adalah bayangan pikiran akan sesuatu yang mungkin akan mendatangkan kesusahan kepada kita atau akan sesuatu yang mungkin akan merampas kesenangan kita. Rasa takut adalah bayangan pikiran akan sesuatu yang belum ada atau belum terjadi. Jadi, rasa takut atau khawatir, gelisah, cemas dan sebagainya adalah permainan dari pikiran sendiri. Pikiran selalu mengenang masa lalu, memisah-misahkan pengalamanpengalaman masa lalu antara yang menyenangkan dan yang menyusahkan. Kemudian pikiran selalu berusaha untuk mengejar kesenangan, untuk mengulang semua kesenangan yang pernah dialaminya, dan berusaha untuk menolak segala kesusahan yang pernah dialaminya. Dan apabila pikiran melihat masa depan, membayangkan bahwa dia akan ditimpa hal yang tidak menyenangkan, lalu timbul rasa takut! Hal ini dapat kita lihat kalau kita mau membuka mata memandang diri sendiri, kalau sewaktu timbul, rasa takut kita mau menghadapi rasa takut itu TANPA MELARIKAN DIRI, menyelidiki dan mempelajarinya. Jadi, jelaslah bahwa pikiran itu sendiri yang menjadi pencipta rasa takut. Tanpa adanya pikiran yang membayang-bayangkan hal yang belum terjadi, takkan ada rasa takut itu.

Mungkin ada yang bertanya, apakah kita lalu harus acuh sehingga kita menjadi lengah terhadap sesuatu yang mengancam di masa depan? Tanpa membayangkan hal-hal yang belum terjadi, mana mungkin kita dapat bersiap-siap menjaga diri dan menghindarkan bencana? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu timbul dari rasa takut itu sendiri!

Sama sekali bukan menjadi tidak acuh. Bahkan kita selalu waspada, bukan waspada yang timbul dari rasa takut, bukan waspada terhadap sesuatu yang mengancam, melainkan waspada setiap saat akan diri sendiri lahir batin dan akan keadaan sekeliling. Sebaliknya, rasa takut yang mencekam hati akan membuat kita melakukan hal-hal yang menyeleweng, membuat kita mungkin saja menjadi pengecut saking takutnya, dan tidak jarang membuat kita menjadi kejam karena dalam usaha melenyapkan hal yang mendatangkan rasa takut itu dapat terjadi perbuatan-perbuatan kejam! Banyak sekali orang-orang yang melakukan hal-hal kejam terhadap manusia lain sebenarnya didorong oleh rasa takut yang mencekam hatinya! Dia selalu merasa terancam dan oleh karena itu, untuk menghalau semacam itu dia tidak segan-segan mendahului dan melenyapkan orang lain yang dianggap menjadi sumber atau penyebab rasa takutnya. Atau karena rasa takut, maka kita lalu melarikan diri mencari hiburan dan dari sinilah timbulnya segala pelarian kepada ilmu klenik dan ramalan-ramalan.

Sebaliknya, kalau kita menghadapi rasa takut itu sebagaimana adanya, bukan ingin mengendalikan atau mengalahkannya, melainkan menghadapinya dan mengamatinya di waktu rasa takut timbul, mempelajarinya, akan nampak jelas bahwa rasa takut itu hanyalah permainan pikiran yang ingin mengulang kesenangan dan ingin menjauhi kesusahan belaka! Dan tanpa permainan pikiran yang mengenang-ngenang masa lalu dan membayang-bayangkan masa depan, yang ada hanyalah kewaspadaan dan kesadaran setiap saat terhadap segala sesuatu yang terjadi! Dan di dalam kewaspadaan ini, perhatian sepenuhnya ini, tidak ada rasa takut, yang ada hanyalah tindakan yang timbul dari kecerdasan dan kewajaran. Jadi, setiap saat timbul rasa takut, khawatir dan sebagainya, kita mengamatinya, menyelidikinya, mempelajarinya. Cobalah!

"Sebagai pihak tuan rumah, silakan Saudara menyeberang lebih dulu." kata Kam Hong dengan nada suara halus kepada Cu Han Bu dan hati Ci Sian lega bukan main. Kiranya Kam Hong juga cerdik, pikirnya.

Cu Han Bu memandang dan tersenyum. "Agaknya sobat Kam Hong masih curiga?" tanyanya akan tetapi dia pun lalu meloncat ke atas tali itu.

"Bukan curiga hanya berhati-hati." jawab Kam Hong tersenyum pula dan dia pun lalu meloncat ke atas tali di belakang Cu Han Bu. Ci Sian juga melangkah ke depan dan menginjak tali itu, melangkah hati-hati di belakang Kam Hong dan dia melihat bahwa di belakangnya melangkah pula pihak tuan rumah. Hatinya lega karena kalau tali putus, mereka semua yang akan jatuh, bukan hanya dia dan Kam Hong!

Lihatlah betapa besar si Aku menguasai batin manusia! Setiap kali tertimpa malapetaka atau tercekam rasa takut, manusia akan merasa terhibur kalau melihat ada orang lain juga tertimpa hal yang sama! Seolah-olah melihat orang lain tertimpa malapetaka, apalagi kalau lebih besar daripada malapetaka yang menimpa dirinya, hal itu menjadi hiburan yang amat manjur! Tangis karena menyedihi malapetaka yang menimpa diri bisa saja berobah tawa ketika melihat orang lain mengalami hal yang sama atau lebih parah! Sebaliknya, si Aku ini selalu tidak rela kalau dalam menerima keuntungan lalu ada orang lain yang juga menerima keuntungan yang sama, apalagi yang lebih besar. Iri hati timbullah! Ah, kalau saja kita mau mengamati diri setiap saat, akan nampaklah segala kekotoran, kemunafikan, kepalsuan, kebencian, iri hati, dalam diri sendiri, dalam si Aku ini! Sayang, kita hanya suka mengamati orang lain, mencela orang lain, tidak pernah mau mengamati diri sendiri, atau kalau mau pun kita hanya mau melihat kebaikan-kebaikan diri sendiri belaka dan itu bukanlah pengamatan namanya!

Mereka semua dapat menyeberang dengan selamat sampai di seberang dan setelah semua orang melompat ke tepi jurang di daerah lembah, tali itu lalu dikendurkan lagi sehingga menghilang tertutup kabut.

"Mari silakan, sobat!" Cu Han Bu mempersilakan ketika mereka tiba di depan sebuah gedung yang cukup megah di tengah-tengah lembah. Dengan tenang Kam Hong bersama Ci Sian mengikuti tuan rumah memasuki gedung itu dan mereka lalu dipersilakan untuk duduk di ruangan dalam yang luas dan di sinilah dua orang tamu ini dijamu oleh pihak tuan rumah. Mereka semua mengelilingi sebuah meja panjang. Kam Hong dan Ci Sian duduk bersanding di tempat kehormatan, kemudian berturut-turut duduk Cu Han Bu, Cu Seng Bu, Cu Kang Bu, lalu Yu Hwi dan Pek In sendiri duduk di dekat ayahnya. Mereka duduk makan minum sambil bercakap-cakap atau lebih tepat, yang bercakap-cakap adalah Kam Hong dan Cu Han Bu berdua saja, karena yang lain hanya diam mendengarkan. Ci Sian melihat betapa kadang-kadang Yu Hwi mengerling ke arah Kam Hong dan dia menangkap pandang mata penuh kagum dari wanita itu kepada bekas tunangannya. Hati Ci Sian merasa puas. Hemm, perempuan tolol, pikirnya, menolak Kam Hong dan memilih pria tinggi besar itu sama dengan menolak batu intan dan memilih batu karang! Tentu saja dia tidak tahu bahwa sebetulnya tidaklah demikian. Yu Hwi sudah jatuh cinta kepada Kang Bu dan tentu saja baginya tidak ada pria yang lebih hebat daripada kekasihnya itu. Dia memandang kagum kepada Kam Hong adalah karena kekaguman yang sungguh-sungguh, mengingat bahwa dahulu bekas tunangannya ini hanya setingkat dia kepandaiannya, bahkan lebih rendah mungkin. Akan tetapi, sekarang ternyata bukan hanya mampu menandingi Kang Bu, bahkan kini berani memasuki Kim-siauw San-kok dengan sikap demikian tenangnya. Betapa bedanya dibandingkan dengan Siauw Hong dahulu!

Setelah mereka selesai makan minum dan semua mangkok piring telah dibersihkan dari meja, Cu Han Bu lalu berkata kepada Kam Hong, "Nah, sekarang kami harap sudilah kiranya engkau menceritakan tentang nenek moyangmu, keluarga Pendekar Suling Emas, sobat Kam Hong."

Kam Hong tersenyum. "Saudara Cu, bukan aku yang sengaja datang, melainkan karena kalian yang mengundangku, oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau engkau lebih dulu menceritakan keadaan keluargamu dan mengapa ada hubungan di antara keluarga kita seperti yang kaukatakan. Apa pula sebabnya tempat ini memakai nama Suling Emas, dan bagaimana puterimu dapat memiliki sebatang suling emas yang serupa dengan sulingku, sungguhpun lebih kecil."

Cu Han Bu juga tersenyum, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat, "Hemm, rahasia keluarga kami tidak boleh diceritakan begitu saja kepada siapapun juga."

"Demikian pun keadaan keluarga nenek moyangku bukan untuk diceritakan kepada pihak lain."

"Betapapun juga, kita berdua mempunyai hubungan melalui suling emas, oleh karena itu terpaksa kita harus saling menceritakan keadaan kita. Dan karena tidak ada jalan untuk menentukan siapa yang harus bercerita lebih dulu, mari kita tentukan dengan menguji kepandai masing-masing, sobat Kam Hong. Adikku telah kalah olehmu, maka aku ingin sekali untuk mengukur sendiri kehebatanmu, dan biarlah ini dijadikan penentu siapa yang lebih dulu menceritakan keadaannya."

"Hemm, aku tidak ingin bertanding, akan tetapi kalau pihak tuan rumah meminta, aku sebagai tamu tidak berani menolak."

"Bagus, sikapmu amat mengagumkan hatiku, sobat!" kata Cu Han Bu yang tadinya khawatir kalau-kalau tamunya akan menolak. Ketika dia melihat adiknya kalah, hatinya sudah dipenuhi rasa penasaran dan ingin sekali dia maju untuk menandingi pemuda itu. Akan tetapi oleh sikap dan kata-kata Ci Sian, pula karena baru saja adiknya kalah, apa pula ditonton oleh See-thian Coa-ong, dia merasa sungkan juga untuk langsung menantang Kam Hong. Juga melihat adanya senjata suling emas itu amat mengejutkan hatinya maka dia tidak berani lancang menantang di tempat itu, di luar lembah. Kini mereka berada di dalam lembah dan dia memperoleh kesempatan untuk menantang Kam Hong dengan cara yang lebih "lunak" dalam suasana persahabatan, sebagai seorang tuan rumah menghidangkan sesuatu kepada tamunya yang terpaksa harus diterimanya. Dalam pertandingan "persahabatan" ini, kalau sampai kalah, tidaklah begitu menjatuhkan nama, tidak seperti dalam pi-bu yang sengaja diadakan untuk menentukan siapa kalah siapa menang, siapa lebih pandai. Kini meja itu disingkirkan dan semua orang duduk di atas kursi yang ditarik ke pinggir dekat dinding sehingga ruangan itu menjadi sebuah tempat terbuka yang cukup luas.

Cu Han Bu sudah mengeluarkan sabuk emasnya dan sambil tersenyum dia melangkah maju ke tengah ruangan yang luas itu. "Silakan, sobat Kam Hong!" katanya. Kam Hong juga melangkah maju dan tanpa sungkan lagi dia pun mencabut suling emasnya. Melihat lawan hanya memegang sebatang senjata, dia pun tidak mengeluarkan kipasnya, sungguhpun dibantu oleh kipasnya, dia akan menjadi semakin lihai.

Kemudian Cu Han Bu berkata lagi, "Saling uji kepandaian ini selain untuk menentukan siapa yang harus lebih dahulu menceritakan keadaan keluarganya, juga biarlah untuk menentukan siapa yang berhak memakai nama Suling Emas."

Kam Hong mengerutkan alisnya, memandang dengan mata mencorong tajam lalu berkata dengan suara lambat namun mengandung tekanan kuat, "Saudara Cu Han Bu, apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

"Sobat, engkau memakai julukan Pendekar Suling Emas, atau setidaknya mengaku sebagai keturunan keluarga Pendekar Suling Emas, sedangkan kami mengaku sebagai keluarga penghuni Lembah Suling Emas dari mana datangnya suling emas yang asli. Oleh karena itu, biarlah kita mengeluarkan ilmu warisan keluarga kita masing-masing untuk menentukan siapa yang aseli dan siapa yang kalah berarti tidak boleh lagi mempergunakan julukan Suling Emas, baik bagi namanya maupun bagi tempat tinggalnya. Jelaskah?"

Suling Emas mengangguk-angguk. Tentu saja di dalam hatinya dia tidak setuju dengan taruhan gila ini, akan tetapi dia pun terpaksa tidak dapat menolak karena seorang pendekar amat memegang kehormatan dan nama "Kalau demikian kehendakmu, baiklah." jawabnya.

"Bagus, sikapmu memang amat mengagumkan. Nah, kausambutlah, sobat Kam Hong"

Cu Han Bu sudah mulai menyerang dan begitu menyerang, dia sudah mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaganya. Sabuk emas yang lemas itu tiba-tiba menjadi kaku seperti sebatang pedang dan ketika Cu Han Bu bergerak menyerang, hampir Kam Hong berseru kaget karena dia mengenal bahwa gerakan itu mirip sekali dengan Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut yang telah dipelajarinya dari catatan jenazah kuno! Memang gerakan itu tidak serupa benar, perkembangan selanjutnya bahkan berbeda, akan tetapi gerakan dasar dan permulaannya tak dapat diragukan lagi adalah Kim-siauw Kiam-sut! Dan bukan main hebat dan dahsyatnya, tenaganya amat besar dan sabuk itu mengeluarkan suara berdesing kemudian mengaung-ngaung dan mengeluarkan suara seperti suling ditiup, sungguhpun tidak melengking terlalu tinggi! Lenyaplah tubuh Cu Han Bu, terbungkus sinar keemasan yang bergulung-gulung!

Kam Hong maklum bahwa dia tidak boleh main-main, maka dia pun lalu menggerakkan sulingnya dengan gerakan panjang dari kanan ke kiri lalu memutar seluruh tubuhnya, dan mulailah dia mainkan Kim-siauw Kiam-sut seperti yang dipelajarinya selama hampir lima tahun ini! Dan begitu dia bergerak dan tubuhnya pun lenyap dibungkus sinar keemasan yang lebih gemilang lagi, Han Bu tak dapat menahan seruan kagetnya. Apalagi ketika mereka berdua sudah saling menyerang dengan hebatnya, keheranan Han Bu makin meningkat. Ternyata pemuda lawannya itu mampu memainkan ilmu silat keturunan keluarganya dengan demikian hebat dan lengkap, dengan perkembangan-perkembangan aneh yang belum pernah dilihat atau didengarnya!

Sementara itu, para penonton, yaitu tiga orang gadis yang tingkat kepandaiannya belum setinggi Cu Han Bu dan dua orang adiknya, segera menjadi agak pening dan tidak dapat mengikuti jalannya perkelahian itu dengan pandang mata mereka. Mereka melihat betapa dua orang itu bergerak terlalu aneh dan terlalu cepat sehingga tubuh mereka terbungkus dua sinar yang sama-sama keemasan dan gilang-gemilang, sedangkan suara mendengung-dengung dari sabuk emas di tangan Han Bu itu kini ditambah lagi dengan suara suling melengkinglengking aneh sehingga terdengar amat luar biasa. Suling di tangan Kam Hong itu seolah-olah tidak sedang digerakkan seperti sebatang senjata melainkan sedang ditiup dengan lagu yang aneh melengking-lengking, kadang-kadang tinggi kadang-kadang rendah dan mendatangkan kepeningan kepada yang mendengarnya.

Memang hebat luar biasa perkelahian antara dua orang pendekar sakti itu. Bagi Kam Hong, semenjak dia meninggalkan gurunya dan pewaris ilmu-ilmu keluarga Suling Emas, yaitu Sin-siauw Seng-jin, Cu Han Bu ini merupakan lawan yang paling lihai sesudah Yeti! Dan sebaliknya bagi pihak tuan rumah, Kam Hong merupakan lawan paling lihai yang pernah dijumpainya! Setiap serangan mereka disertai sin-kang yang amat kuat, dan setiap jurus serangan dibalas dengan jurus serangan lain. Dasar-dasar gerakan ilmu silat mereka sama, dan biarpun yang seorang mempergunakan senjata sabuk emas dan yang lain menggunakan suling emas, namun mereka menggunakan senjata-senjata itu seperti orang memegang sebatang pedang dan ilmu silat yang mereka mainkan juga ilmu silat pedang! Akan tetapi perkembangan gerakan itu yang berbeda dan diam-diam Cu Han Bu harus mengakui bahwa ilmu silat lawan ini benar-benar luar biasa, merupakan ilmu silat pusaka keluarganya akan tetapi lebih ampuh dan lengkap. Juga dalam hal sin-kang, dia merasa tidak mampu menandingi kekuatan pemuda sastrawan ini.

Akan tetapi, keluarga Cu ini sudah terlampau lama, mungkin sudah beberapa keturunan, merasa bahwa mereka adalah keluarga yang tidak dapat dikalahkan, yang memiliki kepandaian tinggi turun-temurun, maka mereka tidak biasa dengan kekalahan. Hal itu membuat mereka dalam mengasingkan diri selalu memandang rendah orang lain sungguh pun diam-diam keluarga ini amat memperhatikan dan mempelajari orang-orang kang-ouw yang terkenal, bukan hanya mengenal bentuk-bentuk mereka, julukan dan keistimewaan mereka, akan tetapi juga mempelajari keistimewaan mereka itu dan tiga orang saudara itu selalu mencari kelemahan mereka. Akan tetapi mereka belum pernah mendengar tentang Kam Hong ini dan begitu pemuda wang tidak terkenal di dunia kang-ouw ini maju, mereka harus kalah! Tentu saja Cu Han Bu tidak dapat menelan ini, dan dengan penasaran memuncak dia pun melakukan perlawanan mati-matian dalam pertandingan itu.

Setelah lewat hampir dua ratus jurus, tahulah Kam Hong bahwa kalau pertandingan ini dilanjutkan, akhirnya tentu seorang di antara mereka akan roboh dengan luka parah, kalau tidak tewas. Dan dia tidak ingin sampai menewaskan tuan rumah, apalagi karena memang tidak terdapat permusuhan apa pun di antara mereka. Di dalam ilmu yang dipelajarinya dari catatan di tubuh jenazah itu, terdapat jurus yang dinamakan Tiang-khing-toan-san (Bianglala Memecahkan Bukit) dan jurus ini khusus untuk mematahkan senjata lawan yang bagaimanapun ampuhnya. Akan tetapi untuk ini dia harus mengerahkan seluruh tenaga khi-kang yang dihimpunnya dari latihan meniup suling. Kalau tidak berhasil, berarti dia akan menghamburkan banyak sekali tenaga dalam. Akan tetapi melihat bahwa itu merupakan jalan satu-satunya untuk mengakhiri pertandingan ini tanpa merobohkan lawan, maka dia lalu mulai memainkan jurus ini.

Cu Han Bu terkejut sekali ketika tiba-tiba gulungan sinar emas dari lawan itu berobah memanjang dan melengkung, dan terdengarlah suara melengking tinggi sekali sampai hampir tidak tertangkap oleh telinga, namun yang mengandung getaran yang luar biasa, membuat jantungnya terasa perih dan kedua kakinya menggigil! Semua orang yang berada di situ agaknya terpengaruh juga, karena Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu cepat duduk bersila menghimpun tenaga untuk melawan getaran itu, sedangkan Cu Pek In, Yu Hwi, dan Ci Sian cepat-cepat menggunakan kedua telapak tangan untuk menutup telinganya rapat-rapat karena mereka merasa telinga mereka seperti ditusuk-tusuk! Kam Hong maklum akan hal ini, maka begitu tenaganya sudah terhimpun, dia meluncurkan sulingnya ke atas, seolah-olah hendak menyerang kepala lawan. Cu Han Bu cepat mengangkat sabuk emasnya untuk melindungi kepala dan pada saat itu, dengan gerakan melengkung seperti bianglala, suling emas di tangan Kam Hong melayang dan menghantam ke arah sabuk emas itu.

"Cringggg....! Trakkkk!!"

"Aiihhhh....!" Cu Han Bu meloncat jauh ke belakang, berdiri dengan muka pucat memandang ke arah sabuk emasnya yang telah patah menjadi dua, yang tinggal di tangannya hanya sepotong pendek sedangkan patahannya berada di atas tanah, di bawah kaki lawan.

Cu Han Bu boleh jadi adalah seorang yang berhati keras dan tidak pernah mau kalah oleh orang lain, akan tetapi dia memiliki kegagahan dan tahu bahwa dalam pertandingan ini, betapapun sukar dipercaya, dia telah kalah oleh Kam Hong! Mukanya yang pucat itu menjadi merah sekali dan dia lalu melempar sisa sabuk emas itu ke atas lantai dan dengan sikap terpaksa sekali dia menjura ke arah Kam Hong sambil berkata, "Aku Cun Han Bu harus mengakui bahwa dalam hal ilmu silat, engkau lebih unggul daripada aku, sobat Kam Hong, sungguhpun aku sama sekali tidak mengerti bagaimana engkau dapat mainkan ilmu pusaka keturunan keluarga kami. Akan tetapi biarlah hal itu nanti kita bicarakan. Dalam ilmu silat aku kalah, akan tetapi sesuai dengan nama Suling Emas yang dipakai oleh kedua pihak, biarlah sekarang kita memperlihatkan siapa di antara kita yang lebih tepat memakai nama itu dengan cara meniup suling. Engkau yang membawa-bawa pusaka suling emas dan keluargamu memakai julukan Suling Emas tentu pandai sekali meniup suling. Maukah engkau melayaniku mengadu ilmu meniup suling, sobat Kam?"

Karena tantangan ini pun mengenai nama keluarganya, maka tentu saja Kam Hong tidak menolak, apalagi karena memang dia ingin melihat sampai di mana kepandaian keluarga yang mengaku sebagai keluarga Suling Emas dan yang ternyata mampu pula memainkan ilmu yang mirip dengan Kim-siauw Kiam-sut itu. "Baik, aku sebagai tamu hanya melayani kehendak tuan rumah."

Cu Han Bu lalu minta suling emas yang dibawa oleh Pek In, kemudian dia mempersilakan Kam Hong duduk sedangkan dia sendiri lalu duduk bersila di atas lantai. Melihat tuan rumah duduk bersila menghadapinya, hanya dalam jarak kurang lebih empat meter mereka duduk bersila saling berhadapan. Sejenak, kedua orang yang sama-sama memegang suling emas yang bentuknya serupa benar itu, hanya suling di tangan Kam Hong agak lebih besar, saling pandang dengan penuh perhatian. Cu Han Bu menggunakan ujung baju lengan kirinya untuk mengusap keringat di dahi dan lehernya. Pertandingan selama dua ratus jurus yang mempergunakan banyak tenaga itu tadi membuat dia merasa lelah sekali dan tubuhnya basah oleh keringat. Akan tetapi sebaliknya, Kam Hong hanya berkeringat sedikit saja.   

"Saudara Kam Hong, aku kagum sekali kepadamu," akhirnya Cu Han Bu berkata, ucapan yang sejujurnya sungguhpun kekagumannya itu bercampur dengan rasa penasaran. "Kalau ternyata engkau juga mampu mengalahkan aku dalam hal meniup suling, biarlah aku mengaku kalah. Engkau bersiaplah menerima permainan sulingku." Cu Han Bu lalu menoleh kepada puterinya dan berkata kepadanya, "Pek In, bagikan pelindung telinga kepada Nona tamu dan Yu Hwi."

"Baik, Ayah." jawab Cu Pek In dan dia mengeluarkan benda-benda kecil penyumbat telinga berwarna putih terbuat dari karet lalu memberikan sepasang kepada Yu Hwi kemudian dia menghampiri Ci Sian dan diberinya pula sepasang kepada dara ini. Akan tetapi Ci Sian tersenyum mengejek dan menggeleng kepalanya.

"Aku tidak perlu memakai pelindung telinga." katanya.

Tentu saja wajah Pek In menjadi merah oleh penolakan ini dan dia sudah menjadi marah, akan tetapi ketika dia memandang kepada ayahnya, Cu Han Bu menggeleng sedikit kepalanya sehingga dia mundur lagi, duduk di tempat semula dan dia pun lalu mengenakan sepasang penyumbat telinga.

"Nona, kau harus memakai pelindung telinga, kalau tidak akan berbahaya bagi keselamatanmu." tiba-tiba Cu Seng Bu berkata karena tokoh ini merasa tidak enak kalau sampai pihak tamu yang tidak ikut mengadu ilmu kena celaka.

Ci Sian masih tersenyum ketika dia menggeleng kepala. "Mengapa celaka? Andaikata perlu melindungi telinga, bukankah aku masih mempunyai kedua tangan untuk menyumbat kedua telingaku?"

Cu Seng Bu tidak bicara lagi dan bersama Cu Kang Bu, dia pun menyumbat kedua telinganya dengan pelindung telinga karena dia maklum bahwa kakaknya akan mengeluarkan ilmu meniup suling yang mujijat, yang suaranya dapat merobohkan lawan, bahkan dapat membunuhnya!

Sementara itu, Kam Hong terkejut bukan main ketika melihat Ci Sian menolak pemberian pelindung telinga itu. Dia makin menghargai pihak tuan rumah yang ternyata demikian baik hati untuk menawarkan pelindung telinga kepada Ci Sian, akan tetapi celakanya, dara yang keras hati itu menolak dan dia tahu bahwa hal ini berarti bahaya besar bagi Ci Sian, mungkin bahaya maut karena suara tiupan suling yang dilakukan oleh orang yang amat kuat tenaga khi-kangnya dapat merusak telinga atau bahkan membunuhnya. Akan tetapi karena Ci Sian sudah terlanjur menolak, dia pun tentu saja tidak mau memaksa gadis itu menarik kembali penolakannya karena hal itu sampai mati pun kiranya tidak akan dilakukan oleh Ci Sian yang keras hati. Maka dia pun lalu mengambil keputusan untuk melindungi Ci Sian dari bahaya ancaman suara suling Cu Han Bu.

Kini Cu Han Bu sudah mulai menempelkan ujung suling pada bibirnya dan mulailah dia meniup suling emas itu. Mula-mula terdengar suara suling yang merdu naik turun, akan tetapi kemudian suara suling itu terus menaik dan mulailah Ci Sian merasa tersiksa karena kedua telinganya seperti dikilik-kilik rasanya. Suara suling itu makin meninggi saja dan rasa yang mula-mula hanya geli itu makin nyeri dan telinganya seperti dimasuki semut dan digigit! Ci Sian tadinya hendak mempertahankan, akan tetapi akhirnya dia tidak kuat lagi dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi lubang telinganya!

Akan tetapi betapa kaget rasa hati Ci Sian bahwa suara itu masih saja terus mengiang di dalam telinganya, makin lama makin hebat sehingga kini terasa seperti telinganya ditusuk-tusuk jarum! Tubuhnya mulai menggigil dan matanya terbelalak memandang ke arah Kam Hong seolah-olah hendak minta tolong.

Pada saat itu, Kam Hong sudah mendekatkan suling di bibirnya dan meniup sulingnya sambil menutup semua lubang suling. Dia tahu bahwa kalau dia menggunakan sulingnya untuk balas menyerang, dia akan dapat membuat lawan celaka, akan tetapi juga Ci Sian akan ikut celaka, maka kini dia meniup sulingnya dengan lembut sekali. Terdengar suara lembut dari sulingnya, suara yang bergelombang halus akan tetapi dapat menggulung suara melengking lirih yang mengandung getaran berbahaya dari suara suling Cu Han Bu dan Ci Sian merasa betapa perlahan-lahan kenyerian di telinganya lenyap, dan dia berani membuka kedua tangannya dan kini yang terdengar olehnya hanya suara suling lembut yang amat merdu dan mendatangkan rasa nikmat! Makin lama, makin lembut suara suling Kam Hong dan akhirnya Ci Sian tidak dapat menahan lagi, tubuhnya terguling dan dia tertidur pulas di atas lantai!

Suara suling dari suling emas yang ditiup Kam Hong itu semakin kuat saja, dan kini setelah dia meilhat Ci Sian tidur pulas, dia menambah kekuatan tiupannya dan suara suling itu menggetar halus, biarpun kedua telinga orang-orang yang berada di situ telah ditutup penyumbat telinga dari karet, namun getaran itu masih terus menyerang melalui urat saraf di atas telinga dan pelipis sehingga akhirnya, berturut-turut Cu Pek In dan Yu Hwi juga terguling dan roboh pulas!

Melihat ini, Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu terkejut sekali. Mereka berdua kini duduk bersila di atas lantai dan mengerahkan tenaga sin-kang mereka untuk melawan serangan suara suling dari suling Kam Hong. Sementara itu, Cu Han Bu juga memperhebat suara sulingnya untuk menyerang lawan. Namun semua serangan suara sulingnya itu tenggelam di dalam kelembutan itu seperti bara api yang berkobar dijatuhkan ke dalam kubangan air dingin saja. Sedangkan alunan suara suling dari Kam Hong terus bergetar menyerang ketiga orang kakak beradik Cu itu yang kini makin hebat melakukan perlawanan dan mengerahkan sin-kang mereka. Dari ubun-ubun kepala Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu sampai mengepul uap putih dan muka mereka menjadi merah sekali karena keduanya telah mengerahkan sin-kang sekuatnya untuk menahan rasa kantuk hebat yang menyerang mereka. Syaraf mereka seperti diayun atau dibelai oleh suara itu, suara yang mengandung kekuatan mujijat dan yang membuat seluruh tubuh terasa lemas dan satu-satunya hal yang mereka inginkan saat itu hanyalah tidur, lain tidak!

Memang hebat sekali kekuatan yang terkandung dalam suara suling yang ditiup secara istimewa oleh Kam Hong itu. Suara itu selain dapat menembus pelindung telinga, juga langsung menyerang dan merangsang syaraf-syaraf di kepala menembus kulit kepala yang perasa seperti di pelipis dan bagian lain, terutama sekali merangsang syaraf di pusat pendengaran. Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu yang merupakan orang-orang yang memiliki kesaktian dan memiliki tenaga sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi dan amat kuat itu. Mereka telah mengerahkan sin-kang untuk melawan pengaruh suara itu. Akan tetapi lambat laun wajah mereka yang merah menjadi semakin pucat, uap putih yang mengepul di kepala mereka semakin menipis dan akhirnya keduanya tertidur pulas dalam keadaan masih duduk bersila!

Kini tinggal Cu Han Bu seorang yang masih terus melawan sambil meniup sulingnya. Cu Han Bu juga merasa betapa tenaga suara sulingnya itu kini sama sekali tidak dapat menembus suara suling lawan yang seolah-olah merupakan benteng yang amat kuatnya, dan dia pun bahkan mulai merasa betapa gelombang yang hebat menggulung dirinya, membuainya dengan nikmat sekali. Diam-diam dia terkejut, maklum bahwa suara suling Kam Hong benar-benar memiliki kekuatan yang amat dahsyat. Dia berusaha melawan terus, kadang-kadang meniup sulingnya amat tinggi, kadang-kadang amat rendah, namun semua usahanya itu gagal karena semua perlawanannya itu membalik dan bahkan agaknya menambah kedahsyatan gelombang getaran dari suara suling Kam Hong. Akhirnya tanpa disadari sendiri, Cu Han Bu juga jatuh pulas dalam keadaan bersila dan sulingnya masih berada dalam genggaman dan masih menempel di bibirnya yang tidak bergerak lagi. Dia seolah-olah telah berobah menjadi patung orang menyuling!

Setelah melihat lawannya tertidur, barulah Kam Hong menghentikan tiupan sulingnya. Wajahnya agak pucat dan seluruh tubuhnya basah oleh peluh! Kiranya dia pun telah mengerahkan banyak tenaga tadi dan baru setelah dia mengeluarkan semua tenaganya dia dapat menyelamatkan Ci Sian dan sekaligus membuat tidur semua orang, termasuk lawannya yang kuat itu. Dia menyimpan sulingnya lalu menggunakan saputangan untuk menyusuti peluhnya.

Setelah kini suara suling terhenti dan getaran suara yang amat kuat itu lenyap, berturut-turut terjagalah mereka semua yang tertidur pulas itu. Pertama-tama adalah Cu Han Bu dan dua orang adiknya yang terjaga.

"Ahhhh....!" Cu Han Bu mengeluh dan terbelalak, lalu teringat akan segala yang telah terjadi, maka dia pun meloncat bangun lalu cepat-cepat dia menjura ke arah Kam Hong yang juga telah bangkit dengan tenang.

"Saudara Kam Hong, sungguh engkau luar biasa sekali dan aku Cu Han Bu benar-benar mengakui keunggulanmu, baik dalam hal ilmu silat maupun dalam hal ilmu meniup suling. Engkau memang berhak memakai julukan Suling Emas!"

Juga Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu tidak ragu-ragu lagi untuk memberi hormat kepada pendekar yang jelas memiliki tingkat kepandaian di atas mereka itu.

Kam Hong cepat-cepat membalas penghormatan mereka dan dia pun berkata, "Harap Sam-wi tidak merendahkan diri karena terus terang saja, baru sekaranglah saya menemukan keluarga yang memiliki kepandaian sehebat yang dimiliki Sam-wi. Saya percaya bahwa tentu ada hubungannya antara Sam-wi dengan Suling Emas."

Pada saat itu, tiga orang dara juga telah terjaga dan mereka mula-mula merasa bingung dan terheran-heran, akan tetapi setelah teringat dan melihat betapa sikap tiga orang she Cu itu amat menghormat Kam Hong, mereka maklum bahwa Kam Hong telah menangkan pertandingan aneh itu. Yu Hwi memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan, akan tetapi dia telah bangkit dan menghampiri Cu Kang Bu, kekasihnya. Sedangkan Ci Sian lari menghampiri Kam Hong.

"Paman, engkau telah menang?"

Kam Hong hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Tentu saja Ci Sian merasa penasaran dan dia lalu menoleh kearah Cu Han Bu, dan bertanya dengan lantang, "Paman Cu Han Bu, apakah engkau mau bersikap jantan mengakui bahwa Paman Kam Hong telah memperoleh kemenangan dalam pertandingan ini?"

Cu Han Bu menarik napas panjang. Dara itu sudah berkali-kali membikin sakit perasaan, akan tetapi dia tidak dapat mengelak lagi. "Benar, Saudara Kam Hong telah mengalahkan kami."

"Nah, apa kubilang? Dialah Pendekar Suling Emas yang sejati!"

"Sssst, Ci Sian, menyombongkan diri di atas kemenangan adalah perbuatan yang bodoh." Kam Hong mencela dan Ci Sian mengerutkan alisnya, bersungut-sungut dan tidak banyak cakap lagi. Dia seringkali ditegur Kam Hong dan setiap kali ditegur, dia merasa tidak senang, apalagi kini ditegur di depan banyak orang, di depan Yu Hwi terutama sekali. Dia ingin marah, akan tetapi tidak berani karena dia tahu bahwa kalau dia marah terhadap Kam Hong di depan banyak orang, hal itu akan merendahkan nama Kam Hong yang baru saja keluar sebagai pemenang. Maka dia pun lalu duduk diam saja di dekat Kam Hong, bibirnya yang merah mungil itu agak meruncing.

"Saudara Cu, kiranya sudah sepatutnya kalau sekarang Sam-wi menceritakan kepadaku tentang keluarga Cu yang tinggal di Lembah Suling Emas ini...." Kam Hong berkata kepada Cu Han Bu karena memang dia ingin sekali mendengar riwayat keluarga yang amat lihai ini dan ingin tahu apa hubungan mereka dengan Suling Emas. "Setelah itu, baru saya akan menceritakan tentang keluarga Pendekar Suling Emas."

Cu Han Bu mengangguk, lalu dia memandang ke arah Yu Hwi dan Ci Sian. "Riwayat keluarga kami adalah rahasia kami, tidak boleh didengar oleh orang lain. Engkaulah orang pertama yang akan mendengarnya, Saudara Kam Hong, Yu Hwi, biarpun engkau seorang luar, namun mengingat akan hubunganmu dengan Kang-te, berarti engkau merupakan calon keluarga juga, maka engkau boleh mendengarnya. Hanya Nona ini...." Dia memandang Ci Sian dengan ragu-ragu.

"Dia adalah keponakanku dan juga boleh dianggap adik seperguruanku, maka kalau aku boleh mendengar, dia pun berhak mendengar pula." Kam Hong berkata cepat-cepat karena dia tahu bahwa kalau sampai dara ini dilarang ikut mendengar, Ci Sian tentu akan marah dan entah apa yang akan dilakukan kalau dia marah. Dalam tempat seperti itu, dia tidak ingin membiarkan Ci Sian berpisah dari sampingnya, karena hal itu akan amat membahayakan keselamatannya.

Mendengar ini, lenyaplah sama sekali rasa tidak senang dari hati Ci Sian oleh teguran Kam Hong tadi. Dia tersenyum dan memandang kepada pihak tuan rumah dengan sinar mata menantang!

Cu Han Bu menarik napas panjang. "Kalau begitu baiklah, karena dia Saudara Kam Hong yang menanggung. Nah, dengarkanlah cerita singkat dari keadaan keluarga kami, terutama yang bersangkutan dengan Suling Emas." Mulailah pendekar yang menyembunyikan diri di lembah itu bercerita tentang keluarganya.

Menurut cerita turun-temurun dalam keluarga itu, Cu Han Bu dan keluarganya mendengar bahwa seorang di antara nenek moyang mereka pada seribu tahun lebih yang lalu adalah seorang pangeran bernama Cu Keng Ong yang melarikan diri dari kota raja karena berselisih dengan kaisar. Cu Keng Ong ini mengasingkan diri ke lembah Kongmaa La di Pegunungan Himalaya itu bersama keluarganya dan hidup sebagai pertapa dan petani di tempat ini. Cu Keng Ong adalah seorang pangeran yang berilmu tinggi, selain pandai ilmu silat juga ahli dalam hal kerajinan tangan, terutama mengukir dan membuat benda-benda dari pada emas. Ketika berada dalam pengasingan ini, Cu Keng Ong bahkan memperdalam ilmu-ilmunya dari para pertapa di Himalaya sehingga akhirnya dia menjadi seorang manusia yang amat lihai, akan tetapi yang selalu menyembunyikan diri dan hidup tenteram dalam lembah itu.

Karena kehidupan di lembah itu sama sekali tidak memerlukan emas, maka Cu Keng Ong lalu mengumpulkan semua emas yang mereka bawa sebagai bekal, kemudian dia melebur emas itu dan dibuatlah sebatang suling emas yang amat baik, bukan saja indah bentuknya akan tetapi terutama sekali dengan ukuran-ukuran sempurna sehingga akan mengeluarkan bunyi yang amat indah kalau dimainkan. Karena Cu Keng Ong seringkali bertiup suling di lembah itu, dengan suling emasnya, dan suara sulingnya terdengar sampai jauh ke luar lembah, maka mulailah lembah itu diberi nama Lembah Suling Emas!

"Demikianlah asal-usul nama lembah ini menurut dongeng keluarga kami." Cu Han Bu melanjutkan. "Akan tetapi sayang, menurut dongeng keluarga turun-temurun itu, tidak ada lanjutan tentang nenek moyang kami yang bernama Cu Keng Ong itu dan suling emas itu pun tidak ada pada keluarga kami lagi. Yang ada hanyalah suling emas ini yang dibuat oleh seorang nenek moyang kami kemudian yang bernama Cu Hak dan yang juga ahli dalam pembuatan benda-benda dari emas dan baja. Kakek buyut Cu Hak itu kabarnya hanya membuat suling ini disesuaikan dengan cerita keluarga itu tentang bentuk suling emas aseli buatan Cu Keng Ong. Dan di samping suling ini, juga keluarga kami mewarisi ilmu silat yang menjadi pasangan dari suling ini, yaitu ilmu silat yang disebut Kim-siauw Kiam-sut dan yang telah kumainkan dengan sabuk emas karena saya lebih biasa berlatih dengan sabuk emas itu. Akan tetapi ternyata Saudara Kam Hong juga mainkan ilmu itu dengan suling emasnya, bahkan lebih sempurna daripada saya!" Han Bu menarik napas panjang.

Diam-diam Kam Hong terkejut sekali dan saling lirik dengan Ci Sian. Kedua orang ini setelah mendengar riwayat keluarga Cu, dapat menduga bahwa kakek kuno yang jenazahnya mereka temukan itu tak salah lagi tentulah Cu Keng Ong adanya! Akan tetapi mereka diam saja dan mendengarkan terus.

Cu Han Bu melanjutkan ceritanya. Nenek moyang yang bernama Cu Keng Ong itu menurut berita keluarganya telah lenyap, dan ada berita bahwa kakek itu mengawetkan jenazahnya dan jenazah itu mengandung rahasia ilmu keluarga mereka yang paling tinggi. Sejak turun-temurun, keluarga Cu berusaha mencari jenazah kakek Cu Keng Ong ini, akan tetapi tanpa hasil. Juga suling emas buatan Pangeran Cu Keng Ong itu lenyap dari keluarga Cu. Hanya bentuk-bentuk suling dan warisan turun-temurun sampai tiga orang kakak beradik Cu ini.

"Karena merasa khawatir bahwa suling pusaka itu akhirnya lenyap sama sekali, kami pernah melakukan penyelidikan. Dan kami mendengar bahwa suling itu terjatuh ke tangan Pendekar Suling Emas beberapa ratus tahun yang lalu. Kami berusaha untuk mendapatkan keturunannya, namun usaha kami sia-sia saja, seolah-olah keluarga Suling Emas itu sudah musnah dan bersama namanya terbawa lenyap pula, agaknya Saudara Kam Hong telah mempelajari ilmu-ilmu keluarga kami dengan lebih sempurna daripada yang kami warisi sendiri!" Ucapan terakhir itu keluar dengan nada penuh rasa penasaran.

Kam Hong dapat merasakan ini dan dapat mengerti mengapa pihak tuan rumah merasa penasaran dan diam-diam dia pun merasa kasihan. Kini mengertilah dia mengapa keluarga Cu ingin sekali mengalahkan dia dan merasa amat penasaran ketika tidak berhasil, karena itu berarti bahwa keluarga itu dikalahkan orang dengan mempergunakan senjata pusaka dan ilmu pusaka keluarga mereka sendiri! Biarpun dia tahu bahwa hal itu bukan kesalahannya, namun dia merasa sedikit bahwa dia seolah-olah menjadi pencuri pusaka dan ilmu keluarga Cu.

"Nah, demikianlah riwayat keluarga kami yang berhubungan dengan suling emas, Saudara Kam. Sekarang harap Saudara ceritakan tentang keluarga Saudara yang mempergunakan nama Suling Emas, agar kami mengerti bagaimana duduk perkaranya." kata Han Bu.Kam Hong menghela napas. Dia harus menceritakan semuanya agar mereka ini tidak merasa penasaran dan menganggap bahwa keluarganya adalah pencuri-pencuri pusaka dan ilmu! Setelah memandang ke arah wajah tiga orang kakak beradik she Cu yang duduk dihadapannya itu,

Kam Hong lalu berkata, "Julukan Suling Emas dipakai oleh nenek moyangku yang bernama Kam Bu Song dan beliau pulalah yang pertama-tama memiliki suling emas ini yang menurut cerita keluarga kami diterimanya dari sastrawan besar Ciu Bun di Pulau Pek-coa-tho (Pulau Ular Putih). Kemudian suling emas ini secara turun-temurun dimiliki oleh keluarga Kam dan memang pada akhir-akhir beberapa keturunan ini sampai kepada saya, keluarga kami menyembunyikan diri. Demikianlah riwayat suling emas ini dan dapat kujelaskan bahwa suling emas ini kumiliki dari warisan nenek moyang yang sudah tujuh ratus tahunan lamanya, dan kakek besar Kam Bu Song itu pun menerima dari pemberian yang syah, bukan mencuri. Dan sekarang tentang ilmu yang baru saja kupergunakan untuk menghadapi Saudara Cu Han Bu."

Tiga orang kakak beradik itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka dapat percaya keterangan itu dan mereka menduga bahwa tentu suling yang hilang itu akhirnya, entah secara bagaimana tak ada seorang pun mengetahui, terjatuh ke tangan sastrawan Ciu Bun itu dan diberikan kepada Pendekar Suling Emas. Dengan demikian, keluarga pendekar itu memang berhak memilikinya. Kini mereka ingin sekali mendengar bagaimana Kam Hong dapat mainkan Ilmu Silat Kim-siauw Kiam-sut dan ilmu meniup yang merupakan ilmu pusaka keluarga mereka dengan demikian baiknya, lebih baik daripada yang mereka miliki.

"Tadinya saya hanya mewarisi ilmu-ilmu pusaka keluarga kami yang tidak Sam-wi kenal, yaitu ilmu-ilmu yang saya pakai ketika menghadapi Saudara Cu Kang Bu tadi. Sedangkan ilmu Kim-siauw Kiam-sut yang saya mainkan dengan suling ketika menghadapi Saudara Cu Han Bu tadi, juga ilmu meniup suling baru saja saya pelajari selama kurang lebih empat tahun baru-baru ini, yaitu kupelajari dari catatan terdapat pada jenazah kuno yang kami temukan...."

"Ahhhh....!" Tiga orang gagah itu bangkit berdiri dan muka mereka pucat, mata mereka terbelalak karena kaget.

"Jadi engkau malah yang telah menemukan jenazah Kakek Cu Keng Ong leluhur kami itu....?" Cu Kang Bu bertanya dengan suara yang mirip bentakan.

Kam Hong mengangguk tenang. "Munkin saja jenazah itu jenazah Cu Keng Ong seperti yang kalian ceritakan tadi. Saya tidak tahu benar, hanya saya tahu dari catatan di tubuhnya bahwa dia adalah pembuat suling emas dan siapa yang dapat menemukan jenazahnya dianggap berjodoh untuk mewarisi ilmunya...."

"Celaka....!" Cu Seng Bu berseru nyaring dan penuh dengan penyesalan, dan dia sudah meloncat ke depan. Akan tetapi Cu Han Bu cepat memegang lengannya dan memandang adiknya dengan sinar mata tajam penuh teguran.

"Seng-te, bukan demikian sifat keluarga kita! Kita harus dapat mengendalikan diri dan tidak memalukan leluhur kita!" Kemudian Cu Han Bu menoleh kepada Kam Hong sambil berkata, "Sungguh aneh sekali mengapa suling pusaka dan ilmu pusaka keluarga kami dapat terjatuh semuanya kepadamu, Saudara Kam Hong. Maukah kau menceritakan tentang jenazah leluhur kami itu?"

"Terjadinya secara kebetulan. Saya dan Ci Sian diserang gunung salju longsor sehingga kami hampir saja tewas. Di antara gumpalan-gumpalan salju longsor itu, kami menemukan jenazah kuno itu dan setelah kami selidiki, jenazah mengandung tulisan-tulisan yang mewariskan ilmu-ilmu itu kepada kami. Karena kami dianggap sebagai jodoh yang berhak mewarisi Ilmu, dan karena di situ tidak disebut-sebut tentang keluarga di sini, maka tentu saja saya mempelajari ilmu-ilmu itu dan saya tidak merasa bersalah sedikit pun. Apalagi diingat bahwa suling emas buatan kakek itu juga telah menjadi milik keluarga sejak ratusan tahun! Nah, kupelajari ilmu-ilmu itu selama hampir lima tahun, dan sekarang saya ketahui siapa guru saya yang ternyata bernama Cu Keng Ong dan menjadi leluhur penghuni lembah ini...."

"Dan kau pergunakan pusaka dan ilmu itu untuk mengalahkan kami!" Cu Kang Bu berteriak lalu menutupi muka dengan kedua tangan. Pendekar tinggi besar yang gagah perkasa ini menangis tanpa bersuara! Yu Hwi yang duduk di sampingnya lalu memegang tangannya dari kedua tangan mereka saling genggam. Melihat ini, diam-diam Kam Hong merasa terharu juga dan dia merasa terheran-heran mengapa sebelum dia bertemu dengan Yu Hwi, seringkali dia amat merindukan dara itu, seringkali membayangkan wajahnya yang manis dan membayangkan kemesraan bersama calon isterinya itu! Akan tetapi sekarang, setelah bertemu dengan Yu Hwi, melihat Yu Hwi bermesraan dengan pria lain, dia tidak merasa cemburu atau sakit, walaupun pada pertama kalinya dia merasa penasaran dan marah. Apakah yang menyebabkan kedinginan terhadap Yu Hwi itu, dan perbedaan yang amat jauh antara dahulu ketika dia masih merindukan Yu Hwi dan sekarang?

Tiba-tiba dia merasa ada tangan halus menyentuh lengannya. Dia menoleh dan memandang wajah Ci Sian yang jelita dan pada saat dua pasang mata mereka saling bertemu sinar pandangan, Kam Hong melihat kenyataan yang amat mengejutkan hatinya. Bayangan Yu Hwi itu kiranya telah lama lenyap dari lubuk hatinya, terganti sepenuhnya oleh bayangan Ci Sian! Dia telah jatuh cinta kepada Ci Sian semenjak lama, semenjak Ci Sian masih merupakan seorang dara tanggung empat tahun yang lalu! Dan kini, Ci Sian telah menjadi seorang dara cantik jelita berusia tujuh belas tahun! Kenyataan yang nampak jelas olehnya itu membuat jantungnya berdebar tegang.

"Paman, mari kita pergi dari sini...." Ci Sian berkata halus dan ucapannya itu membuyarkan dunia mimpi aneh dan Kam Hong yang tadi seperti terpesona oleh kenyataan itu.

"Baik, mari kita pergi...." kata Kam Hong yang memegang tangan Ci Sian dan bangkit berdiri. Sejenak Kam Hong memandang ke arah Yu Hwi, lalu berkata, "Nona Yu, demi untuk kebaikan namamu sendiri, seyogianya kalau engkau pulang dan menerangkan kepada Suhu Yu Kong Tek akan keputusan yang kauambil agar pertalian jodoh antara kita itu dapat dibatalkan atau diputuskan secara resmi."

Yu Hwi membalas pandang mata Kam Hong, lalu menoleh kepada kekasihnya yang masih menunduk, kemudian dia berkata dengan suara lembut kepada Kam Hong, tidak berani lagi memandang rendah bekas tunangan itu yang ternyata telah menjadi seorang yang memiliki kesaktian hebat. "Baiklah, sekali waktu aku akan mengunjungi Kong-kong."

Setelah menerima janji ini, Kam Hong lalu menarik tangan Ci Sian diajak keluar dari gedung itu. Tidak ada seorang pun yang bergerak menghalangi, dan dengan langkah-langkah tenang mereka keluar dari dalam gedung. Akan tetapi ketika mereka tiba di pintu gerbang depan, nampak bayangan tiga orang berkelebat dan ternyata tiga orang kakak beradik she Cu itu telah berdiri di depan mereka, wajah mereka pucat.

"Hemm, apa lagi yang kalian kehendaki?" Kam Hong bertanya dengan berkerut, siap untuk menghadapi mereka kalau saja mereka hendak menggunakan kekerasan.

Cu Han Bu melangkah maju dan menjura sambil berkata. "Saudara Kam Hong, kami hanya hendak bertanya di mana kautemukan jenazah nenek moyang kami itu. Kiranya itu adalah hak kami untuk menanyakan di mana adanya jenazah leluhur kami."

"Tentu saja, akan tetapi sayang sekali, jenazah kuno itu telah kubakar...."

"Dibakar....?" terdengar Seng Bu dan Kang Bu berteriak.

"Benar, sesuai dengan tulisan pesanan terakhir pada tubuh beliau. Jenazah itu telah kubakar menjadi abu dan kukubur di tempat itu."

"Ahhhh....!" Tiga orang itu saling pandang dengan muka putus asa. Tadinya mereka mempunyai harapan untuk menemukan jenazah leluhur itu untuk dapat mempelajari ilmu pusaka keluarga mereka, akan tetapi harapannya itu hancur sama sekali mendengar betapa jenazah itu telah dibakar oleh Kam Hong.

Dengan hati duka penuh kekecewaan Cu Han Bu mengepal tinjunya, lalu berkata dengan suara mengandung geram kekecewaan dan kemarahan. "Nenek moyang kami Cu Keng Ong itu telah mewariskan suling emas dan ilmu pusakanya kepadamu. Baiklah, mulai sekarang kami tidak akan memakai lagi nama Lembah Gunung Suling Emas, melainkan kami ganti menjadi Lembah Gunung Naga Siluman! Dan kautunggulah, Kam Hong, biarpun engkau telah mewarisi ilmu yang tadinya menjadi milik keluarga kami, akan tetapi kami masih mempunyai ilmu pusaka yang lain, yang diciptakan oleh Toa-pek kami sendiri. Kelak akan tiba saatnya bahwa Ilmu Kim-siauw Kiam-sut itu akan dikalahkan oleh ilmu keluarga kami, yaitu Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman)!"

Kam Hong menarik napas panjang dan menjura. "Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga. Perkenankanlah kami pergi dari sini."

Cu Han Bu dapat mengatasi kekecewaannya. Melihat sikap tamunya yang cukup hormat dan tidak merasa tinggi hati oleh kemenangannya itu, dia pun menarik napas panjang dan balas menjura, "Saudara Kam Hong, maafkan sikap kami yang kecewa karena nasib telah mempermainkan kami yang kehilangan benda pusaka dan ilmu pusaka ini. Mari kuantar kalian sampai ke jembatan tambang." Setelah berkata demikian, Cu Han Bu seorang diri saja lalu menemani Kam Hong dan Ci Sian menuju ke tepi jurang yang amat curam itu. Ketika mereka tiba di tepi jurang, Cu Han Bu memandang ke arah para penjaga jembatan itu dan bertanya dengan tegas.

"Apakah kalian tadi melihat Nona di sini?"

Para penjaga nampak ketakutan mendengar pertanyaan itu. Seorang di antara mereka, kepala jaga, lalu memberi hormat dan menjawab, "Harap ampunkan kami....  tadi Cu-siocia (Nona Cu) memaksa kami untuk memasang tambang dan dia telah menyeberang. Kami tidak berani menolak permintaannya."

Dalam keadaan biasa, tentu Cu Han Bu akan menjadi marah dan melakukan mengejaran kepada puterinya. Akan tetapi saat itu hatinya sedang kesal dan murung, maka dia pun tidak peduli lalu memberi tanda agar jembatan tambang itu diangkat dan membiarkan dua orang tamunya menyeberang.

"Silakan, Saudara Kam Hong." Cu Han Bu mempersilakan ketika jembatan tambang itu sudah diangkat dan membentang lurus menyeberang jurang.

Melihat tambang itu dan membayangkan betapa dia dan Kam Hong berdua harus menyeberang meninggalkan tuan rumah yang berada dalam keadaan marah, kecewa dan penasaran itu, hati Ci Sian tentu saja merasa ngeri sekali. "Nanti dulu, Paman Kam Hong" katanya menahan lengan pendekar itu yang sudah siap menyeberang. "Berbeda dengan ketika kita datang sebagai tamu, kini kita pergi sebagai orang-orang yang dimusuhi dan tidak disukai, dan kalau ketika datang kita menyeberang bersama mereka, kini kita harus menyeberang berdua saja. Bagaimana kalau selagi tiba di tengah-tengah jembatan, tambang ini lalu dibikin putus olehnya?"

Kam Hong terkejut sekali mendengar kelancangan ucapan Ci Sian ini, akan tetapi tiba-tiba Cu Han Bu sudah mengeluarkan teriakan nyaring dan pendekar itu mengangkat tangan kanan ke atas. Kam Hong sudah siap untuk melindungi Ci Sian, akan tetapi pria yang kini matanya melotot dan mukanya menjadi merah itu menurunkan tangan kanannya dan mencengkeram jari kelingking tangan kirinya sendiri. Terdengar bunyi tulang patah dan darah mengucur ketika jari kelingking tangan kirinya sendiri itu telah remuk dan lenyap setengahnya! Ci Sian terbelalak memandang dengan muka pucat.

"Nona.... kau.... kau sudah berkali-kali terlalu menghina kami!" Cu Han Bu berkata, matanya masih melotot dan napasnya agak terengah menahan marah. "Kalau tidak melihat muka Saudara Kam Hong, aku tentu sudah membunuhmu! Akan tetapi kalau lain kali kita bertemu kembali, aku takkan dapat mengampunimu lagi!"

Ci Sian merasa ngeri, bukan hanya melihat sikap orang itu, akan tetapi juga melihat jari kelingking yang hancur dan masih meneteskan darah segar itu. Akan tetapi pada saat itu, Kam Hong sudah menarik tangannya dan mengajaknya meloncat ke atas tambang dan dengan cepat berlari ke seberang. Setelah mereka dengan selamat meloncat ke daratan di seberang, tambang itu lalu diturunkan kembali dan lenyap di dalam kabut. Legalah rasa hati Ci Sian setelah mereka selamat sampai ke darat.

"Ci Sian, mengapa engkau begitu lancang mulut sehingga membikin marah Cu Han Bu seperti itu? Lain kali engkau harus berhati-hati kalau bicara, jangan menurutkan hati dan pergunakan kebijaksanaan."

Ci Sian kaget, sejenak dia menatap wajah Kam Hong karena suara teguran itu benar benar dirasakan amat pedas dan menusuk, dan tiba-tiba dia menangis. Bukan menangis manja, melainkan menangis sedih sekali. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, ayahnya yang diharapkannya itu ternyata mengecewakan hatinya dan dia tidak mungkin hidup di samping ayahnya yang telah mempunyai isteri begitu banyak. Kini tinggal Kam Hong seoranglah yang dianggapnya sebagai pelindung dan orang terdekat, dan sekarang.... Kam Hong agaknya marah-marah dan tidak senang kepadanya. Karena sedih, maka dia menangis.

Melihat Ci Sian menangis, Kam Hong menggeleng-geleng kepala, lalu menghampiri dan memegang pundaknya. "Sudahlah, kenapa kau malah menangis?"

Akan tetapi Ci Sian menarik pundaknya dari sentuhan Kam Hong, lalu di antara isaknya dia berkata. "Dia orang jahat.... hu-huuh, dia mengancam untuk membunuhku, kau.... kau peduli apa? Aku.... aku hanya membikin susah padamu saja...."

Kam Hong menyambar lengan dara itu dan menariknya dekat, "Kau marah oleh teguranku tadi? Ci Sian, ingatlah, aku menegur demi kebaikanmu! Dan selama ada aku di sampingmu, takkan ada seorang pun yang boleh mengganggumu! Akan tetapi.... ada waktunya berkumpul tentu akan datang saatnya berpisah, dan karena itu engkau harus mempelajari ilmu yang kita temukan itu dengan tekun agar kelak engkau akan mampu menjaga diri sendiri kalau terancam oleh lawan yang lihai."

Ci Sian mengangkat muka memandang wajah itu. "Kau.... kau tidak marah kepadaku, Paman?"

Terpaksa Kam Hong tersenyum dan menggeleng kepala. "Aku tidak marah, aku menegur agar engkau sadar bahwa hal itu berbahaya bagimu sendiri."

Ci Sian merangkul pundak dan menyembunyikan mukanya di dada Kam Hong. "Paman.....aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali engkau, maka janganlah kau marah padaku...."

Kam Hong mendekap dan sejenak hatinya merasa amat terharu, kemudian berdebar aneh ketika menyadari betapa dia mendekap dara remaja itu. Teringat akan ini cepat-cepat dia dengan halus melepaskan dekapannya dan mendorong tubuh dara itu menjauh sambil berkata, "Sudahlah, mari kita mulai berlatih. Engkau telah mulai maju dalam latihan gin-kang menurut ilmu penghimpunan khi-kang dari tiupan suling, maka mari kita lanjutkan latihan gin-kang itu. Mari kita lari ke puncak bukit di depan itu dan pergunakan semua tenagamu."

"Baik, Paman, mari kita berlumba!" Ci Sian sudah melupakan kesedihannya. Air matanya masih belum kering, kedua pipinya masih basah, akan tetapi bibirnya yang manis itu telah tersenyum lagi ketika dia mulai meloncat dan lari ke depan dengan cepat seperti seekor kijang betina muda yang bahagia. Kam Hong tersenyum dan dia pun mengejar, maka berlarianlah dua orang itu menuju ke puncak bukit di depan.

Ketika dia berlari-lari di samping Ci Sian, Kam Hong seolah-olah mendengar suara nyanyian yang timbul dari perasaan hatinya sendiri, yang membuat dia merasa demikian senang. Dia sendiri merasa heran sekali dan dia masih dalam keadaan meraba-raba dan menduga-duga apakah ini yang dinamakan cinta asmara? Benarkah dia jatuh cinta kepada Ci Sian? Pertanyaan ini selama ini selalu berbisik di dalam hatinya dan dia belum berani menentukannya. Dahulu, sebelum dia bertemu dengan Ci Sian, dia selalu menganggap bahwa dia mencinta calon isterinya, Yu Hwi, sungguhpun antara dia dan Yu Hwi belum pernah terjadi perhubungan yang akrab, bahkan ketika Yu Hwi mendengar akan pertunangan itu, Yu Hwi lalu melarikan diri, hal itu juga membuktikan bahwa Yu Hwi tidak setuju dengan perjodohan itu dan berarti pula tidak cinta kepadanya. Akan tetapi, karena adanya ikatan jodoh itu membuat dia selalu mengenangkan Yu Hwi, kenangan yang luar biasa karena dia mula-mula mengenal Yu Hwi sebagai seorang pemuda bernama Kang Swi Hwa (baca cerita JODOH SEPASANG RAJAWALI), dan dialah yang membuka rahasia Kang Swi Hwa itu sebagai seorang gadis ketika dia hendak mengobati "pemuda" itu dan melihat bahwa pemuda itu mempunyai dada seorang dara! Kenangan inilah yang mengingatkan dia akan Yu Hwi sebagai seorang wanita, lebih lagi sebagai seorang calon isterinya, kenangan yang lucu, mesra dan aneh. Ini pula agaknya yang membuat dia merasa selalu rindu kepada Yu Hwi dan ini pula yang membuat dia mengira bahwa dia mencinta Yu Hwi.

Akan tetapi, semenjak dia bertemu dengan Ci Sian beberapa tahun yang lalu, sejak Ci Sian hanya seorang dara cantik berusia tiga belas tahunan, ada sesuatu di dalam hatinya yang melekat kepada dara ini. Kini, setelah berjumpai kembali dengan Ci Sian sebagai seorang dara yang sudah dewasa, dia merasa seolah-olah Yu Hwi hanya merupakan bayangan mati dan kini terganti oleh seorang dara yang benar-benar hidup dan yang membutuhkan perlindungannya! Apalagi setelah dia berjumpa sendiri dengan Yu Hwi dan menyaksikan sikap calon isterinya itu, bayangan lama tentang Yu Hwi itu seketika lenyap sama sekali dan dia merasa gembira! Kalau dulu dia tidak berani memikirkan bahwa dia tertarik kepada Ci Sian karena dia selalu ingat bahwa dia adalah seorang pria yang sudah mempunyai calon isteri, jodoh yang sudah ditentukan sehingga haram baginya untuk menoleh kepada wanita lain, kini dia merasa seolah-olah dia telah terbebas dari belenggu ikatan itu. Dia telah bebas, sama bebasnya dengan Ci Sian. Inilah agaknya yang mendatangkan rasa senang sekali di saat dia lari di samping Ci Sian itu. Benarkah dia telah jatuh cinta kepada dara ini?

Dara yang memanggilnya paman, yang memang sepatutnya menjadi keponakannya? Dia tahu bahwa usia Ci Sian kurang lebih baru tujuh belas tahun, sedangkan dia sendiri sudah berusia dua puluh tujuh tahun! Pantaskah kalau dia jatuh cinta kepada dara remaja ini?

Akan tetapi, pada saat itu keraguan kecil ini segera lenyap seperti awan tipis terhembus angin. Dia merasa gembira, bahkan dia ingin berloncatan dan bermain-main seperti kembali menjadi anak-anak, atau setidaknya kembali menjadi semuda Ci Sian.

Cinta asmara memang sesuatu pengalaman hidup yang amat luar biasa bagi setiap orang manusia. Segala macam perasaan tercakup di dalamnya. Ada dorongan-dorongan yang timbul dari dalam, bukan dari pikiran, yaitu membuat kita merasa amat mesra, ingin selalu berdekatan, ingin selalu memandang, ingin selalu menyenangkan hatinya, ingin selalu mendengar suaranya. Ada sesuatu yang sukar diselidiki, yang timbul di luar kesadaran kita, sesuatu yang amat mengharukan, yang mendorong hati kita untuk condong bersatu dengan dia, takkan terpisah lagi, ada sesuatu yang lebih daripada sekedar kegembiraan, sekedar dorongan berahi belaka.

Akan tetapi, kalau kita tidak berhati-hati, pikiran yang selalu ingin mengejar kesenangan pribadi, baik kesenangan jasmani atau rohani, pikiran dapat menimbulkan bayangan-bayangan kenikmatan nafsu yang menjurus kepada nafsu berahi dan sekali nafsu menguasai batin, menjadi yang terpenting, maka akan cemarlah yang dinamakan cinta itu. Berahi adalah soal yang wajar, tuntutan jasmani, daya tarik antara pria dan wanita, yang alamiah karena dari daya inilah lahirnya keinginan untuk bersatu dan dari sinilah pula datangnya rahasia perkembangbiakan manusia, anak beranak. Daya tarik ini merupakan sesuatu yang wajar, tanpa ada unsur kesengajaan, karenanya alamiah dan gaib, dan hal itu tercakup pula dalam cinta. Akan tetapi, begitu nafsu berahi dipupuk oleh pikiran dengan dasar mencari kepuasan atau kenikmatan, akan rusaklah segala-galanya dan cinta menjadi sesuatu yang mungkin saja menimbulkan segala macam kerusakan, kekerasan, konfllk dan kesengsaraan. Cinta yang sudah dicengkeram dan dikuasai oleh nafsu berahi itu, yang pada hakekatnya adalah nafsu keinginan menyenangkan dirl sendiri belaka, akan menimbulkan cemburu, ingin menguasai, bahkan dapat berbalik menjadi benci kalau keinginan menyenangkan dirinya sendiri itu terhalang.

Akan tetapi, kalau pikiran membentuk nafsu keinginan menyenangkan diri sendiri itu tidak mencampuri, tidak mengotori, yang tinggal hanyalah kewajaran cinta yang amat indah, cinta yang sinarnya memenuhi seluruh jagat dan menembus ke lubuk hati setiap orang manusia, yang getarannya menghidupkan segala sesuatu yang nampak maupun yang tidak nampak. Kalau sudah ada sinar dan getaran cinta itu, maka tidak ada lagi persoalan, segala sesuatu menjadi indah dan suci, bahkan berahi pun menjadi sesuatu yang indah dan suci, cinta asmara antara seorang pria dan seorang wanita pun menjadi sesuatu yang indah dalam sinar cinta kasih.

Pada saat Kam Hong berlari-larian dengan Ci Sian itu, sinar cinta kasih menerangi hatinya, mendatangkan perasaan yang amat luar biasa, kebahagiaan yang tidak terpisah dari alam, dari segala-galanya yang nampak, batinnya begitu penuh dengan kebebasan dan keheningan, yang ada hanya rasa bahagia itu saja, yang lain-lain tidak ada lagi! Kiranya setiap orang pernah merasakan hal ini, namun sayang, hanya sekilas saja karena batin sudah diserbu lagi oleh keinginan-keinginan memuaskan diri dengan kesenangan-kesenangan. Bahkan rasa bahagia itu pun lalu berubah menjadi kesenangan yang dikejar-kejar! Sayang!

Ketika mereka tiba di puncak bukit, tiba-tiba Ci Sian yang agak terengah-engah karena memang tenaganya belum kuat benar dan dia tadi telah mengerahkan terlalu banyak tenaga, berhenti berlari dan menuding ke depan. Keringat halus memenuhi leher dan dahinya. Kam Hong ikut memandang ke depan dan nampaklah olehnya seorang pemuda di atas lereng bukit di depan, lalu pemuda itu berhenti dan muncul dua orang kakek. Agaknya terjadi percekcokan dan pemuda itu berkelahi dengan dua orang kakek. Akan tetapi hanya dalam waktu singkat, pemuda itu kena ditawan, agaknya pingsan lalu dipanggul oleh seorang di antara dua kakek itu dan dibawa pergi.

"Dia itu Cu Pek In....!" kata Kam Hong. "Ci Sian, kautunggu saja di sini, aku harus mengejar mereka dan menolong Nona Cu!" setelah berkata demikian, sekali berkelebat saja Kam Hong telah pergi dan lenyap dari situ, mengejar ke depan, turun dari puncak bukit itu.

Ci Sian juga mengenal bahwa pemuda yang ditawan oleh dua orang kakek itu adalah Cu Pek In, gadis puteri majikan Lembah Suling Emas atau yang kini dirobah namanya menjadi Lembah Naga Siluman, merasa tidak enak ditinggal sendirian saja di puncak bukit yang sunyi itu. Maka dia pun lalu mengerahkan tenaganya ikut lari mengejar turun dari puncak itu. Akan tetapi, ternyata dua orang kakek itu sudah tidak nampak lagi bayangan mereka dan juga Kam Hong sudah lenyap sehingga Ci Sian menjadi bingung, akan tetapi dia masih terus mengejar, lari turun bukit menuju ke bukit di mana tadi Pek In dan dua orang kakek itu nampak.

Dengan napas terengah-engah dan tubuh basah oleh keringat akhirnya Ci Sian terpaksa berhenti di lereng bukit itu karena dia merasa bingung. Dia tidak tahu ke mana larinya dua orang kakek yang menawan Cu Pek In tadi, juga tidak lagi melihat bayangan Kam Hong yang mengejar mereka. Dia juga tidak tahu apakah dia tidak tersesat jalan. Dia merasa bingung dan khawatir. Membayangkan bahwa dia akan terpisah selamanya dari Kam Hong, ingin rasanya dia menangis dan ingin dia berteriak-teriak memanggil nama Kam Hong. Akan tetapi dia menahan diri. Dia merasa malu kalau harus berteriak-teriak memanggil, apalagi baru saja Kam Hong telah menegurnya. Dia tidak akan sembarangan lagi membuka mulut. Pula, Kam Hong adalah seorang pendekar yang memiliki kesaktian hebat, apa sukarnya bagi pendekar itu untuk mencari dan menemukannya? Dia harus bersikap tenang, seperti Kam Hong. Bukankah dia juga diakui sebagai adik seperguruan? Masa adik seperguruan Pendekar Suling Emas yang perkasa itu harus menjadi seorang gadis cengeng dan penakut?

Dengan pikiran itu yang merupakan hiburan baginya, pulih kemball semangat dan keberaniannya dan mulailah dia berjalan menuruni bukit itu dengan hati-hati sambil memasang mata, tidak lagi lari seperti tadi. Hari telah makin menua, matahari mulai kebarat, dan biarpun dia mulai merasa khawatir lagi, namun diberani-beranikan hatinya dan dia melangkah terus. Dia mendaki bukit penuh salju di depan karena dia melihat tapak kaki di atas salju tebal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar